Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Amukan Pratisara


__ADS_3

Lelaki yang terjatuh dari kudanya itu kini buru-buru bangkit.


Dari hidungnya terlihat darah segar mulai menetes. Namun, rasa sakit itu tidak dihiraukan olehnya. Dan, dia kini langsung meluruk dengan cepat berniat menerjang Pratisara.


"Pergilah ke neraka!" Bentak Pratisara lalu merunduk sambil meninjukan kepalan tangannya ke arah rusuk prajurit itu.


"Hoek..,"


Brugh..!


Sosok prajurit itu langsung mencelat dari arah datangnya tadi, lalu terjerembab di tanah berdebu dengan darah segar menyembur dari mulutnya.


Prajurit itu langsung tewas seketika tanpa sempat menyentuh sedikitpun kulit Pratisara.


"Kurang ajar! Ayo saudara ku. Mari kita berebut pahala membunuh pengkhianat ini!" Kata tiga orang yang lainnya.


Sementara itu, Larkin berulang kali untuk bangkit berdiri. Namun, sekuat apapun dia berusaha, tetap saja dia gagal lalu kembali terjatuh.


"Ilmu pukulan apa yang digunakan oleh bangsat ini tadi?" Pikir Larkin dalam hati. Dia kini sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa untuk membantu ketiga orang prajurit bawahan Sadewa itu.


"Hahaha. Majulah kalian bertiga agar aku tidak repot-repot membunuh kalian seperti teman mu itu!" Kata Pratisara dengan senyum merendahkan.


"Kalian semua wahai prajurit kerajaan Galuh! Ketahuilah bahwa bangsat Pratisara ini adalah pengkhianat. Dia telah berkomplot dengan Raka Pati untuk menjebak kalian semua. Dia juga telah membocorkan rahasia rencana dari Pangeran Indra Mahesa kepada para prajurit Paku Bumi. Apa kalian tidak melihat bahwa dia tega menumpahkan darah sesama prajurit kerajaan Galuh demi kepengkhianatan yang dia lakukan?!" Teriak Larkin dengan tenaga yang tersisa.


Kini para prajurit dari kerajaan Galuh mulai sedikit bimbang dan ragu tentang siapa yang benar dan salah dalam semua masalah ini. Mereka telah mengenal Larkin dan keempat bawahan Sadewa itu sejak lama. Mereka juga mengenal siapa Pratisara ini, yaitu panglima perang kerajaan Galuh. Walaupun bukan yang tertinggi.


"Apakah kalian akan mempercayai Larkin ini? Aku adalah panglima kalian. Perkataan ku adalah titah bagi kalian. Sekarang aku perintahkan kepada kalian semua untuk mencincang tubuh bangsat ini!" Teriak Pratisara dengan lantang.


Para prajurit kerajaan Galuh kini mulai serba salah antara kata-kata siapa yang dapat dipercaya. Secara jelas memang mereka mengakui bahwa banyak keanehan dari Pratisara ini sejak tadi. Bahkan kedua perwira menengah tadi pun nyaris tertembus anak panah yang dilepaskan oleh Pratisara. Namun, walau bagaimanapun, dalam ketentaraan, Pratisara ini adalah atasan mereka.


"Apakah kalian tidak mendengar perintah?" Bentak Pratisara karena para prajurit itu hanya saling pandang dan berbisik sesama mereka.


"Dasar pengkhianat. Kau melempar batu sembunyi tangan. Kau kira aku tidak tau akal bulus mu? Kau ingin menjerumuskan para prajurit ini ke dalam perangkap. Kau terlalu berambisi untuk menjadi panglima tertinggi di kerajaan Galuh. Karena tidak berhasil, kau berpaling tadah dan berkomplot dengan Raka Pati. Ketika kerajaan Galuh tumbang, kau akan menduduki jabatan sebagai Panglima tertinggi. Kotor sekali otak mu, Pratisara!" Kata Larkin sambil merangkak untuk bangkit.


"Setan alas. Ku sumbat mulut mu itu dengan ujung pedang ku ini!" Bentak Pratisara lalu segera melesat untuk menancapkan ujung pedangnya ke arah bagian mulut Larkin.


Ting!


Tinggal sepersekian inci lagi pedang tersebut akan menembus mulut Larkin, tampak salah satu dari ketiga bawahan Sadewa yang masih hidup menangkis pedang di tangan Pratisara sehingga ujung pedang itu luput menemukan sasarannya.

__ADS_1


"Oh. Kau mau juga ya? Aku akan mengirim kalian berempat ke neraka sekaligus!" Bentak Pratisara lalu segera menyerang lelaki yang menyelamatkan Larkin tadi.


Melihat saudara nya di serang oleh Panglima Pratisara, Kedua orang yang lainnya pun tidak tinggal diam. Kini mereka ikut menyerang Pratisara sehingga pertarungan satu lawan tiga kembali pecah.


Kini tampak Panglima Pratisara sedang memusatkan perhatiannya dari kepungan ketiga prajurit itu dimana dia sedikit kelabakan juga karena mendapat pengeroyokan.


"Matilah kalian semuaaaaaa!" Bentak Pratisara lalu segera meningkatkan serangannya.


Debu kini kembali membumbung tinggi di udara menutupi pandangan dari para prajurit yang menyaksikan pertarungan itu.


Bugh!


Ting!


Plak!


"Aaa...!" Terdengar jeritan dari salah seorang prajurit yang mengeroyok Panglima Pratisara disertai lesatan tubuhnya yang jatuh terlentang di tanah berdebu.


"Hiaaaat..!"


Ting!


Ting!


Bugh!


Satu lagi dari ketiga prajurit itu mencelat keluar dari arena pertarungan dengan darah segar menyembur dari mulutnya.


"Hahahaha. Sekarang giliran mu!" Kata Pratisara sambil menunjuk ke arah satu-satunya prajurit yang tersisa.


"Ketahuilah wahai Pratisara! Andai aku mati, tapi mati ku adalah kematian yang terhormat. Bukan seperti mu. Sampah bagi kerajaan Galuh ini. Kau adalah pengkhianat yang tidak tau malu. Menyesal ibumu melahirkan mu ke dunia ini!"


"Kurang ajar! Sudah mau mati tapi masih bermulut besar. Ucapkan selamat tinggal kepada dunia!" Bentak Pratisara lalu segera menyerang prajurit yang tersisa itu.


"Ayolah pengkhianat! Aku tidak gentar."


"Hiaaaaah!"


Ting!

__ADS_1


Bugh!


Plak!


Wuz...!


Pertarungan kembali pecah antara kedua lelaki itu.


Kali ini, prajurit yang tersisa ini bermati-matian menahan gempuran dari Pratisara sambil terus melontarkan kata-kata hinaan yang menyakitkan hati Pratisara.


"Kau terlalu menghina ku, calon mayat!" Kata Pratisara sambil terus menyerang.


"Mengapa? Kau sakit hati? Aku kira manusia pengkhianat seperti mu itu sudah tidak punya hati. Tanah air sendiri kau khianati. Apa masih pantas orang seperti dirimu ini di sebut manusia? Binatang lebih mulia dari dirimu, Pratisara!" Kata prajurit itu. Dia terus menangkis serangan Pratisara sambil terkadang berlari dan menghindar dengan maksud mengukur waktu.


Dia tau bahwa dia tidak akan menang melawan Pratisara ini. Namun, harapannya adalah, semoga saja pas diwaktu kematiannya nanti, Pangeran Indra Mahesa segera tiba. Ini bisa menghindari bahaya yang akan ditimbulkan oleh Pratisara andai dia membawa para prajurit menuju perangkap yang telah disiapkan oleh Gagak Ireng dan Raka Pati.


"Ayo lawan aku bangsat! Mengapa kau hanya lari dan menghindar?" Kata Pratisara dengan geram sambil mencecar prajurit yang terus saja menghindar.


"Kalau kau merasa mampu, mengapa tak kau dapatkan? Apa harus aku yang menyerahkan batang leher ku padamu?" Ejek Prajurit itu.


Kini Pratisara benar-benar telah kehabisan kesabarannya. Dia lalu menancapkan pedangnya di tanah, kemudian menekuk satu kakinya dengan mulut berkomat-kamit membaca mantra.


Kini, terlihat jelas perubahan pada lengan dan jari jemari Pratisara itu yang berubah warna menjadi hitam.


"Terimalah kematian mu!" Bentak Pratisara lalu segera mendorong kan kedua telapak tangannya ke arah prajurit tadi.


Hawa panas kini langsung menyelimuti sekitar lima tombak keliling, membuat para prajurit kerajaan Galuh yang hanya menjadi penonton langsung mundur karena tidak tahan dengan hawa panas akibat dari ajian yang dilepaskan oleh Pratisara ini.


Segumpal awan berwarna hitam langsung menabrak tubuh prajurit tadi hingga terpental kebelakang lalu jatuh terjengkang dengan pakaian hangus dan tubuh berubah menjadi hitam legam.


Kini dari setiap lobang dan pori-pori di tubuh prajurit yang malang ini mengeluarkan darah kehitaman dengan bau yang sangat busuk.


"Hahahaha. Inilah hukuman bagi orang-orang yang menentang ku!"


"Sekarang aku perintahkan kepada kalian semua untuk mengejar para prajurit Paku Bumi yang telah kabur itu. Siapa pun yang membangkang, akan aku binasakan!" Bentak Pratisara.


"Kalian jangan mau! Dia itu pengkhianat. Kalian akan masuk ke dalam perangkap yang telah mereka siapkan!"


"Heh. Aku hampir melupakan kunyuk satu ini. Sekarang, kau juga akan menyusul keempat prajurit yang membangkang perintah itu!" Kata Pratisara sambil berpaling ke arah Larkin yang masih belum bisa berdiri.

__ADS_1


__ADS_2