Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Penuturan dari Pratisara


__ADS_3

Malam itu. Setelah merasa luka dalam yang dideritanya merasa sedikit lebih baik, Panglima Pratisara dengan ditemani oleh Senopati Arya Prana bergegas menuju ke aula Paseban untuk menjelaskan kepada Gusti Prabu Rakai Galuh dan yang lainnya tentang musibah yang dialami oleh para prajurit yang dikirim oleh Gusti Prabu Rakai Galuh guna membantu orang-orang yang berada di lembah jati yang terkepung ketika itu.


Saat ini di aula Paseban, telah berada di sana Gusti Prabu Rakai Galuh, Permaisuri Galuh Cendana, Gusti Prabu Kerta Rajasa bersama Putri Melur, Pangeran Indra Mahesa, Adipati Panembahan Ardiraja, Adipati Rakai langit, Mahapatih Mahesa Galuh, dan banyak lagi yang menantikan penjelasan dari Panglima Pratisara atas kejadian itu.


"Pratisara! Bagaimana dengan keadaan luka-luka mu?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh ketika Panglima Pratisara sudah berada di hadapan Prabu Rakai Galuh.


"Hamba sudah sedikit lebih baik, Gusti Prabu," jawab Panglima Pratisara sambil menghaturkan sembah.

__ADS_1


"Hmmm. Syukurlah jika demikian," kata Gusti Prabu Rakai Galuh sambil memantapkan posisi duduknya lalu sedikit terbungkuk dengan sebelah tangan tertumpu pada paha.


"Sekarang, coba kau ceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi atas pasukan yang kau pimpin dari lembah jati?!" Titah sang Paduka Gusti Prabu Rakai Galuh.


Dia ingin mendengar dengan jelas apa sebenarnya yang terjadi sehingga membuat dua ribu lima ratus orang prajurit yang dia kirim ke lembah jati, kini hanya kembali sekitar seratus orang saja. Dan yang parahnya adalah, keadaan mereka semuanya mengenaskan dengan rata-rata mengalami cedera berat.


"Ampun Gusti Prabu. Ini semua adalah salah hamba. Hamba mengambil keputusan secara mendadak. Ini semua didasarkan oleh laporan yang konon katanya dari kadipaten Gedangan yang mengatakan bahwa di sana para prajurit dari Paku Bumi telah menyerang kadipaten itu. Bahkan katanya, Gusti Adipati Rakai langit telah terluka parah. Hamba tidak memiliki pilihan lain selain mengambil keputusan untuk segera mengirimkan bantuan," Kata Pratisara sambil mengepalkan tinjunya menahan kegeraman yang tidak tau entah kemana harus dia lampiaskan.

__ADS_1


Setelah sejenak menguasai diri, dia lalu melanjutkan. "Hamba sama sekali tidak mengetahui bahwa prajurit yang mengaku utusan dari kadipaten Gedangan itu adalah orang-orang yang dikirim oleh Jaya Pradana. Sehingga, sebelum tiba di kadipaten Gedangan, mereka telah mengepung kami dan menghujani kami dengan anak panah. Prajurit hamba yang tidak siap menerima serangan mendadak seperti itu berguguran seperti daun kering. Huhuhu..," kata Panglima Pratisara sambil menangis.


Semua orang yang berada di Aula Paseban itu kini saling pandang lalu semuanya diam menunggu apa yang akan dititahkan oleh Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Ini semuanya bukanlah kesalahan dirimu semata. Aku juga bersalah dalam hal ini," kata Gusti Prabu Rakai Galuh sambil berdiri lalu berjalan diantara barisan kursi-kursi para rakrian yang berada di aula Paseban itu.


Pangeran Indra Mahesa yang paling merasa dipermainkan oleh taktik dari para prajurit Paku Bumi ini lah yang paling merasakan kegeraman dalam hatinya. Dia tidak menyangka Jaya Pradana langsung membalas perbuatannya yang menghancurkan kadipaten Pitulung beberapa hari sebelum pengepungan itu terjadi.

__ADS_1


__ADS_2