
Lelah berjalan mengitari desa yang berada di kawasan kota raja, pangeran Indra pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke istana untuk segera beristirahat.
Saat ini, bulan di langit malam semakin terang benderang memancarkan cahayanya seakan menjadi penyuluh bagi langkah kaki sang pangeran yang mulai memasuki taman di kaputren.
"Kakang Indra dari mana saja?" Tegur salah satu dari wanita yang masih duduk di bangku yang terdapat di dekat kolam dengan banyak ragam ikan hiasnya itu.
"Oh. Dinda Sekar Mayang. Aku baru saja mengelilingi desa di sekitar kota raja ini. Aku ingin melihat seperti apa kehidupan di kota raja ini," jawab Pangeran Indra Mahesa kepada wanita muda itu.
Sekar Mayang ini adalah Putri bungsu dari Mahapatih kerajaan Galuh ini yaitu Mahesa Galuh. Dia masih sepupu dengan Permaisuri Galuh Cendana yang masih sebaya dengan Pangeran Indra Mahesa. Namun, ketika Pangeran Indra Mahesa ingin memanggilnya dengan sebutan Bulik, wanita muda ini menolak dan bersikeras untuk tetap dipanggil dengan sebutan Dinda dan dia sendiri memanggil Pangeran Indra Mahesa dengan sebutan kakang. Memang terasa sangat janggal. Tapi mau bagaimana lagi.
"Apakah sebentar lagi akan ada perang, Kakang?" Tanya Sekar Mayang sekedar ingin mengetahui.
"Aku masih belum tau, Dinda. Hanya saja, semuanya harus dipersiapkan. Mengapa Dinda bertanya seperti itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Ah. Tidak apa-apa. Jaga dirimu baik-baik, Kakang!" Kata Sekar Mayang sambil tersenyum manis. Hal ini membuat Pangeran Indra Mahesa menjadi salah tingkah.
Dia mengakui bahwa wanita yang sebaya dengannya ini sangat cantik sekali. Selain wajahnya yang ayu dan lembut, tingkah lakunya juga sangat anggun. Pantaslah menjadi putri kerajaan. Namun, rasa kekaguman itu tidak boleh berlebihan. Bagaimanapun, Pangeran Indra tahu bahwa Sekar Mayang ini adalah putri bungsu dari kakek nya yaitu Mahapatih Mahesa Galuh.
Mahesa Galuh ini adalah saudara kandung lain ibu oleh Gusti Prabu Rakai Galuh. Kalau Gusti Prabu Rakai Galuh lahir dari seorang permaisuri, maka Mahesa Galuh ini terlahir dari seorang selir. Begitu juga dengan Adipati Rakai langit dan Adipati Panembahan Ardiraja. Mereka terlahir dari masing-masing selir. Oleh karena itu, Rakai Galuh lah yang paling berhak atas tahta kerajaan Galuh.
Berbeda dengan Jaya Wardana dan Jaya Pradana. Kedua orang ini sama-sama terlahir dari rahim Permaisuri. Makanya Jaya Pradana merasa memiliki hak yang sama atas tahta kerajaan Sri Kemuning. Setelah Jaya Wardana dinobatkan sebagai Raja, maka dia pun menyusun kekuatan kemudian melakukan pemberontakan.
__ADS_1
"Terimakasih Dinda. Kalau begitu, aku mohon diri dulu!" Kata pangeran Indra lalu bergegas meninggalkan taman itu dengan diiringi oleh sembah dari Putri Sekar Mayang dan para dayang yang lainnya.
*********
"Ehem.., ehem.., ehem!"
Baru saja pangeran Indra Mahesa berlalu dari taman dimana tadi dia bertemu dengan Putri Sekar Mayang, kini dia sudah dikejutkan dengan suara deheman dari seorang gadis yang tidak kalah cantiknya dengan Sekar Mayang tadi.
"Indra Mahesa. Darimana saja kau malam-malam begini? Lewat secara diam-diam seperti pencuri," tegur wanita yang berdehem tadi.
Pangeran Indra Mahesa langsung menghentikan langkahnya ketika dia mendapatkan pertanyaan bernada teguran seperti itu. Dia jelas tau bahwa teguran itu berasal dari Putri Melur yang sedang duduk menikmati keindahan cahaya rembulan di taman kaputren yang bagiannya terpisah dari taman dimana Putri Sekar Mayang tadi duduk.
"Aku baru saja kembali dari melihat-lihat sekitaran desa di kota raja ini. Mereka adalah rakyat ku. Aku berkewajiban untuk memperhatikan mereka semua," jawab Pangeran Indra Mahesa acuh tak acuh.
"Indra Mahesa. Apakah aku begitu menjijikkan bagi mu? Mengapa kau berbicara tanpa memalingkan wajah mu kepada ku?" Tanya Putri Melur merasa tidak senang.
"Mau apa lagi kau Melur? Aku merasa tubuh ku sangat lelah. Aku saat ini juga berusaha untuk menghindari kelelahan terhadap perasaan ku. Aku minta diri dulu!" Kata Pangeran Indra Mahesa lalu segera berlalu.
"Kau..,"
"Kau sudah kembali Kakang?"
__ADS_1
Terdengar satu suara bernada lembut namun sedikit ada ketegasan dalam nada bicaranya yang kontan saja memotong perkataan dari Putri Melur yang tadi ingin mendamprat.
"Gayatri?!"
"Darimana saja kau Kakang? Kami mencari mu kemana-mana,"
"Oh. Aku baru saja berkeliling mencari angin segar," jawab Pangeran Indra.
"Kakang tidak mengajak ku?"
"Iy-iya. Kakang kira, Dinda sangat kelelahan. Makanya kakang pergi sendirian saja,"
"Mari kakang! Kita melihat-lihat keindahan bulan penuh itu. Lihatlah! Indah bukan?" Tanya Gayatri sambil melirik ke arah Putri Melur yang semakin jelek karena rasa jengkel nya.
"Oh. Iy-iya. Iya. Sangat indah sekali. Mari!" Ajak pangeran Indra Mahesa.
Mendapatkan sahutan yang menyenangkan itu, Gayatri pun langsung menggandeng tangan pangeran Indra Mahesa sambil berpaling ke arah belakang dan tersenyum penuh kemenangan ke arah Putri Melur.
Hal ini tentu saja membuat Putri dari kerajaan Garingging ini menjadi berang bukan main.
Dia hanya menghentakkan kakinya ke tanah sebagai ungkapan dari kejengkelan hatinya.
__ADS_1
Bersambung...