
Balai sema agung Keraton kerajaan Galuh.
Seorang lelaki yang saat itu mengenakan Zirah perang tampak duduk bersila di lantai balai sema agung. Di samping kiri dan kanannya tampak Adipati Rakai langit, Panembahan Ardiraja, Mahapatih Mahesa Galuh, Sadewa serta beberapa pembesar istana lainnya yang kini sedang menghadap Sri Baginda Gusti Prabu Rakai Galuh.
Lelaki yang lengkap berpakaian perang itu bernama Raden Danu. Dia bersama dengan seribu prajurit lainnya terlambat menggabungkan diri bersama pasukan yang dipimpin oleh Raja Setra kencana yang ketika itu terjebak oleh pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati, Gagak Ireng serta Wikalpa.
Karena menyadari seribu orang prajurit yang dia pimpin tidak mungkin bisa bertahan melawan lima puluh ribu pasukan lawan, memilih untuk melarikan diri ke kerajaan Galuh. Kemudian, melanjutkan perjuangan mereka membendung serangan yang akan dilancarkan oleh Jaya Pradana ke kerajaan Galuh ini.
Tak lupa, Raden Danu juga menceritakan bahwa saat ini pasukan yang dipimpin oleh Gagak Ireng telah berkemah di luar kadipaten Karang Kencana yang dipimpin oleh adik tiri sang Prabu Rakai Galuh yaitu Panembahan Ardiraja, yang langsung dibenarkan oleh Adipati Karang Kencana tersebut.
"Hmmm... Panggil Panglima Pratisara kemari!" Perintah dari sang Prabu.
"Ampun Gusti Prabu! Bukankah Gusti Prabu sendiri yang memerintahkan Panglima Pratisara untuk melatih pasukan kita di Kadipaten Gedangan?" Kata Mahapatih Mahesa Galuh mengingatkan.
"Oh!"
"Pikiranku saat ini benar-benar kacau. Sampai-sampai aku lupa bahwa panglima Pratisara sedang berada di kadipaten Gedangan," kata Gusti Prabu Rakai Galuh.
Keadaan memang benar-benar mencekam saat ini. Dia tidak tau lagi harus melakukan apa dalam keadaan genting seperti ini.
__ADS_1
"Apakah kalian memiliki buah pikiran yang akan kalian kemukakan? Jika ada, segera kemukakan dan aku akan menimbang-nimbang setiap masukan dari kalian semua!" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh mempersilahkan.
"Ampun Kanda Prabu," kali ini Adipati Rakai langit yang berbicara. "Menurut hamba, sebaiknya kita tarik seluruh rakyat yang berada di kadipaten Karang Kencana. Kemudian, kita dirikan benteng di kadipaten Gedangan untuk membendung pergerakan musuh. Kita tidak bisa mengambil resiko melawan pasukan Jaya Pradana secara terbuka. Saat ini kita hanya memiliki paling ramai Dua puluh ribu pasukan saja. Dengan begitu, kita pasti akan menjadi sasaran empuk bagi lima puluh ribu pasukan Jaya Pradana yang terkenal haus darah itu,"
Gusti Prabu Rakai Galuh tampak merenung sejenak mendengar pendapat dari Adipati Gedangan ini.
"Apakah ada bantahan?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh mempersilahkan kepada yang lainnya.
"Kanda Prabu. Sebenarnya berat bagi hamba untuk meninggalkan kadipaten Karang Kencana. Ini karena, hamba tidak ingin di cap sebagai Adipati yang pengecut. Hamba lebih baik mati di kadipaten yang hamba pimpin daripada harus melarikan diri," kata Panembahan Ardiraja sedikit tidak setuju dengan usulan dari Adipati Rakai langit tadi.
"Kakang Panembahan. Sebenarnya tidak ada pengecut di antara kita. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah bersatu. Kakang memiliki pasukan seramai dua ribu prajurit. Itu bukanlah lawan yang sepadan dengan kekuatan lawan. Coba kakang bayangkan jika pasukan yang kakang miliki luluh lantak di tangan musuh, berapa kerugian yang akan dialami oleh Kerajaan Galuh? Belum lagi rakyat kadipaten Karang Kencana yang akan diperbudak oleh mereka. Jika kita bersatu dan menempatkan kekuatan pada satu titik, akan sangat sulit bagi lawan untuk menghancurkan kita. Satu lidi akan sangat mudah dipatahkan. Namun ketika bersatu menjadi satu kesatuan, tidak akan mudah mematahkannya," kata Adipati Rakai langit menguatkan pendapat nya.
"Menurut hamba, semua yang kita lakukan adalah demi rakyat juga. Dalam medan perang, segala jenis taktik dan siasat bisa dipakai. Kita tentunya tidak ingin mati konyol hanya karena mempertahankan sebuah pengakuan yang menurut hamba sama sekali tidak penting dalam keadaan yang genting. Dinda Panembahan! Utamakan rakyat mu daripada sifat keras mu. Kerajaan Galuh membutuhkan orang seperti mu. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah saling bahu membahu, merapatkan barisan dan saling menyumbangkan tenaga. Hindari perpecahan diantara kita. Karena perpecahan akan membuka ruang kehancuran kepada kita, khususnya wangsa Galuh ini," kata Mahapatih Mahesa Galuh pula.
"Ampun Kakang Mahapatih dan Kanda Prabu. Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" Tanya Panembahan Ardiraja sedikit melunak.
"Sampaikan titah ku kepada seluruh rakyat Kerajaan Galuh. Setiap keluarga harus menyerahkan anak lelakinya untuk membantu perjuangan. Kita akan membangun benteng yang memanjang antara Kadipaten Gedangan dan bukit kapur. Dua malam kemudian, pindahkan seluruh rakyat di kadipaten Karang Kencana ke Kadipaten Gedangan. Berjalanlah pada waktu malam dan bersembunyi pada waktu siang. Ini agar perhatian musuh tidak mengarah kepada kita. Aku ingin memanfaatkan sekecil apapun kesempatan untuk menunda pergerakan mereka menyerang ke kerajaan. Segera laksanakan Titah ku!" Perintah dari Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata mereka serentak sambil menjura hormat.
__ADS_1
"Raden Danu! Andai kalian ingin membantu, kami akan sangat berterimakasih. Namun jika anda datang ke kerajaan Galuh hanya untuk mencari perlindungan, maka kalian akan dilayani sebagai tamu. Kami tidak akan memaksa kalian untuk membantu. Bagi kami, menghormati tamu adalah tradisi di kerajaan Galuh ini," kata Mahapatih Mahesa Galuh.
"Gusti Mahapatih. Sebenarnya kedatangan kami kemari bukan untuk berleha-leha saja. Kedatangan kami kemari ini adalah dengan tujuan untuk melanjutkan perjuangan. Kita akan bersama-sama dan saling bahu-membahu bagi mengatasi masalah ini. Izinkan kami membantu menyumbangkan tenaga bagi negri ini," kata Raden Danu pula.
"Sangat! Kami sangat menghargai segala sumbangan tenaga maupun pikiran dari mu,"
"Baiklah. Mari kita selesaikan pekerjaan kita!" Ajak Mahapatih Mahesa Galuh sambil memimpin semua yang berada di Balai sema agung itu untuk menghaturkan sembah.
"Yang mulia Gusti Prabu.., hamba sekalian mohon diri!" Kata mereka serentak.
"Hmmm... Restu ku bersama dengan kalian!" Jawab Gusti Prabu Rakai Galuh sambil merentangkan tangannya.
Mereka semua kini satu persatu mulai beringsut mundur kemudian meninggalkan aula pertemuan itu.
Kini, tinggal lah Sang Prabu tertunduk sambil memijit keningnya.
Mungkin beliau saat ini sedang memikirkan cara bagaimana untuk membendung serangan yang akan dilancarkan oleh Jaya Pradana ini. Atau, minimal bisa menunda penyerangan tersebut.
Jujur saja, Gusti Prabu Rakai Galuh ini bukanlah pengecut yang takut mati. Namun, yang jadi beban fikirannya saat ini adalah rakyat. Jika peperangan terjadi, maka yang pertama merasakan kekalahan adalah rakyat jelata.
__ADS_1
Bersambung...