
Ribuan mayat kini tampak bergeletakan di tanah dan saling tumpang tindih.
Bau anyir darah disertai bau daging panggang sungguh menusuk ke hidung.
Ribuan burung pemakan bangkai kini tampak beterbangan di angkasa menunggu waktu yang tepat untuk berpesta pora menikmati makanan lezat yang terhidang di lembah hutan jati ini.
Banyaknya burung pemakan bangkai, sangat menarik perhatian bagi sepasang lelaki dan wanita yang sudah berumur lanjut yang saat ini sedang memperhatikan sambil mendongakkan ke angkasa.
Sambil menyumpah serapah, mereka berdua lalu melesat ke arah dahan pohon besar dan cukup tinggi untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi.
"Santalaya. Sepertinya ada peperangan yang sedang terjadi. Dugaan ku adalah, bahwa ini pastilah peperangan antara kerajaan Galuh melawan kerajaan Paku Bumi," kata seorang wanita tua yang sangat keriput laksana hanya tinggal kulit pembungkus tulang.
__ADS_1
"Heh Kunti Bawuk! Menurut mu, apakah kita telah terlambat?" Tanya lelaki tua yang ternyata adalah sepasang guru pangeran Indra Mahesa itu.
"Entahlah. Kita keluar dari pertapaan bukan untuk ikut campur dalam urusan mereka orang-orang kerajaan. Melainkan, ingin menjawab tantangan dari Datuk Hitam. Mari lah cepat! Aku sudah tidak sabar," kata wanita tua itu.
"Baiklah. Ayo kita lihat apa sebenarnya yang terjadi!" Kata Eyang Santalaya lalu segera mendahului Bidadari kipas perak.
"Dasar orang tua lapuk bau tanah yang lupa akan usia. Sejak dulu kau tidak pernah berubah. Main tinggal saja. Itulah mengapa aku tidak mau menjadi istri mu.," kata Nini Kunti Bawuk yang melupakan bahwa dia juga adalah orang tua yang sudah lapuk dan bau tanah.
"Hei.., Santalaya! Mengapa kau tidak menunggu ku hah? Ku remas perkutut mu itu biar tau rasa kau!"
Mendengar teriakkan bagaikan semburan peluru meriam itu, Eyang Santalaya pun langsung menghentikan larinya lalu segera berbalik dan menghampiri wanita yang lebih dikenali oleh orang-orang rimba persilatan sebagai, Bidadari kipas perak.
__ADS_1
"Aku tau aku ini sangat tampan dan berkarisma. Lihatlah! Kau bahkan tidak sanggup berjauhan dengan ku. Oh nasib ku wahai Tuhan yang maha kuasa. Apa salah Dan dosaku hingga kau menimpakan wajah rupawan yang penuh ketampanan yang hakiki ini? Apakah sudah takdirku untuk terus menjadi incaran para wanita? Karma apa ini oh Tuhan?" Kata Eyang Santalaya seolah-olah sedang melantunkan fatwa pujangga.
"Eh setan alas. Lihatlah wajah mu yang sudah keriput itu. Kau itu tidak ubahnya seperti bangkai bernyawa. Mengapa kau begitu percaya diri dengan wajah butut mu itu? Badan kurus kering, rambut sebagian sudah rontok, mata sudah rabun. Ketika angin berhembus kencang, aku khawatir kau akan bisa bertahan. Kau pasti akan di terpa. Dasar orang tua butut kurus kering tak tau diri," omel Nini Kunti Bawuk dengan kata-kata yang sangat menyentuh jiwa raga, dan sanubari di lubuk hati yang terdalam itu.
"Heh Bawuk! Kau itu apa kurangnya? Kurus teriak kurus. Kau itu juga sama dengan ku. Tinggal kulit pembungkus k3ntut!" Sambil mendelik, Eyang Santalaya tampak tidak mau kalah.
"Ku remas burung perkutut mu itu, Santalaya!!!" Kata Nini Kunti Bawuk lalu mengeluarkan jurus-jurus yang membentuk cakar elang yang terkena rematik ke arah bagian bawah tepat di sangkar burung perkutut milik Eyang Santalaya.
Melihat bahaya yang mengancam senjata warisan leluhurnya itu, Eyang Santalaya tidak ingin menunda lagi. Dia segera mengambil langkah seribu, bahkan langkah sejuta meninggalkan Nini Kunti Bawuk yang saat ini kembali menghamburkan kata-kata mutiara yang syahdu.
Puas dengan memaki dan mengumpat, dia segera melesat mengejar ke arah kaburnya Eyang Santalaya tadi.
__ADS_1
Bersambung...