
Berita tentang hancurnya pasukan prajurit dari Paku Bumi yang dipimpin oleh Jaya Pradana dan Raka Pati di lembah jati telah tersebar meluas ke seluruh pelosok negeri setelah Sadewa kembali ke kota raja dan menceritakan semua kejadian di medan perang kepada seluruh isi istana.
Tidak berselang lama, seluruh rakyat baik itu rakyat Sri Kemuning, Setra kencana, kerajaan Galuh, bahkan kerajaan Garingging pun tumpah ruah ke jalan bagi merayakan kemenangan ini.
Tujuh belas tahun lamanya mereka di jajah. Hidup dalam kekangan oleh Raja lalim yaitu Jaya Pradana.
Kini mereka kembali bisa menikmati lagi hidup aman, damai, dan tentram seperti ketika mereka dulu dipimpin oleh seorang raja yang Arif dan bijaksana seperti Jaya Wardana.
Seluruh rakyat langsung tumpah ruah di jalan untuk menyambut sang perwira yang telah membebaskan negri ini.
Dari mulai orang tua, paruh baya, remaja, bahkan anak-anak dengan sabar sepanjang hari menunggu di pinggir jalan berharap pasukan yang dipimpin oleh Putra Mahkota mereka akan melalui jalan itu.
Dari mulai gerbang kota, sampai ke semua rumah milik seluruh rakyat dihiasi dengan berbagai aneka perhiasan. Bagi mereka, ini adalah hari raya yang besar dan harus di rayakan.
Setelah lebih satu pekan menempuh perjalanan, akhirnya pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Indra Mahesa tiba juga di depan gerbang kota raja.
__ADS_1
Rakyat kini berteriak histeris dan sangat mengelu-elukan kembalinya pasukan prajurit yang sengaja melewati kerajaan Sri Kemuning, kemudian Setra kencana kemudian kerajaan Galuh.
Seorang pemuda dengan rambut panjang sebahu, memakai zirah perang, tampak duduk di atas panggung kuda tegap berbulu putih sambil memimpin ribuan prajurit yang berada di belakangnya.
Dengan sebilah keris di tangan kanannya, dan sebilah pedang dengan gagang kepala rajawali tersandang di bahu, pemuda itu melambaikan tangannya ke arah seluruh rakyat.
Gemuruh teriakan seluruh rakyat yang memenuhi pinggiran jalan yang dilalui oleh pasukan itu menggema di angkasa dengan teriakan-teriakan yang mengatakan kata-kata pujian dan pembangkit semangat.
"Hidup Putra Mahkota..,"
"Hidup Sri Kemuning!"
"Hidup Putra Mahkota..,"
"Hidup Sri Kemuning!"
__ADS_1
Begitu pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Indra Mahesa tiba di depan istana, di sana juga telah berkumpul lebih ramai lagi manusia yang memang sudah satu pekan menantikan ketibaan para pahlawan negri yang telah membebaskan negri ini.
Kembalinya pasukan itu di sambut dengan taburan beraneka ragam bunga yang menimbulkan bau wangi semerbak.
Beberapa orang sesepuh kerajaan Sri Kemuning telah menanti kedatangan mereka di tangga menuju lantai istana. Tampak juga di sana ada tiga orang. Resi yang sudah sangat tua memakai pakaian serba putih berdiri sambil memegang kendi-kendi berisi air bunga.
Begitu pangeran Indra Mahesa turun dari kuda tunggangannya, dia langsung di sambut oleh sang resi.
Atas bisikan dari Senopati Arya Prana, Pangeran Indra Mahesa langsung berlutut di depan ke-tiga resi itu yang langsung memegang kepala pangeran Indra Mahesa kemudian mengguyurkan air bunga dari dalam kendi di tangan mereka ke atas kepala pangeran Indra Mahesa.
Terasa sejuk air yang digugurkan di atas kepalanya itu. Lalu, salah satu dari resi itu mempersilahkan Pangeran Indra Mahesa untuk memasuki istana.
Pangeran Indra Mahesa pun memilih masuk ke istana dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana sambil menatap singgasana yang tampak berdiri angkuh di depannya.
"Gusti. Hamba tau bahwa Gusti akan bersemayam di tahta itu. Tapi bukan sekarang saatnya," bisik Senopati Arya Prana.
__ADS_1
"Ah. Aku tidak memikirkan itu. Namun, aku tidak menyukai singgasana itu. Andai kelak aku menjadi raja, aku ingin singgasana ku sendiri. Aku tidak ingin duduk di singgasana peninggalan seorang perampok," jawab pangeran Indra yang dengan sinis menatap ke arah singgasana yang tadinya sering digunakan oleh Jaya Pradana.
Bersambung...