Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Keris tumbal kemuning


__ADS_3

Seorang pemuda berbadan tegap, memakai celana pangsi putih, baju berwarna putih tanpa lengan sehingga menampakkan otot-otot tangannya yang kekar, dengan sutra kuning bersulam emas tampak terikat di pinggangnya berdiri di sebongkah batu besar di pinggir sungai yang berair jernih.


Sesekali tampak dia menyibakkan rambutnya yang panjang melewati bahu itu karena dipermainkan oleh angin pagi yang berhembus.


Pagi itu hawa nya terasa sangat dingin sekali. Namun, itu tidak berpengaruh terlalu besar terhadap pemuda itu.


Dia terus menatap lurus ke arah air mengalir yang konon katanya terus sampai ke muara lalu bercampur dengan air laut.


Semenjak dia telah menguasai semua ilmu yang telah diturunkan kepadanya oleh Eyang Santalaya dan Bidadari kipas perak, sedikit demi sedikit hasratnya untuk turun gunung menjadi semakin besar. Hanya saja hasrat itu harus dia pendam dulu karena selain tidak mendapat perintah, dia juga merasa sangat berat untuk berpisah dari kedua gurunya itu.


Kemarin malam, gurunya menceritakan awal pertemuannya dengan lelaki tua itu di sebuah jurang yang terdapat di lembah bangkai.


(Bagi yang membaca dari awal tanpa skip, pasti tau)


"Aku tidak tau dari mana asal mu Indra. Yang dapat aku tangkap dengan telinga ku adalah, ketika suara seorang wanita meneriakkan nama mu. Dari situ aku berkesimpulan bahwa nama mu adalah Indra. Nama itu sama sekali bukan pemberianku,"


Berkata Eyang Santalaya ketika dia mulai menceritakan tentang pertemuan itu.


Menurutnya lagi, kemungkinan terbesar adalah, dirinya berasal dari kalangan bangsawan yang mungkin sedang melakukan perjalanan lalu di hadang oleh gerombolan rampok.


Akan tetapi, hal itu segera di bantah oleh Nini Kunti Bawuk. Ini karena, jika mereka di hadang oleh gerombolan rampok, mengapa pula para prajurit dari Paku Bumi seperti mengejar sebuah rombongan yang akhirnya eyang Santalaya terlibat pertarungan dengan pasukan prajurit dari Paku Bumi itu.


Mereka lalu memulai memeras otak lalu menghubungkan kejadian tujuh belas tahun yang lalu di mana kerajaan Paku Bumi telah menyerang kerajaan Sri Kemuning.


Berfikir sampai di sini, kemungkinan terbesar adalah Indra ini berasal dari keluarga istana atau putra dari salah satu pembesar istana.


"Jika asal usul ku adalah dari kerajaan Sri Kemuning, sedangkan menurut Eyang guru kerajaan itu telah lama runtuh, kemungkinan akan sangat sulit bagiku untuk menemukan jati diri ku. Entah kedua orang tua ku masih hidup atau malah sudah terbunuh dalam pelarian mereka," batin Pangeran Indra dalam hati.


Lelah berdiri, kini pangeran Indra mulai duduk bersila di atas bongkahan batu besar itu sambil meraba ke dalam bajunya untuk mengeluarkan sebilah keris tumbal kemuning yang selama ini menjadi sahabatnya.


"Keris ini adalah salah satu barang yang ikut bersama dengan ku terjatuh ke dalam jurang di lembah bangkai, selain kain sutra kuning bersulam emas ini," katanya lagi dalam hati sambil terus memperhatikan keris tumbal kemuning tersebut.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak tau bahwa keris itu adalah keris yang selama tujuh belas tahun ini diinginkan oleh Jaya Pradana untuk bukti sah atau tidaknya dia sebagai raja di Sri Kemuning.


Selama keris tumbal kemuning itu tidak berada dalam genggamannya, selama itu pula rakyat tidak akan mengakui dirinya sebagai raja yang sah.


Rakyat lebih memilih menyebut dirinya sebagai penjajah dari Paku Bumi walaupun garis keturunan Jaya Pradana adalah pangeran dari kerajaan Sri Kemuning itu sendiri. Dia juga adalah adik kandung dari Gusti Prabu Jaya Wardana yang digulingkan olehnya.


Jadi, Jaya Pradana ini adalah adik kandung Gusti Prabu Jaya Wardana dan Paman kandung dari Pangeran Indra Mahesa yang saat ini belum mengetahui siapa dirinya dan dari mana asalnya.


Pangeran Indra Mahesa saat ini terus menatap lurus ke depan sambil mengelus warangka dari keris tumbal kerajaan tersebut.


Entah mengapa dia sangat merasa penasaran untuk mencabut keris tersebut. Karena walaupun terus bersama dengannya, dia sama sekali tidak berani mencabut keris itu. Ini karena di depan mata kepalanya sendiri dia melihat eyang Santalaya gagal mencabut keris tumbal kerajaan itu. Malah eyang Santalaya harus menerima nasib buruk karena kekuatan keris tumbal tersebut telah menendangnya hingga dinding gubuk reyot milik Nini Kunti Bawuk jebol diterjang tubuhnya.


"Keris apakah ini? Mengapa dia ada padaku? Lalu, mengapa pula eyang guru tidak mampu mencabut keris ini dari warangka nya?" Tanya Pangeran Indra dalam hati.


"Apakah aku harus mencoba sendiri? Lalu, jika aku gagal dan cedera, bagaimana?" Katanya dalam keragu-raguan.


"Ah. Masabodo lah. Yang penting tidak sampai mati. Ya keris ya?! Kau itu sahabat ku iya kan? Awas kalau kau mencelakai ku!" Kata Pangeran Indra berbicara kepada keris itu seolah-olah keris yang berada di atas pangkuannya itu bisa mengerti perkataan nya.


Sreeeet!


Dengan tangan semakin bergetar, pangeran Indra semakin mengumpulkan keberaniannya untuk mencabut keris tersebut.


Sreeeet!


Seberkas sinar kuning keemasan mulai mencuat dari bilah keris yang baru saja seperempatnya tercabut dari warangka itu.


Dag dig dug juga hati pangeran Indra Mahesa menahan rasa antara penasaran, dan ketakutan.


Sambil memejamkan mata, dia kini memantapkan hati lalu...,


Streeet!

__ADS_1


Begitu keris tumbal kemuning itu terpisah dari warangka nya, seketika itu juga berhembus angin ****** beliung berjarak sepuluh batang tombak darinya.


Riak air sungai kini laksana ombak di laut seolah-olah air sungai itu kini seperti berbalik arus.


Pangeran Indra kini merasa sangat ketakutan lalu beringsut mundur sampai dia tidak sadar telah terjatuh telentang dari atas bongkahan batu itu.


Tangannya seakan terpatri mati dengan gagang keris yang memancarkan sinar kuning keemasan yang sangat menyilaukan itu.


Perlahan-lahan mini dari bilah keris keluar lembaga bayang-bayang seekor naga berwarna kuning meliuk-liuk di udara.


"Ampun. Jangan makan aku. Aku masih muda. Masih bujangan. Belum kawin," kata Pangeran Indra sambil menutupi matanya dengan lengan kirinya karena di genggaman tangannya masih tergenggam erat warangka dari keris tersebut.


Lembaga bayang-bayang samar seekor naga itu kini mulai meluruskan badannya kemudian melesat ke udara lalu berbalik dengan cepat menjunam ke bawan kemudian langsung menabrak tubuh Pangeran Indra Mahesa yang saat itu sedang tergeletak di samping batu besar tempatnya duduk tadi.


"Eyang... Tolong aku Eyaaaaang..!" Teriak Pangeran Indra Mahesa semakin ketakutan.


Belum habis teriakan pangeran Indra tadi, kini perlahan-lahan sosok naga itu berubah menjadi sinar kuning keemasan lalu membungkus tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Samar-samar, kini sinar kuning itu amblas masuk ke dalam tubuh pangeran Indra lalu sirna sepenuhnya.


"Heh. Apa yang baru saja terjadi?" Tanya pangeran Indra sambil mengusap matanya.


Cepat-cepat dia bangkit berdiri lalu memperhatikan keris yang terus memancarkan sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata itu.


"Kemana naga tadi? Ih...!" Katanya bergidik ngeri sambil memperhatikan tubuhnya.


"Syukurlah aku tidak tumbuh sisik. Aku lihat naga tadi amblas masuk ke dalam tubuh ku,"


Pangeran Indra yang ketakutan itu semakin ketakutan ketika melihat di sekelilingnya banyak pohon-pohon bertumbangan, semak belukar rata seperti diamuk ribuan gajah. Benar-benar dahsyat akibat yang ditimbulkan oleh keris tumbal kemuning itu.


Sambil ketakutan, Pangeran Indra cepat-cepat memasukkan kembali keris tumbal kemuning itu ke dalam warangka nya lalu segera berlari tunggang langgang meninggalkan pinggiran sungai tempat dia duduk merenung tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2