Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Menjalankan rencana


__ADS_3

Malam semakin merangkak meninggalkan senja.


Cahaya sang rembulan yang belum sempurna bentuk bulat nya mulai menggantung di langit malam.


Bagi sebagian prajurit, mereka lebih memilih untuk beristirahat sambil menunggu giliran untuk melakukan penjagaan.


Di kemah besar milik Pangeran Indra Mahesa, kini tampak empat orang sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan bagi menyusup ke bekas istana kerajaan Setra kencana untuk mengambil harta milik kerajaan Setra kencana yang sengaja disembunyikan oleh Raden Danu guna menutupi kebutuhan perjuangan mereka yang memang memerlukan pembiayaan yang besar.


Setelah sore harinya mereka telah melakukan perencanaan, kini tibalah bagi mereka untuk segera melakukan pekerjaan sesuai dengan yang telah mereka rencanakan.


Karena Raden Danu tidak begitu tinggi dalam ilmu silatnya, maka dia bersama dengan Tumenggung Paksi berangkat terlebih dahulu dengan menunggangi kuda.


Agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi para tilik sandi yang mungkin saja dikirim oleh Jaya Pradana, mereka terlebih dahulu menuntun kuda tersebut melalui jalan belakang yang tembus langsung ke hutan. Setelahnya, barulah mereka mulai menunggangi kuda tersebut memalui jalan pintas.

__ADS_1


Sementara itu, Pangeran Indra yang didampingi oleh Senopati Arya Prana sebagai penunjuk jalan, segera melompati tembok bagian ujung yang dekat dengan hutan lalu melesat ke atas pohon.


Beberapa kali mereka mengitari seluruh area hutan itu mencari keberadaan mata-mata. Begitu menemukan keberadaan mata-mata tersebut, mereka langsung tidak memberi ampun lagi dan langsung membantai mereka semua.


Setelah keadaan benar-benar telah bersih, kini pangeran Indra Mahesa mempersilahkan Senopati Arya Prana untuk mendahului berlari di depan dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang kemudian diikuti oleh Pangeran Indra Mahesa dari belakang.


Saat ini, Senopati Arya Prana sudah mengeluarkan seluruh ilmu lari cepat yang dia miliki. Namun yang membuat dia heran adalah, secepat apapun dia berlari, pangeran Indra Mahesa tetap berada tidak lebih dari setengah tombak dibelakangnya. Padahal, saat ini keringat sebesar-besar jagung telah menetes dari tubuhnya.


"Apakah ada jalan lain yang lebih dekat selain jalan ini?" Tanya Pangeran Indra.


"Ada, Gusti. Tapi hutan itu sangat angker. Kita bisa melalui jalan itu. Tapi hamba yakin bahwa Raden Danu dan Tumenggung Paksi yang menunggang kuda akan berselisih jarak yang sangat jauh dengan kita,"


"Benar juga katamu itu, Paman. Baiklah, sekarang ikuti saja jalan biasa. Tidak mengapa kita kembali besok sore ke benteng pertahanan. Asalkan subuh ini kita berhasil mengeluarkan harta benda milik kerajaan Setra kencana dari tempat penyimpanan nya," kata Pangeran Indra Mahesa.

__ADS_1


"Mari Gusti!" Kata Senopati Arya Prana sambil mempercepat larinya.


Kini kedua orang itu hanya terlihat seperti sosok samar dengan ilmu lari masing-masing membelah hutan bagian Utara kadipaten Karang Kencana itu.


Terkadang mereka berhenti sejenak lalu melesat memanjat ke pohon dan dengan ajian tatar netra yang digunakan oleh pangeran Indra Mahesa, dia dapat melihat dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Raden Danu dan Tumenggung Paksi terus bergerak menyusuri jalan setapak.


"Mari Paman! Mereka sudah berada di hadapan kita!" Kata Pangeran Indra.


Senopati Arya Prana hanya mengangguk saja lalu segera mengempos kembali seluruh ilmu meringankan tubuhnya.


Jangan lupa like!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2