
Puluhan lelaki berseragam prajurit kadipaten Pitulung tampak menggebah kuda mereka sehingga menimbulkan kepulan debu yang langsung beterbangan terbawa angin lalu memasuki warung milik aki tua dimana Pangeran Indra Mahesa dan teman-temannya juga ada Senopati Arya Prana yang sedang menyamar sebagai saudagar tengah menikmati hidangan mereka.
Beberapa pasang mata tampak menatap ke arah prajurit yang seperti di kejar hantu itu dengan tatapan penuh kebencian. Namun, sebenci apapun mereka, tetap saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Oh Tuhan yang Maha Agung. Entah apa lagi yang akan terjadi," kata aki pemilik kedai tadi sambil keluar dari pintu kedainya dengan menyampirkan sehelai kain lap di pundaknya.
Berdirinya lelaki tadi tepat berdampingan dengan meja di mana Pangeran Indra Mahesa dan sahabatnya itu sedang duduk. Hal ini membuat sang Pangeran mau tak mau harus melontarkan pertanyaan kepada pemilik warung tersebut.
"Maaf Ki. Ada apakah sebenarnya?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Entahlah Den. Mereka itu adalah para prajurit di kadipaten Pitulung ini. Biasanya mereka jika sudah keluar beramai-ramai seperti itu, itu tandanya bahwa akan ada lagi warga yang mendapat hukuman," jawab sang pemilik warung.
"Sebenarnya ada apa di kadipaten ini Ki? Sepanjang perjalanan, kami terlalu banyak menemukan hal-hal yang sangat aneh. Mungkin aki bisa sedikit memberikan penjelasan kepada kami ini," kata Pangeran Indra Mahesa mencoba mengorek keterangan dari pemilik warung tersebut.
"Maaf Den mas. Sebenarnya, darimana kah anak mas ini berasal?" Tanya lelaki tua itu.
Wajar jika dia tidak mengenal keempat orang yang menjadi pelanggan baru nya itu. Ini karena, baru pertama kali ini lah dia melihat keempat orang ini. Sehingga wajar jika dia merasa heran mengapa mereka tidak mengetahui kekejaman yang telah dilakukan oleh penguasa kadipaten Pitulung ini kepada rakyatnya.
"Sebenarnya Ki, kami ini baru saja turun gunung. Aku berasal dari lereng gunung sumbing. Sahabat ku ini berasal dari padepokan jati Anom. Sedangkan gadis ini berasal dari Bukit batok dan puncak alam," jawab pangeran Indra sambil memperkenalkan diri kepada lelaki tua itu.
Lelaki tua itu tampak manggut-manggut tanda mengerti lalu memandang ke kiri dan ke kanan sebelum menjawab pertanyaan dari pemuda yang berada di sampingnya itu.
"Begini anak mas. Sebenarnya keadaan seperti ini telah terjadi sekitar tujuh belas tahun yang lalu ketika Raja Jaya Pradana memimpin pasukan dari kerajaan Paku Bumi untuk menyerang kerajaan Sri Kemuning ini. Sebenarnya dulu kami di sini hidup dengan sangat makmur dan sejahtera. Karena dulu, Raja yang memimpin di kerajaan Sri Kemuning ini sangat adil dan bijaksana. Namun semuanya berubah ketika kerajaan Sri Kemuning runtuh dan banyak para Adipati yang terbunuh termasuklah Gusti Adipati di kadipaten Pitulung ini yang dengan jelas tidak mau tunduk. Kemudian peperangan pun terjadi antara dua ribu pasukan kadipaten Pitulung melawan dua puluh ribu pasukan dari Paku Bumi. Sang Adipati berhasil dikalahkan dan dihukum mati di alun-alun kota raja,"
Lelaki tua itu menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan.
"Semenjak kematian Gusti Adipati, Raja tidak sah yaitu Jaya Pradana menempatkan Adipati penghisap darah bernama Adipati Aria Seta. Seperti yang anak mas lihat ini lah. Setiap hari ada saja yang di hukum baik itu hukuman mati ataupun di penjara. Asal tidak menurut perintah, maka hukumnya mati, dan paling tidak, dipenjara," jawab lelaki tua itu dengan tak henti-hentinya melirik ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Pantas saja kami melihat banyak perkampungan yang telah kosong ditinggal oleh warganya. Ternyata seperti itu," kata Bayu Gatra menyela.
"Lalu ki, siapakah orang berpakaian serba hitam tadi yang dengan baik hati memberikan uang Ringgit emas kepada aki?" Tanya Pangeran Indra.
"Oh. Itu.., itu.., itu..,"
"Kau sudah terlalu banyak berbicara Ki. Sekarang bereskan meja ku ini!"
Terdengar suara teguran dari meja dimana Senopati Arya Prana yang menyamar tadi.
Sang pemilik warung pun buru-buru meninggalkan meja dimana Pangeran Indra Mahesa sedang duduk dan bergegas membereskan meja milik Senopati Arya Prana.
Geram betul hati Gayatri melihat perlakuan dari lelaki parlente setengah baya itu. Rasanya dia ingin mencak-mencak melabraknya. Namun hal itu tidak jadi dia lakukan karena dari ujung tikungan tampak prajurit yang lewat tadi kini menyeret beberapa orang warga dengan keadaan tubuh luka-luka akibat terseret di sepanjang jalan berdebu itu.
"Kakang!" Kata Gayatri sambil menunjuk ke arah tikungan jalan itu.
Kini semua mata menatap ke arah lelaki yang mengenaskan itu tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan lelaki itu.
"Aku siap Kakang!" Jawab gadis itu.
"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Bayu Gatra lagi.
"Kali ini aku tidak perlu meminta persetujuan dari siapapun!" Kata Gayatri lalu merogoh ke arah sebuah kantong yang terikat pada pinggang nya, dan kini tampak diantara jepitan tangannya sebuah senjata rahasia besi pipih berbentuk bintang segi empat.
Tanpa ba bi bu lagi, Gayatri langsung melemparkan senjata rahasia itu dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi sehingga hanya suara angin saja yang berdesir lalu...,
Crasss!
__ADS_1
Tampak tali pengikat lelaki yang terseret oleh kuda yang ditunggangi oleh prajurit tadi putus terpotong oleh senjata rahasia itu.
Melihat keadaan ini, para prajurit tadi langsung bersiaga dengan prajurit yang menyeret lelaki tadi langsung berteriak.
"Kurang ajar! Siapa yang berani mencari perkara dengan kami hah? Apakah kalian semua ini mencari penyakit?" Bentak prajurit itu masih tetap duduk di atas kuda nya dengan lagak angkuh dan sombong.
"Banyak mulut!" Kata Gayatri lalu melemparkan sekali lagi senjata rahasianya yang kini langsung menancap di leher kuda tunggangan prajurit tadi.
Sebentar kuda itu menggelepar, lalu diam tak berkutik lagi, Mati!
"Oh Tuhan. Apa yang telah kalian lakukan?" Tanya pemilik warung itu ketakutan.
"Aki tidak perlu takut. Jika harus berjibaku, maka kami akan berjibaku hari ini. Jika mati, mati sebagai ksatria. Bukan mati sebagai pengecut seperti mereka ini!" Kata Andini menunjuk ke arah orang-orang yang berada di warung itu.
Selesai berkata begitu, dia tidak lagi berjalan. Melainkan langsung melesat dengan pedang terhunus lalu membabat siapa saja prajurit yang mencoba melawannya.
Gayatri pun tidak tinggal diam. Dia yang tadi memulai, langsung ikut turun ke gelanggang pertarungan.
Dengan senjata berbentuk bintang segi empat namun berukuran lebih besar dari senjata rahasianya tadi, yang memiliki empat lubang di senjata itu, Gayatri memasukkan jari tangannya ke dalam lobang di senjata itu lalu mengamuk bagai singa betina yang kehilangan anaknya.
Beberapa gebrakan saja tampak tujuh orang prajurit telah tumbang dengan leher terkoyak nyaris putus.
Hanya mereka berdua saja, kini lebih dari separuh dari puluhan prajurit tadi telah meregang nyawa dengan luka tebasan pedang di tangan Andini dan senjata bintang segi empat milik Gayatri.
"Sepertinya kita tidak akan kebagian jatah kakang," kata Pangeran Indra kepada Bayu Gatra. Namun begitu, dia tetap juga berdiri dan langsung berjalan ke luar halaman warung itu.
Ketika dia berdiri dan berjalan itu lah Senopati Arya Prana dapat melihat kain sutra kuning bersulam emas yang melilit di pinggang pangeran Indra Mahesa.
__ADS_1
Berulang kali Senopati itu mengerjapkan kelopak matanya. Namun dia jelas sangat ingat bahwa kain sutra itu adalah kain sutra yang pernah dia lihat tepat tujuh belas tahun yang lalu ketika berada di pinggir bibir jurang lembah bangkai.
Bersambung...