Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Tiba di Puncak Alam


__ADS_3

...Puncak Alam....


Seorang pemuda memakai pakaian serba putih dengan sehelai sutra berwarna kuning keemasan melilit di pinggang nya tampak menggebah kudanya menuju ke sebuah gubuk yang tidak terlalu besar namun sangat kokoh, tertata rapi dan bersih.


Jika diperhatikan, gubuk itu tampak sangat tenang dan sangat sejuk. Ini karena, di sekitar gubuk tersebut terdapat beberapa batang pohon jati dan pohon waru yang usianya mungkin sudah puluhan tahun.


Pemuda yang baru tiba itu tampak menuntun kudanya lalu membiarkan saja kuda tersebut merumput setelah pemuda berpakaian serba putih itu sampai di halaman gubuk tersebut.


"Sampurasun..!" Sapa pemuda itu.


"Sampurasun...!" Katanya sekali lagi karena tidak mendapat jawaban dari si pemilik gubuk.

__ADS_1


"Rampes!" Terdengar suara seorang lelaki tua dari dalam dan kini tampak pintu gubuk tersebut terbuka dan muncullah sosok seorang lelaki tua dengan seluruh rambutnya sudah berwarna putih.


"Terimalah salam sembah saya, Eyang Jari Malaikat!" Kata pemuda itu sambil berlutut.


"Hahaha. Bangunlah cucu ku. Tidak pantas seorang raja berlutut dihadapan orang tua renta yang bau tanah ini. Ayo bangun!" Kata lelaki tua itu sambil mengangkat bahu pemuda yang sedang berlutut di depan nya itu.


"Maafkan aku, Eyang. Karena tidak langsung mengantar Gayatri untuk menemui Eyang di kaki bukit puncak alam ini. Semuanya dikarenakan, banyaknya urusan yang harus aku selesaikan. Sekali lagi, mohon Eyang berkenan untuk memaafkan ku!"


"Sudahlah, Gusti Prabu! Mari silahkan masuk. Gayatri sebentar lagi akan kembali dari kali. Dia telah banyak bercerita tentang diri mu dan dia juga telah menceritakan bahwa kau dan dia telah melangsungkan pernikahan di kadipaten Gedangan," ujar Eyang Jari malaikat sambil tersenyum.


"Ah. Aku sangat menyetujui pernikahan kalian. Bukan karena kau adalah seorang raja. Tapi lebih dari itu, kau memiliki jiwa ksatria dan kepahlawanan yang sangat tinggi. Gayatri tidak salah memilih seorang lelaki yang dapat melindungi dirinya," kata Eyang Jari malaikat pula sambil mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.

__ADS_1


"Terimakasih, Eyang,"


"Gusti Prabu, apakah kedatangan mu ke sini untuk memboyong cucu ku ke istana, jika kau mau menuruti kata-kata orang tua ini, sebaiknya jangan! Ada banyak lidah yang dapat melukai perasaannya nanti di sana. Gayatri adalah anak yatim sejak berusia sepuluh tahun. Aku memungut anak itu di sebuah desa yang di serang oleh gerombolan rampok. Semenjak itu, aku merawat dan membesarkan dirinya seperti cucuku sendiri. Aku tidak tega andai cucuku yang aku sayang, yang aku didik dengan tangan ku ini menderita. Walaupun aku tidak bisa memberikan kemewahan kepadanya, namun dia akan jauh menderita jika tinggal di kaputren istana yang dikelilingi oleh orang-orang berwajah manis, namun berhati busuk,"


"Indra Mahesa menuruti apa yang Eyang katakan. Saat ini, kerajaan sedang baik dan tidak ada masalah. Aku juga telah menitipkan kerajaan Sri Kemuning kepada paman Arya Prana. Seharusnya tidak akan jadi masalah jika aku berada di sini selama setahun, dua ataupun tiga tahun," ujar Gusti Prabu Indra Mahesa.


"Terdengar lebih baik. Tapi harap maklum. Di sini adalah gubuk. Tentunya kehidupan di sini bak langit dan kerak bumi dengan kehidupan di istana," kata Eyang Jari malaikat pula tanpa menutup-nutupi.


"Eyang, dapat di hitung keberadaan ku di istana tidak lebih dari sembilan hari. Selama tujuh belas tahun aku hidup dalam didikan Eyang Santalaya dan Bidadari kipas perak di kaki gunung sumbing. Apakah itu jauh lebih baik dari menetap di kaki bukit puncak alam ini?"


"Selama berbulan-bulan, kami berjuang. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Itu bahkan jauh lebih buruk daripada tinggal di gubuk milik Eyang ini," tambahnya tanpa memandang kehidupan tinggal di gubuk itu lebih menyedihkan daripada apa yang dia jalani selama ini bersama dengan Gayatri dan para pejuang lainnya.

__ADS_1


Eyang Jari malaikat hanya manggut-manggut saja mendengar perkataan pemuda itu. Memang, dia dulu pernah bertemu dengan pemuda ini sewaktu bertemunya para dedengkot dunia persilatan aliran putih di padepokan jati Anom. Di sinilah Indra Mahesa ketika itu berkenalan dengan Gayatri.


Bersambung...


__ADS_2