
Pagi itu, di sebuah perkampungan besar namun tersembunyi di kedalaman hutan lembah jati, tepatnya di depan Balairung yang terdapat di sekitar rumah berukuran paling besar diantara rumah-rumah lainnya, tampak seorang wanita setengah baya di dampingi oleh dua orang dayang beberapa kali mengernyitkan dahi.
Ini karena, dari arah dinding tebing yang menjadi letak pintu rahasia menuju ke perkampungan itu, kini tampak ratusan bahkan ribuan manusia bermunculan keluar dari pintu rahasia itu sambil membawa buntalan dan segala macam yang bisa mereka angkut.
Di depan, tampak Senopati Arya Prana ditemani oleh adik kandungnya yaitu Arya Permadi, juga ada Panglima Rangga, Tumenggung Paksi dan Wiguna saat ini sedang memberi aba-aba kepada para rombongan layaknya seperti pengungsi itu.
Tak jauh dari kelima lelaki setengah baya tadi, berdiri empat orang yang terdiri dari dua orang pemuda dan dua gadis yang dua diantaranya menyandang pedang layaknya pendekar, hanya memperhatikan saja sambil sesekali menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.
Tapi yang membuat heran wanita yang berdiri di Balairung itu adalah seorang pemuda yang mengenakan celana pangsi putih, baju putih tanpa lengan dengan kain sutra kuning bersulam emas terikat di pinggangnya.
Keheranan wanita setengah baya yang didampingi oleh dua wanita dayang tersebut adalah, mengapa Senopati Arya Prana dan yang lainnya begitu menghormati pemuda itu? Dan begitu juga dengan para pengungsi. Mereka berulang kali memberikan sembah takzim kepada pemuda yang hanya melipat tangan di depan dadanya itu.
"Siapa pemuda itu sebenarnya?" Gumam wanita setengah baya itu dalam hati.
"Arimbi. Apakah kau pernah melihat pemuda yang berpakaian serba putih itu? Atau dia adalah salah satu warga desa Waringin yang dulu mengungsi kemari?" Tanya wanita setengah baya itu.
"Ampun Gusti Permaisuri. Hamba sama sekali belum pernah melihat pemuda itu. Namun, dari gelagat nya, pemuda itu tampaknya seperti seorang pendekar," jawab sang Dayang sambil menjura hormat.
"Coba kau perhatikan! Tampaknya Senopati Arya Prana memperlakukan pemuda itu dengan sangat hormat sekali. Bahkan dia memberikan sembah kepada pemuda itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapa pemuda itu sebenarnya?"
"Gusti Permaisuri, apakah Gusti Permaisuri menginginkan agar hamba menemui Senopati Arya Prana dan menanyakan perihal pemuda itu?" Tanya dayang yang bernama Arimbi itu.
"Tidak perlu! Mereka juga sebentar lagi akan menemui ku," tegas sang Permaisuri lalu memilih untuk tetap berdiri memperhatikan para penduduk kampung pinggiran kadipaten Pitulung yang mengungsi karena kadipaten itu telah dihancurkan oleh Senopati Arya Prana atas perintah dari Pangeran Indra Mahesa.
Kini, semua pengungsi itu telah seluruhnya berada di dalam kawasan perkampungan.
Setelah menekan tombol yang membuat pintu batu itu berderit tertutup, kini Senopati Arya Prana pun menggiring para pengungsi itu untuk menghadap dan memberi sembah kepada Sang Permaisuri yang tadi sempat dia lihat berdiri di pendopo Balairung.
"Gusti Pangeran Indra Mahesa. Wanita yang berdiri di atas tangga itu adalah Gusti Permaisuri Ibunda Pangeran. Apakah Gusti akan langsung menemui beliau?" Tanya Senopati Arya Prana.
__ADS_1
"Paman, silahkan berjalan di depan. Selesaikan laporan Paman. Setelah itu, baru aku akan memperkenalkan diriku kepada Ibunda," jawab Pangeran Indra Mahesa. Bibirnya berkata seperti itu. Padahal di dalam hatinya, ingin sekali dia terbang menghampiri wanita setengah baya itu lalu bersimpuh di kakinya.
*********
Ribuan orang dengan dipimpin oleh Senopati Arya Prana tampak duduk bersimpuh di tanah berpasir tepat di depan pendopo Balairung yang masih berada di sekitar rumah yang paling besar tersebut.
Selesai memberi laporan dan menghaturkan sembah takzim kepada sang Permaisuri, kini tibalah bagi sang Permaisuri bertanya kepada Senopati Arya Prana tentang ke empat pendekar muda yang datang bersama rombongan para pengungsi itu.
"Ampun Gusti Permaisuri. Izinkan hamba memperkenalkan keempat pendekar muda ini,"
"Yang paling dewasa ini bernama Bayu Gatra. Andika ini baru saja turun gunung. Tepatnya dari padepokan jati Anom di kadipaten jati luhur yang berada di kerajaan Garingging. Yang ke dua adalah Andini. Murid dari Bima Purana. Untuk gadis yang ke tiga bernama, Gayatri. Dia adalah murid dari si Jari Malaikat dari Puncak alam. Untuk yang terakhir..,"
Tampak Senopati Arya Prana menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke arah Pangeran Indra.
"Mengapa berhenti, Senopati Arya Prana? Ada apa dengan pemuda yang terakhir?" Tanya sang Permaisuri.
"Ampun Gusti Permaisuri. Untuk yang terakhir bernama Indra Mahesa. Andika ini berguru kepada eyang Santalaya dari lembah bangkai. Kemudian berpindah ke kaki gunung sumbing tempat kediaman Bidadari kipas perak," kata Senopati Arya Prana sambil membungkuk hormat.
Sambil di bantu oleh dua orang dayang, dia pun melangkah menuruni anak tangga yang berjumlah tiga undakan itu dan kini berdiri di depan Senopati Arya Prana dan yang lainnya lalu bertanya. "Siapa tadi namanya katamu?!" Tanya sang Permaisuri.
"Ampun Gusti Permaisuri. Namanya adalah Indra Mahesa. Beliau ini berguru kepada eyang Santalaya di lembah bangkai,"
Seeeerrr!!!
Berdesir darah sang Permaisuri mendengar penjelasan ini.
Dia kini dengan sangat seksama memperhatikan wajah pangeran Indra dan baru berhenti memperhatikan ketika dia melihat kain sutra kuning yang melilit di pinggang pemuda itu.
"Indra Mahesa? Apakah?" Gumam sang permaisuri.
__ADS_1
"Ibunda!" Kata sang pangeran lalu merangkak mendekati kaki wanita itu kemudian bersimpuh sambil menangis memeluk kaki wanita yang melahirkannya itu.
Betapa dia selama ini sangat merindukan dan ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuanya.
Walaupun tidak lengkap, setidaknya dia kini telah bertemu dengan ibunya. Dan itu sedikit memberi pelipur lara baginya.
"Apakah kau adalah Indra Mahesa putraku yang terjatuh ke dalam jurang lembah bangkai?" Tanya sang Permaisuri merasa seolah-olah ini adalah mimpi.
Pangeran Indra Mahesa tidak menjawab pertanyaan itu melainkan melepaskan ikat pinggangnya sambil meraba ke bagian dalam bajunya.
Tak berapa lama kemudian tampaklah di tangan pemuda itu terdapat sebilah keris bergagang naga. Lalu, dengan menekuk satu kakinya, pangeran Indra langsung mengangkat keris yang berada di atas kedua telapak tangannya itu ke atas separas dengan tinggi kepalanya.
"Ini.., ini adalah keris tumbal kemuning. Berarti?!"
"Ampun Gusti Permaisuri. Semuanya benar adanya. Hamba berlima telah menyaksikan sendiri dengan mata kepala kami ketika Gusti pangeran mencabut keris tumbal kemuning untuk membunuh Datuk Marah Lelang dan juga Wikalpa,"
Kali ini Senopati Arya Prana memberanikan diri untuk menjawab pernyataan dari sang Permaisuri.
"Indra putra ku! Oh Tuhan! Terimakasih karena ternyata putra ku masih hidup dan kini telah tumbuh menjadi seorang pendekar muda," kata sang Permaisuri dengan air mata mulai membasahi pipinya.
"Ibu!"
Hanya itu kata-kata yang mampu terucap dari bibir pangeran Indra Mahesa. Selebihnya, dia hanya menangis dan terus menangis membuat semua orang yang berada di pendopo itu jadi ikut-ikutan menangis.
"Putraku. Ibu telah mencari mu kemana-mana nak. Sudah kering air mata ini terus menangisi mu. Ternyata Tuhan tidak tidur. Dia mengabulkan doa seorang ibu yang teramat mengasihi putra nya. Akhirnya kau kembali. Ini semua berkat kekuasaan dan kebesaran Tuhan,"
"Maafkan Indra, Bunda. Maafkan ananda. Ananda baru bisa kembali sekarang. Ini karena Guru ananda tidak mengizinkan ananda untuk turun gunung dalam usia yang masih terlalu muda,"
"Tidak. Kau tidak bersalah putra ku. Guru mu juga tidak bersalah. Justru itu adalah tindakan yang sangat bijak. Dengan begitu, kau kini telah hampir dewasa. Niat guru mu itu baik. Syukur kita masih bisa dipertemukan kembali,"
__ADS_1
Suasana haru itu membuat Senopati Arya Prana, Arya Permadi, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi dan Wiguna hanya bisa tertunduk menekuri lantai dengan air mata terus mengalir. Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati seorang wanita yang bergelar ibu ketika bertemu kembali dengan Putranya yang terpisah sejak masih bayi.
Bersambung...