
"paman.., pelan-pelan! Lihat di sana itu!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil kembali merentangkan busur panahnya.
Dengan menyipitkan sebelah matanya, kini Pangeran Indra mulai membidikkan anak panahnya lalu..,
Wuzzz!
Anak panah itu tampak melesat mencari sasarannya kemudian menancap tepat di bagian rusuk kiri dari rusa tersebut.
Rusa itu masih sempat melarikan diri. Namun, hanya sebentar saja lalu ambruk ke tanah berumput.
"Kejar! Ayo jangan sampai lolos!"
Terdengar suara gaduh dari arah depan membuat pangeran Indra Mahesa sejenak saling pandang dengan Senopati Arya Prana dan Panglima Rangga.
"Ada orang lain di hutan ini paman?!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil menatap ke arah depan.
"Sepertinya memang begitu, Pangeran. Mari kita lihat!" Ajak Senopati Arya Prana sambil mempersilahkan kepada junjungannya itu untuk berjalan mendahului.
Mereka kini langsung berjalan menghampiri binatang buruannya itu dengan pikiran penuh tanda tanya siapa sebenarnya yang juga ikut berburu di hutan watu Sewu ini.
__ADS_1
Baru saja mereka tiba di samping tubuh rusa yang tergeletak itu, tiba-tiba saja satu suara berseru ke arah mereka.
"Siapa yang berani ingin mencuri hasil buruanku?!"
Suara itu begitu keras terdengar karena dialiri oleh tenaga dalam.
Hal ini kembali membuat Pangeran Indra Mahesa kembali saling melemparkan pandangan antara satu sama lain.
"Ada suara perempuan, Paman?!" Seru pangeran Indra setengah berbisik.
Baru saja suara seruan itu hilang, kini dari arah semak belukar, tampak rombongan prajurit dengan ditangan mereka terdapat busur dan panah mengiringi seorang wanita muda yang tampak sangat galak menuju ke arah rombongan Pangeran Indra.
"Maaf nisanak. Rusa ini adalah rusa buruan kami. Mengapa Nisanak mengakui kalau ini adalah rusa buruan mu?" Tanya Pangeran Indra bernada lembut.
"Enak saja kalau bicara. Ini adalah rusa buruan ku. Aku sendiri yang menembakkan anak panah ke rusuk rusa ini," bantah sang wanita muda terus tak mau kalah.
"Aneh sekali. Padahal sangat jelas anak panah ku lah yang mengenai sasaran dan berhasil menembus tubuh rusa ini. Lalu, mengapa wanita ini mengakui bahwa ini adalah rusa buruannya?" Pikir Pangeran Indra dalam hati.
"Nisanak. Rusa ini adalah rusa yang kami kejar dari pinggiran sungai bagian Utara sana itu!" Tunjuk sang Pangeran lalu melanjutkan, "kami sengaja mengejar sampai kemari dan langsung memanah rusa ini. Lalu, mengapa Nisanak mengakui bahwa ini adalah rusa yang kalian buru?" Tanya Pangeran Indra masih tetap bernada lembut.
__ADS_1
Sementara itu, Gayatri sudah berulang kali mengepalkan tinjunya menahan luapan amarah ketika wanita ini sama sekali tidak mau mengalah dan masih tetap ngotot bahwa rusa itu adalah hasil buruan nya.
"Baiklah Nisanak. Aku tidak ingin lagi bertengkar dengan mu. Jika kau merasa bahwa ini adalah rusa kepunyaan mu, maka silahkan ambil. Kami akan mencari binatang buruan yang lainnya," kata Pangeran Indra mengalah.
Dia tidak ingin berdebat lagi yang akan menyita waktunya. Ini karena, perjalanan mereka untuk menuju ke kerajaan Galuh masih sangat jauh. Dia mengalah bukan karena kalah. Namun, lebih kepada menghargai seorang wanita saja.
"Mari, Paman. Kita tinggalkan tempat ini!" Ajak pangeran Indra Mahesa hendak berlalu.
"Berhenti kalian di situ! Kau telah menyinggung perasaan ku. Kau belum tau siapa aku hah?" Bentak wanita itu yang sejak perdebatan tadi, sudah tersulut emosi nya.
"Apa lagi yang kau inginkan, Nisanak? Bukankah aku sudah mengalah dan membiarkan rusa ini menjadi milik mu," kata Pangeran Indra Mahesa tidak mengerti.
"Itu tidak cukup. Kau harus berlutut dan mengaku bersalah dihadapan ku. Baru aku akan melepaskan mu!" Bentak wanita itu.
"Wanita muda, kau sudah sangat keterlaluan. Mengapa kami harus berlutut dihadapan mu?" Tanya Senopati Arya Prana sambil tersenyum kecut.
"Itu pantas bagi kalian yang sengaja mencari silang sengketa dengan Gusti Putri Melur. Putri tertua dari Gusti Prabu Kerta Rajasa dari kerajaan Garingging!" Bentak salah seorang prajurit tua yang ikut dalam rombongan wanita yang disebut Putri Melur tadi.
Bersambung...
__ADS_1