
Seorang lelaki berkulit hitam tampak sedang gelisah di atas panggung kudanya di balik rerimbunan semak belukar.
Di belakang lelaki itu tampak ribuan prajurit mengatur posisi bersiap sedia dengan posisi kali di tekuk sebelah. Sedangkan di tangan masing-masing, terdapat busur dan anak panah yang siap dilepaskan kapan saja.
"Bagaimana Raka Pati dan Pratisara ini? Apakah mereka telah gagal menjebak prajurit kerajaan Galuh?" Pikir lelaki berkulit hitam itu dalam hati.
Sudah nyaris seharian penuh dia menunggu di tempat tersembunyi ini bagi menyergap pasukan prajurit kerajaan Galuh yang tadinya sesuai rencana akan di jebak oleh Raka Pati yang berpura-pura kalah. Namun, sampai matahari hampir tergelincir di ufuk barat, para prajurit itu pun masih belum juga kunjung tiba.
Dengan perasaan sedikit gusar di dalam hati, lelaki itu segera berpesan kepada para prajuritnya agar jangan kemana-mana sebelum dia tiba di tempat itu.
Sambil menghentakkan tumit kakinya di punggung kuda, lelaki itu pun segera melesat bersama dengan kudanya meninggalkan prajurit yang siap dengan anak panah masing-masing menuju tempat dimana dia dan Raka Pati pagi tadi berpisah.
Begitu dia tiba di bekas tapak perkemahan mereka tadi malam, kini dia melihat pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati sedang berada di tempat itu sambil bersiap sedia.
__ADS_1
Dengan penuh tanda tanya, lelaki itu segera menghampiri Raka Pati yang juga ikut kaget melihat kedatangannya.
"Bagaimana Kakang Raka Pati?" Tanya lelaki itu sebaik saja dia tiba di depan lelaki yang dia panggil dengan sebutan Kakang Raka Pati itu.
"Entahlah Gagak Ireng. Sepertinya Pratisara gagal dalam tugasnya," jawab Raka Pati sambil menghela nafas.
"Apakah Kakang ada mengirim mata-mata untuk memastikan bahwa Pratisara ini gagal?" Tanya Gagak Ireng.
"Sudah. Tapi mereka masih belum kembali," jawab Raka Pati.
"Seperti yang kita lakukan terhadap para prajurit Setra kencana dulu. Namun, ketika kami berpura-pura kalah dan melarikan diri, ada lima orang prajurit menunggang kuda yang menghalangi mereka. Aku juga mendengar bahwa telah terjadi pertengkaran diantara Pratisara dengan ke-lima prajurit yang baru saja tiba itu. Lalu, aku tidak tau lagi karena berhenti di sini agar tidak menimbulkan kecurigaan," kata Raka Pati pula menceritakan semua kejadian yang dia ketahui.
"Aneh sekali. Padahal pasukan Kakang jelas-jelas telah bertempur di luar benteng seperti yang kakang ceritakan. Tapi.., apakah Pratisara gagal?"
__ADS_1
"Itu lah yang belum aku ketahui. Seharusnya, dia sudah tiba dari tadi dengan berpura-pura melakukan pengejaran. Lalu aku akan berpura-pura kalah sekali lagi sampai pada aku berhasil menarik seluruh prajurit yang aku pimpin ke tempat persembunyian mu," kata Raka Pati.
"Firasat ku mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi terhadap Pratisara ini. Apa mungkin kelima prajurit yang baru tiba itu telah mengalahkan nya?" Tanya Raka Pati lagi menebak.
"Hanya lima prajurit biasa? Aku ragu mereka mampu melawan Pratisara, walaupun ada lima puluh orang prajurit maju sekaligus," kata Gagak Ireng pula membantah kekhawatiran dari Raka Pati.
"Lalu, bagaimana ini Kakang? Apakah kita berangkat menuju ke kadipaten Gedangan lalu melakukan serangan secara serentak setelah rencana kita ini gagal?" Tanya Gagak Ireng.
"Perintah dari Gusti Prabu Jaya Pradana belum turun. Apa kau mau di hukum?" Tanya Raka Pati.
Belum lagi Gagak Ireng berbicara lanjut, dari arah kadipaten Gedangan, kini terlihat dua orang prajurit yang ditugaskan oleh Raka Pati untuk meninjau keadaan di kadipaten Gedangan kini telah kembali. Namun bedanya, mereka yang tadinya hanya berdua kini kembali sambil menuntun seseorang yang tampak sangat lemah di punggung kuda berada di di tengah kedua prajurit tadi.
"Kakang.., coba kakang lihat! Bukankah itu adalah Pratisara?"
__ADS_1
Bersambung...