Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Menyusu dengan induk rusa


__ADS_3

Setelah setengah hari menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya eyang Santalaya tiba juga di kaki gunung sumbing ini.


Tanpa menghiraukan beberapa orang yang langsung ketakutan ketika melihat bayangannya yang lari menggunakan ajian menunggang angin itu, dia terus saja berlari hingga kini dia sampai di sebuah gubuk reyot yang sudah sangat tua sekali.


Begitu jaraknya tinggal sekitar sepuluh batang tombak, dia pun langsung memanggil dan berteriak.


"Kunti. Apakah kau ada di dalam? Tolong aku Kunti. Putus nafas ku Mak..." Katanya sambil terduduk di tanah.


"Hei mengapa kau seperti kerbau habis membajak sawah?" Terdengar satu suara menegur bersama dengan terbukanya pintu gubuk reyot itu.


"Hey?! Anak siapa itu? Kau menculik anak orang ya? Apa kau dikejar oleh orang sekampung? Celaka sudah kalau begini." Kata wanita tua itu sambil mengomel panjang pendek.


"Enak saja congor mu itu kalau bicara. Aku tidak menculik anak orang."


"Lalu? Jika tidak menculik, mengapa kau seperti habis di kejar-keja orang sekampung begitu hah?"


"Alah. Panjang ceritanya. Aku haus. Ambilkan aku air!" Kata eyang Santalaya sembari meletakkan Indra Mahesa di atas pangkuannya.


"Sekarang kau ceritakan kepada ku orok siapa ini yang kau culik?!" Tanya wanita tua itu setelah eyang Santalaya selesai minum.


"Anak ini bernama Indra. Setidaknya begitu yang aku dengar ketika suara seorang wanita meneriakkan namanya ketika tubuh mungil ini jatuh ke dalam jurang lembah bangkai tempat pertapaan ku." Lalu eyang Santalaya menceritakan semuanya kepada wanita tua itu dari awal sampai akhir. dan juga tidak lupa menceritakan alasan mengapa dia datang ke kaki gunung sumbing ini menemui wanita tua renta itu.


"Anak malang. Sungguh malang sekali. Jika aku melihat dari pakaiannya, firasat ku mengatakan bahwa anak ini bukan orang biasa. Dia pasti keturunan bangsawan."


Baru saja dia berbicara seperti itu, pangeran Indra mulai terbangun lalu kembali menangis dengan keras sehingga atap gubuk reyot milik wanita tua itu bergetar hebat.


"Heh. Anak setan mana yang tangisannya mampu membuat gubuk ku ini seperti mau runtuh?" Tanya wanita tua itu keheranan.


"Itu lah sebabnya mengapa aku datang ke mari. Aku ini lebih baik di suruh menghancurkan sebuah kerajaan, daripada mengasuh bayi orok seperti ini. Sejak semalam dia menangis terus dan tidak mau diam." Kata eyang Santalaya sambil ikut-ikutan hendak menangis juga.


"Cup cup cup! Anak setan bagus! Sini eyang putri gendong!" Kata wanita tua itu sambil memeriksa keadaan sang bayi.

__ADS_1


Begitu dia mengetahui mengapa anak itu tidak berhenti menangis, dia langsung membentak ke arah eyang Santalaya.


"Heh orang tua jelek yang tak tau diri! Pantas saja anak ini menangis. Dia ini kelaparan. Goblok mu itu tak ketulungan!" Bentak sang nenek kepada sang kakek.


"Hah? Jadi?"


"Jadi apa? Untung kau cepat datang ke sini. Anak ini butuh susu. Dia kehausan dan lapar."


"Aku mana punya susu." Kata eyang Santalaya sambil tunduk menatap ke arah dadanya lalu kembali berkata. "Kau saja. Kau kan wanita. Punya mu lebih besar dari punya ku." Kata eyang Santalaya sambil nyengir memperlihatkan deretan gigi hitamnya yang sudah tinggal tunggul saja.


"Dasar Sontoloyo. Orang tua mesum. Seenak jidat mu saja kalau bicara. Kapan aku pernah menyusui hah? Ayo cepat kau cari akal! Jika tidak, orok ini bisa mati kelaparan." Bentak wanita tua itu sambil mendelikkan matanya.


"Kemana lagi.., eh salah. Usaha apa lagi yang bisa aku perbuat?"


"Cari di hutan ini banyak kijang atau apa saja yang mempunyai anak kecil. Bawa kemari dan biarkan bayi ini menyusu dengannya!" Perintah wanita tua itu.


"Iya iya iya. Akan aku lakukan!" Kata eyang Santalaya lalu segera bangkit berdiri kemudian melesat cepat mengitari sekeliling hutan di kaki gunung sumbing ini untuk mencari seekor ibu kijang yang sedang menyusui.


"Haduh. Kemana aku harus mencari induk kijang? Ada-ada saja."


Kresek..


Kresek!


"Heh suara apa itu?" Kata lelaki tua itu sambil mengendap-endap di balik rimbun semak-semak belukar.


"Heh. Ada. Akhirnya aku menemukan mu! Asyiiiik!" Kata lelaki tua itu begitu di bawah gerumbulan semak belukar, dia melihat seekor induk rusa sedang menyusui anaknya.


"Tak dapat kijang, rusa pun jadi." Kata lelaki tua itu sambil mengambil sebutir batu lalu melemparkan batu tersebut yang tepat mengenai leher sang rusa.


Ini adalah tehnik ilmu menotok aliran darah jarak jauh. Jika itu dilakukan oleh orang yang berkemampuan rendah, bukan malah tertotok. Tapi rusa itu pasti akan mati.

__ADS_1


"Hehehe. Anak rusa, aku pinjam dulu induk mu ini ya. Nanti aku kembalikan lagi. Kalian jangan nakal ya!" Kata eyang Santalaya, lalu enak saya dia memikul induk rusa tersebut dengan santainya. Padahal, lebih besar tubuh rusa itu dibandingkan dengan tubuhnya yang hanya tinggal kulit pembungkus tulang.


"Kunti. Aku menemukan induk rusa. Ayo! Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


Belum lagi orangnya sampai, suaranya sudah sampai terlebih dahulu. Ini juga salah satu ilmu pengirim suara yang sangat langka. Jika seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang kuat, mustahil bisa melakukannya.


"Dasar Sontoloyo. Cepatlah! Jangan congor mu saja yang panjang sedepa. Nanti ku ikat, baru tau." Kata wanita tua itu yang juga mengirim suara melalui tenaga dalam sehingga suaranya bergema di seantero hutan itu pantul memantul dari berbagai penjuru.


"Hap!"


"Hehehe. Ini induk rusanya. Cepat Kunti. Nanti anaknya marah."


"Baiklah. Kau jaga api di tungku sana itu! Aku sedang memasak makanan untuk anak setan bagus ini." Kata wanita tua bernama Kunti itu.


Mendengar perintah ini, eyang Santalaya langsung meletakkan induk rusa itu dengan sangat hati-hati lalu segera menjaga api di tungku yang ditunjuk oleh eyang Kunti tadi.


"Anak manis! Sekarang ini pengganti ibu mu ya. Ayo menyusu!" Kata eyang Kunti sambil mendekatkan bibir pangeran Indra ke dekat susu induk rusa tersebut.


Terdengar suara kecepak kecepok dari bibir mungil bayi itu ketika dia mendapatkan apa yang dia cari.


"Nafsu minum anak setan bagus ini sungguh luar biasa. Lihatlah! Dia langsung diam dan tidak menangis lagi." Kata eyang Kunti sambil menggendong tubuh Pangeran Indra dan telah selesai menyusu.


"Anak manis. Ganteng sekali." Kata eyang Kunti sambil menggoyang-goyangkan paha nya yang menjadi bantalan tubuh anak itu.


Seeeer...


"Aih. Apa ini yang hangat?"


"Ladalah! Dasar anak kurang ajar. Kau langsung mengencingi ku ya? Haish!!! Basah semua celana ku yang hanya tinggal satu-satunya ini."


"Hahaha. Ternyata kau juga kena dikerjai oleh anak itu. Kemarin aku juga sama." Kata eyang Santalaya sambil terkekeh geli.

__ADS_1


"Sudah! Jangan banyak omong! Kembalikan segera induk rusa itu kepada anak-anaknya!"


"Baiklah. Aku akan segera mengembalikan induk rusa ini kepada anak-anaknya." Kata eyang Santalaya sambil merunduk dan memanggul kembali tubuh induk rusa itu kemudian melangkah kembali memasuki hutan di mana tadi dia menemukan induk rusa yang sedang menyusui bayi nya tadi.


__ADS_2