Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Menjebak musuh


__ADS_3

Di malam gelap nan pekat tanpa sang rembulan yang sama sekali tidak menampakkan wujudnya, tampak empat sosok bayangan berkelebat saling susul diantara lebatnya pepohonan di pinggir hutan lembah jati tersebut.


Hanya ada suara bising jangkrik yang terdengar saling sahut mengiringi sosok yang berkelebat menggunakan ilmu peringan tubuh itu.


Setelah hampir tiba di bagian luar hutan, tampak seseorang yang mengenakan pakaian serba putih itu melesat memanjat sebatang pohon besar lalu mendekam di sana.


Begitu dia bersembunyi, tampak dari pohon sebelahnya tiga sosok tubuh lagi hinggap lalu merunduk hingga sama rata dengan dahan pohon.


Sekitar dua puluh tombak dari pohon tempat mereka bersembunyi itu, mereka melihat beberapa tumpuk api unggun dengan dikelilingi oleh orang-orang berpakaian prajurit.


Sejenak lelaki berpakaian putih tadi mengerahkan ajian tatar netra kemudian diikuti dengan ilmu pelacak nadi. Ini sengaja dia lakukan untuk memperjelas penglihatannya di malam buta itu sekaligus mampu mendengar apa saja yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada jauh darinya saat ini.


Lamat-lamat dia mendengar perbincangan antara prajurit bawahan dan prajurit kepala itu yang sedang membicarakan tentang sampai kapan mereka akan mengepung perbatasan antara desa Waringin dan lembah jati ini.


"Kakang. Sampai kapan kita akan terus di sini? Aku merasakan bahwa pekerjaan kita ini adalah pekerjaan yang sia-sia saja," kata prajurit pertama.


"Aku juga tidak tau kapan kita akan ditarik dari perbatasan desa Waringin ini. Yang jelas, kita harus tetap di sini sebelum perintah penarikan pasukan keluar gari Gusti Raka Pati," jawab prajurit ke dua.


"Aneh. Mengapa Gusti Raka Pati tidak menyuruh kita untuk menggempur hutan ini? Daripada begini, kami semua bosan kakang. Mana tidak ada wanita di sini untuk menghibur," kata prajurit pertama tadi, sambil mengeluh.


"Apa kau sudah bosan hidup? Mereka itu adalah perampok yang sangat berbahaya. Sebelum kita, sudah ada prajurit yang dikerahkan untuk memberantas gerombolan perampok itu. Tapi, semuanya tidak ada yang kembali. Entah bagaimana nasib mereka,"

__ADS_1


"Lalu, apa arti dari semua ini? Hanya begini terus menerus. Toh juga tidak ada yang bisa kita lakukan. Jumlah kita hampir dua ribu orang. Aku rasa, jika kita bergerak menggeledah hutan ini, kita pasti akan menemukan sesuatu,"


"Kalian sabar lah menunggu besok. Mungkin akan ada perintah yang datang dari kita raja. Setelah itu, baru bertindak," kata prajurit yang ke dua pula berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Baiklah Kakang. Sekarang kau tidur saja. Biar aku yang jaga," kata prajurit pertama tadi.


Setelah mencuri dengar perbincangan antara kedua prajurit tadi, kini sosok yang mengenakan pakaian serba putih itu mematahkan ranting pohon lalu melemparkannya ke arah tiga lagi sosok di pohon yang bersebelahan dengan pohon tempat persembunyiannya.


"Kakang Bayu.., kau dengar itu?" Tanya sosok yang berpakaian putih tadi.


"Dengar," jawab lelaki yang di tanya.


"Ayo kita kembali Kakang! Kita rundingkan lagi apa yang harus kita lakukan. Apakah menjebak mereka, atau menjebak mereka untuk memasuki hutan,"


Keempat sosok itu kini melesat kembali ke arah darimana tadi mereka datang lalu menghilang di balik kegelapan hutan yang semakin lebat.


*********


Pagi-pagi sekali, di bagian ruangan yang luas di dalam goa yang terdapat di bagian tebing batu jalan menuju ke perkampungan, tampak puluhan lelaki berpakaian hitam kini bersiap-siap untuk menjalankan rencana yang telah mereka diskusikan tadi malam.


Mereka kini memakai baju zirah tipis kemudian membalutnya dengan pakaian hitam lalu menyandang pedang masing-masing.

__ADS_1


Ruangan yang luar layaknya tempat penyimpanan itu tampak terang benderang dengan setiap obor yang terpancang di dinding semuanya dinyalakan. Hal ini membuat mereka bisa bebas mengambil apa saja perlengkapan tanpa harus meraba.


Setelah semuanya selesai, mereka lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu lalu tembus di bagian hutan di mana di sana sekitar dua ratus orang telah siap menunggu mereka.


"Kalian pilih kuda-kuda terbaik. Hal ini sangat diperlukan untuk kalian agar bisa bergerak cepat," kata seorang pemuda berpakaian serba putih dengan kain sutra kuning mengikat di pinggangnya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata mereka serentak.


"Paman Senopati, apakah semuanya telah siap?" Tanya sang Pangeran.


"Hamba Gusti. Semuanya sudah dipersiapkan," jawab Senopati Arya Prana.


"Baiklah. Semuanya bersiap sedia untuk menempati posisi masing-masing!"


"Siap Gusti Pangeran!" Jawab mereka.


Lalu kini sekitar dua ratus orang itu mulai menyebar ke berbagai arah. Ada yang melompat ke balik semak belukar, ada yang memanjat pohon, ada pula yang membuat barisan tersembunyi dengan masing-masing anak panah telah siap pada busurnya.


Melihat kesiapan ini, sang Pangeran diikuti oleh tiga orang lainnya mulai mengempos ilmu meringankan tubuhnya lalu melesat ke dinding tebing yang terdapat batu-batu besar di sana.


Kini, para lelaki berpakaian hitam yang baru keluar dari lorong masuk ke perkampungan tersembunyi itu telah datang kembali dengan menuntun kuda masing-masing lalu segera melompat naik.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka semua sudah menggebah kuda mereka masing-masing menuju ke arah perbatasan desa Waringin.


Bersambung...


__ADS_2