
Tiga orang penunggang kuda di barisan paling depan tampak berhenti di depan warung itu. Dia adalah Senopati Suta Wijaya, Adipati Aria Seta serta Wikalpa.
Dengan lagak yang sungguh angkuh dan sombong sambil duduk di atas kuda yang tidak mau diam itu, lelaki bertubuh tambun itu mulai berteriak sambil menunjuk ke semua orang yang seperti terpana dan ketakutan kecuali beberapa orang saja yang hanya tenang-tenang saja memperhatikan.
Saat itu juga, para prajurit yang lengkap dengan perisai dan tombak mulai mengelilingi warung makan tersebut sehingga membentuk pagar perisai dengan ujung tombak yang runcing mengarah kebagian luar siap untuk merajam siapa saja yang berani merempuh pagar perisai itu.
"Katakan kepadaku siapa yang berani melawan perintah ku dan membunuhi para prajurit kadipaten? Lekas katakan atau aku akan membuat kalian mati terpanggang di dalam warung ini!" Bentak Adipati Aria Seta dengan lantang.
Hening seketika. Tidak ada satupun yang membuka mulut.
"Apakah kalian ini gagu hah? Lekas katakan atau aku akan membakar warung ini!"
Semua hanya terdiam dan tidak ada yang menjawab. Hal ini tentu sangat membuat sang Adipati sangat marah.
"Bakar warung ini. Biarkan mereka semua menjadi daging panggang!"
Menggelegar suara sang Adipati memberi perintah.
Begitu perintah turun, kini dari samping rumah dimana para prajurit tadi sedang mengepung, melesat lah beberapa anak panah yang ujungnya telah ditaruh sumbu dan di bakar.
Dalam sekejap saja, siang yang terik itu berubah menjadi mendung karena asap yang membumbung tinggi menutupi matahari karena warung makan yang telah terbakar itu.
Puluhan orang kini berlari berserabutan mencari selamat.
Melihat banyak yang melarikan diri, kini prajurit pemanah mulai melepaskan tembakan anak-anak panah mereka sehingga tidak sedikit yang terluka atau bahkan tewas di tempat karena tertancap anak panah itu.
__ADS_1
"Tetap di belakang ku Kakang!" Teriak Gayatri sambil menangkis lesatan anak panah yang mengarah kearahnya.
Kini, sekitar tiga puluh orang yaitu para prajurit yang menyamar bersama dengan Senopati Arya Prana dan juga keempat pemuda antara lain Pangeran Indra, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri juga telah menghunus senjata masing-masing kemudian melompat ke kancah pertempuran.
Karena Jumlah mereka tidak sebanding dengan jumlah prajurit dari kadipaten Pitulung yang berjumlah hampir mencapai ribuan itu, maka mereka yang memberi perlawanan pun sempat pontang panting menahan gempuran dari para prajurit itu.
"Sialan. Jika begini terus, andai kita tidak mati karena tertusuk panah, kita pasti akan mati karena kehabisan nafas," kata Senopati Arya Prana lalu dengan menggunakan ajian dan peringan tubuh, dia lalu melesat ke atas pohon kemudian memberikan tanda kepada seluruh prajurit yang tadi memberikan uang Ringgit emas kepada para penduduk desa untuk segera membantu.
Begitu tanda itu terlihat oleh mereka, kini sekitar seratusan orang berpakaian serba hitam menunggangi kuda langsung menyerang para prajurit ini dari belakang.
Serangan yang mendadak dari belakang ini berhasil membuat barisan pengepung menjadi berantakan dan kocar-kacir. Hal ini langsung dimanfaatkan oleh mereka yang terkepung untuk membuat serangan balasan.
Serangan balasan dari para prajurit yang memang terlatih ini serta empat orang muda-mudi dari dunia persilatan yang baru saja turun gunung membuat para prajurit ini kelabakan.
Salah satu yang membuat mereka sulit untuk bergerak bebas adalah perisai serta baju besi yang mereka kenakan. Hal ini membuat mereka dengan mudah menjadi bulan-bulanan prajurit dari lembah jati yang melakukan serangan lalu lari. Serang lagi, lalu lari. Ini lah yang paling banyak merepotkan barisan prajurit dari kadipaten Pitulung ini.
"Arya Prana. Pelarian bangsat. Ternyata kau masih hidup heh? Aku nyaris tidak mengenalimu. Tapi, bagaimanapun kau menyamar, tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengenal mu," teriak Wikalpa yang memang pernah bentrok dengan Senopati Arya Prana tujuh belas tahun yang lalu ketika kerajaan Sri Kemuning diserang oleh pasukan dari Paku Bumi.
"Hahaha. Wikalpa.., Wikalpa! Kau ini sungguh tidak tau malu. Mengkhianati raja sendiri demi raja yang tidak sah yaitu Jaya Pradana. Aku Senopati Arya Prana tidak pernah gentar dengan penjahat tengik yang gemar menjilat seperti kau ini. Sekarang aku menginginkan darah pengkhianat mu itu untuk membasuh bumi Pitulung ini yang telah kau kotori dengan angkara murka dan keserakahan kalian!"
Mendengar hal ini, barulah Pangeran Indra Mahesa mengerti siapa tadi lelaki yang banyak bertanya kepada dirinya.
"Hmmm... Pantas saja dia menanyakan lembah bangkai. Tapi, bagaimana dia bisa mengenaliku?" Tanya Pangeran Indra sambil memperhatikan dirinya sendiri.
Dia terus memperhatikan dirinya sampailah pada kain sutra kuning bersulam emas yang melilit di pinggang nya.
__ADS_1
"Aku mengerti sekarang. Tapi bukan waktu yang tepat untuk membuka jati diri. Waktunya akan tiba. Tapi tidak sekarang," kata pangeran Indra lalu berbisik kepada Gayatri.
"Gayatri, apa kau berani melawan orang tua yang dikatakan penghianat itu?" Tanya Pangeran Indra.
"Berani. Dia terlalu banyak bicara, Kakang. Akan aku serang dia. Tapi kakang jangan jauh-jauh dari ku!" Kata Gayatri lalu merogoh kantong yang terikat di pinggangnya dan mengeluarkan senjata rahasia berupa bintang segi empat yang sangat tipis dan tajam.
"Heh! Penghisap darah rakyat. Kau terlalu banyak bicara dari tadi. Sekarang aku ingin membungkam mulut besar mu itu!" Kata Gayatri berteriak lalu tak lama kemudian melesat lah sesuatu dari tangannya membuat Wikalpa terpaksa menghindar berjumpalitan di udara.
Malang bagi prajurit yang berada di belakangnya. Senjata rahasia milik Gayatri tadi langsung menancap di leher prajurit itu.
Tak lama kemudian prajurit tadi langsung tergeletak tanpa nyawa lagi dengan seluruh tubuhnya berubah menjadi biru.
"Kurang ajar. Apa hubungan mu dengan jari Malaikat?" Tanya Wikalpa. Ini karena dia sangat mengenal senjata rahasia itu. Karena senjata rahasia yang dilemparkan menggunakan jari itulah yang membuat guru dari Gayatri ini mendapat gelar dengan panggilan Jari Malaikat di rimba persilatan.
"Hahaha. Jari malaikat adalah Guru ku. Mengapa, apa kau takut?" Tanya Gayatri sambil tersenyum penuh penghinaan.
"Setan bangsat! Ternyata orang-orang di dalam rimba persilatan golongan putih telah ikut campur dalam urusan kerajaan. Mereka akan membayar mahal untuk ini!" Kata Wikalpa dengan marah.
"Itupun kalau kau bisa kembali dari kadipaten Pitulung ini dalam keadaan hidup," kata Gayatri semakin memancing kemarahan Wikalpa.
"Wikalpa. Apakah kau hanya mampu berteriak saja tanpa menyerang?" Tegur dari Senopati Arya Prana.
Teguran bernada hinaan itu mau tidak mau membuat Wikalpa kini benar-benar merasa ditelanjangi di depan prajurit kadipaten Pitulung ini.
Mungkin karena terlalu geram dan marah, dia lalu melompat dari punggung kudanya lalu memukul kuda itu hingga tersungkur ke tanah.
__ADS_1
"Bersiaplah untuk mampus!" Bentaknya sambil mencabut keris nya dari pinggang.
Bersambung...