
"Ayahanda.., aku kembali!"
Terdengar suara Putri Melur berteriak membuat seorang lelaki setengah baya yang sedang merenung di bawah sebatang pohon besar dengan puluhan prajurit dibelakangnya tampak berjaga-jaga dengan senjata tombak di tangan mereka masing-masing.
"Putriku. Kau sudah kembali. Mengapa wajahmu terlihat sangat kesal seperti itu?" Tanya lelaki setengah baya yang tidak lain adalah Gusti Prabu Garingging itu adanya.
"Semua itu karena orang ini!" Bentak sang Putri sambil menunjuk ke arah Pangeran Indra Mahesa yang sedang menurunkan seekor rusa dari pundaknya.
"Hmmm. Mengapa bisa begitu? Siapa kau dan darimana asal mu anak muda?" Tanya Gusti Prabu Garingging dengan ketenangan yang sangat menyejukkan hati itu.
"Ampun Gusti Prabu. Sebenarnya rusa ini adalah rusa buruan hamba. Dan hamba lah yang telah membunuh rusa ini. Namun, Gusti Putri mengakui bahwa rusa ini adalah hasil buruan nya. Hamba tidak bisa berbuat apa-apa selain mengalah," jawab Pangeran Indra Mahesa atas pertanyaan dari sang Raja Garingging itu.
"Bohong! Jelas-jelas ini adalah rusa milik ku. Kau yang mengaku-ngaku bahwa ini adalah rusa milik mu," bentak sang Putri.
"Tunggu dulu. Aku akan mengadili kalian secara seksama,"
"Anak muda. Tadi kau mengatakan bahwa rusa ini adalah hasil buruan mu. Sementara putri ku juga mengatakan begitu. Aku memang menduga bahwa pemilik rusa yang sebenarnya adalah dirimu anak muda!" Kata sang Raja membuat Putri Melur mendelikkan matanya.
"Ayah. Bagaimana mungkin rusa ini adalah miliknya. Apa buktinya?" Tanya Sang Putri dengan manja setengah merengek.
"Anak muda.., dan kau Putri ku. Coba kalian keluarkan anak panah kalian masing-masing!" Perintah dari sang Raja.
__ADS_1
Mereka berdua langsung mengeluarkan anak panah milik mereka masing-masing dari kantong yang tersandang di pundak mereka begitu mendapat perintah dari sang Raja.
Setelah menyerahkan anak panah itu kepada sang Raja, maka Prabu Garingging pun membandingkan antara anak panah dari putri Melur dengan anak panah yang tertancap di rusuk rusa itu.
"Apa kau melihat ini Putri ku?" Tanya sang raja.
Putri Melur langsung tergagap begitu dia melihat warna bulu pada panah itu sama sekali tidak mirip dengan warna bulu yang terdapat pada anak panahnya.
Sementara itu, bulu yang berada di pangkal anak panah itu sama persis dengan yang diberikan oleh Pangeran Indra tadi.
"Bagaimana menurut mu Melur?" Tanya Sang Prabu.
Tingkahnya yang seperti itu terlihat sangat lucu. Antara manja dan juga menahan malu.
"Gusti Prabu. Tidak perduli siapa yang memiliki rusa ini. Bagi hamba, itu sama saja. Hamba tidak mempermasalahkan. Toh juga rusa ini sudah sampai dihadapan Tuan ku. Maka, tugas hamba memenuhi permintaan dari Gusti Putri Melur sudah selesai, izinkan hamba mohon diri dulu," kata Pangeran Indra sambil membungkuk hormat.
"Anak muda. Kau belum memberitahu nama mu, asal mu dan kemana tujuan mu?!" Kata Gusti Prabu Garingging sekali lagi.
Dia merasa sangat penasaran terhadap pemuda yang sangat sopan ini. Jika itu adalah seorang pendekar, maka sifat kesopanannya tidak akan sedemikian sempurna di hadapan raja. Pastilah pemuda ini adalah orang-orang dari golongan bangsawan.
"Ampun Gusti Prabu. Nama hamba adalah Indra Mahesa. Hamba dari kaki gunung sumbing dan tujuan hamba adalah kota raja kerajaan Galuh," jawab pangeran Indra Mahesa sekali lagi sambil menjura hormat.
__ADS_1
"Hmmm. Bisa kau ceritakan apa tujuan mu ke kota raja kerajaan Galuh?" Tanya sang raja.
"Guru hamba telah memerintahkan kepada hamba untuk segera berangkat ke kota raja kerajaan Galuh untuk memberikan sumbangan tenaga terhadap perjuangan Gusti Prabu Rakai Galuh dalam menghadapi serangan yang datang dari para prajurit Paku Bumi," jawab Indra Mahesa.
"Hmmm... Kalau begitu, kita sama-sama searah. Mengapa kita tidak melanjutkan perjalanan bersama-sama saja?" Kata sang Prabu setengah menawarkan.
"Terimakasih Gusti Prabu. Namun, sungguh menyesal sekali. Ini karena, rombongan sahabat-sahabat hamba sedang menunggu di bagian selatan hutan ini. Tepatnya di pinggiran kali watu Sewu," jawab pangeran Indra.
"Baiklah. Semoga kelak kita akan bertemu di kerajaan Galuh. Aku juga sama dengan mu. Yaitu, ingin memberikan bantuan kepada Rakai Galuh. Karena, jika kerajaan Galuh ini sampai runtuh, maka sasaran mereka selanjutnya adalah kerajaan Garingging!" Kata sang Raja sambil menghela nafas berat.
"Baiklah, Gusti Prabu. Jika rejeki hamba baik, maka hamba akan dipertemukan kembali dengan Gusti Prabu,"
"Hamba mohon diri dulu Gusti!" Kata Pangeran Indra Mahesa sekali lagi memberi hormat, lalu melangkah dengan tenang meninggalkan sang Raja dan Putri Melur yang menatap kepergian Pangeran Indra Mahesa itu.
Terlihat santai saja sang Pangeran melangkah. Namun, dalam hitungan dua kedipan mata saja, dia sudah berada hampir dipinggir hutan yang jaraknya sepeminuman teh jika dengan langkah biasa.
"Hmmm. Pemuda itu ada isi. Aku dapat melihat dari cara bicara, sorot matanya, ketenangan yang terdapat pada wajahnya. Kau Melur! Sekali lagi hati-hati dengan sikap mu. Andai dia orang jahat, kalian semua pasti sudah mati di tangan pemuda itu," kata sang raja memperingatkan.
Putri Melur hanya tertunduk saja mendengar teguran dari ayahandanya ini. Sedikit pun dia tidak menjawab.
...Bersambung...
__ADS_1