Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Penyamun lembah jati


__ADS_3

Prang!


"Kurang ajar."


Terdengar suara suara benda dibanting ke lantai disertai bentakan keras membahana dari mulut seorang lelaki berpakaian sangat mewah layaknya seorang Raja besar itu.


Dia adalah Raja Jaya Pradana. Seorang raja yang menduduki tahta kerajaan Sri Kemuning ini dengan cara memberontak.


Baru saja dia mendapat laporan bahwa rombongan prajurit dari kadipaten Bojong Sewu, baru saja di rampok oleh gerombolan perampok yang menamai diri mereka dengan sebutan, Penyamun lembah jati.


Sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu, kawasan perbatasan tiga kerajaan itu aman-aman saja. Tapi kini sejak setahun belakangan ini mulai bermunculan para perampok yang semakin kuat dan ganas di kawasan hutan berlembah itu.


Setiap ada prajurit dari kadipaten Bojong Sewu, kadipaten Kali Bening, kadipaten karang Atos yang ingin menyetor upeti ke kerajaan pusat, akan selalu dihadang oleh gerombolan rampok ini. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk membunuh para prajurit yang melawan keinginan mereka.


Hal ini sedikit banyaknya membuat para Adipati mulai beralasan bahwa alasan mereka untuk tidak mengirimkan upeti adalah bahwa rombongan yang diutus oleh mereka untuk membawa barang-barang ke kerajaan pusat telah di rampok diperbatasan kota raja dan kadipaten Bojong Sewu.


Telah berulang kali para prajurit kerajaan Sri Kemuning dibantu oleh prajurit dari Paku Bumi berusaha untuk memberantas para perampok ini. Namun usaha mereka selalu dapat dipatahkan oleh para perampok itu. Bahkan, tidak sedikit dari para prajurit yang nekat memasuki hutan lembah jati ini berujung dengan kematian. Dan tidak seorangpun yang sudah masuk ke dalam kawasan hutan itu akan keluar dengan tubuh masih bernyawa. Semuanya terbunuh dengan cara yang mengenaskan.


Pernah sekali, sekitar lima ratus prajurit dipimpin langsung oleh seorang punggawa kerajaan yang memiliki pangkat tinggi nekat menyerang kawasan hutan lembah jadi ini. Namun apa yang terjadi, semuanya berakhir dengan tragis.


Tidak seorang pun diantara mereka yang kembali ke kerajaan dengan selamat.


"Aku sangat buntu dengan kelompok perampok yang sangat meresahkan ini. Apa tidak ada diantara kalian yang bisa aku harapkan hah? Apakah aku sendiri yang harus turun tangan membasmi gerombolan perampok itu?" Bentak Raja Jaya Pradana yang tampak sangat murka sekali.

__ADS_1


Dia tidak habis pikir. mengapa sebuah kerajaan kuat dan memiliki nyaris lima puluh ribu pasukan harus kelabakan menghadapi gerombolan perampok yang jumlahnya tidak sampai setengah bahkan seperempat dari jumlah prajurit kadipaten.


"Ampun Gusti Prabu Jaya Pradana. Mereka ini adalah para perampok yang sangat terlatih. Mereka sangat faham seluk-beluk tata keprajuritan. Semua siasat yang kami lakukan dapat dibaca oleh mereka. Itu belum lagi kawasan lembah jati yang dipenuhi dengan perangkap. Salah melangkah, pasti nyawa melayang." Kata Raka Pati sambil menyembah hormat.


"Haaah! Aku tidak butuh alasan. Sekarang aku akan mengadakan sayembara. Barang siapa yang mampu memenggal kepala ketua perampok itu, akan aku hadiahi seribu keping Ringgit emas!" Kata Raja Jaya Pradana.


"Ampun Gusti Prabu. Perampok ini sungguh sangat lihat dan licin sekali. Sampai saat ini, kami tidak mengetahui siapa ketua mereka. Walaupun penyelidikan sudah berulang kali dilakukan."


"Setan alas betul kalian ini. Tidak ada yang bisa kalian perbuat. Jika begini, bagaimana wibawa ku di mata para rakrian Mentri? Bagaimana rakyat akan takut kepada ku? Sebuah kerajaan besar dengan dipimpin oleh Raja yang agung harus kelabakan menghadapi segerombolan perampok," maki Jaya Pradana yang terlihat semakin berang.


"Raka Pati! Aku tidak mau tau. Sekarang juga aku ingin agar kalian bersiap sedia. Kumpulkan lebih dari seribu orang prajurit untuk menjemput upeti dari kadipaten kali Bening. Paksa Adipati Banawa untuk menaikkan pajak seperempat dari hasil bumi kali jernih. Yang membangkang, segera hukum pancung tanpa terkecuali!"


"Sendiko Gusti Prabu! Titah Baginda hamba junjung tinggi." Kata Raka Patih. Dia lalu beringsut mundur dan setelah hampir mencapai pintu, barulah dia bangkit berdiri lalu membalikkan badan untuk melangkah keluar meninggalkan balai sema agung ini.


Puluhan oranq bertopeng kain dan berpakaian serba hitam yang mengatasnamakan diri mereka dengan julukan Penyamun Lembah Jati itu tampak saling memberikan tanda dari berbagai posisi.


Terlihat ada yang merapatkan diri diantara cabang kayu besar. Ada yang bertiarap di balik semak belukar dan ada pula yang bersiap dengan panah yang siap untuk dilepaskan dari busurnya.


Tiga orang berpakaian serba hitam yang bersidekap diantara dahan pohon besar itu tampak memberi tanda agar semua yang berada di bawah untuk tidak melakukan penyerangan ini karena dia menyaksikan saat ini ada sekitar seribu lima ratus orang sengab berjalan dalam dua kelompok sambil mengawal beberapa kereta lembu yang sarat dengan muatan.


Muatan yang ditarik oleh kereta lembu itu ada berbagai macam jenis.


Mulai dari bahan pangan, kain sutra, emas dan lain sebagainya.

__ADS_1


Salah seorang dari ketiga orang berpakaian serba hitam itu tampak mengarahkan telapak tangannya ke arah puluhan orang yang bersembunyi di gerumbulan semak belukar itu sebagai tanda agar mereka jangan sampai melakukan serangan sebelum mendapat perintah.


Berjarak sekitar sepeminuman teh, salah satu dari orang berpakaian hitam yang berada di atas itu melesat turun lalu dengan gerakan yang indah dan ringan sekali, kakinya menotok ujung daun kemudian bersalto beberapa kali lalu mendarat dengan manis didepan salah seorang yang tampaknya adalah pemimpin dari orang-orang bersenjatakan panah.


"Bagaimana Dinda Wiguna?" Tanya seorang lelaki itu kepada lelaki yang baru turun dari pohon kayu yang rindang itu.


"Gila sekali Kakang. Mereka kali ini benar-benar mengirim pasukan yang besar untuk mengawal rombongan pembawa upeti dari Kadipaten kali jernih." Jawab lelaki yang bernama Wiguna itu.


"Apa benar begitu?"


"Benar kakang. Mereka berjumlah hampir seribu lima ratus orang. Jika kita nekat menyerang rombongan itu, sudah pasti kita hanya akan mengantar nyawa saja," kata Wiguna.


Sejenak suasana menjadi hening. Lalu tak lama kemudian, lelaki yang disebut dengan sebutan Arya Prana itu membunyikan tanda lalu segera melesat memasuki hutan lembah jati ini sambil diikuti oleh yang lainnya.


Sebentar saja kini kawasan tempat mereka mengintai rombongan pembawa upeti dari kadipaten kali jernih itu sepi tanpa seorangpun yang tinggal.


"Wiguna. Kau panggil Rangga, Paksi, Arya Permadi untuk menghadap. Kita harus merundingkan semua ini dengan Gusti Permaisuri Galuh Cendana. Mungkin dia mempunyai saran untuk kita," kata Arya Prana.


"Baik Kakang. Aku akan segera menemui mereka," kata Wiguna sambil menyelinap di balik semak belukar lalu segera bertemu dengan Rangga dan yang lainnya.


Setelah menyampaikan pesan dari Senopati Arya Prana, ke-empat lelaki yang berpakaian serba hitam layaknya seorang ninja itu segera mengikuti Wiguna untuk bertemu dan membahas langkah selanjutnya bersama ketua mereka yaitu Senopati Arya Prana.


Bersambung. .

__ADS_1


.


__ADS_2