
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, akhirnya rombongan prajurit berkuda pimpinan Pangeran Indra Mahesa pun berhasil menyusul rombongan yang dipimpin oleh Raden Danu.
Setelah mereka tiba di perbatasan kota raja, beberapa orang mulai mengasingkan diri dari rombongan itu dan kini bersiap-siap hendak berangkat ke arah tujuan masing-masing.
Mereka yang memisahkan diri dari pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Indra Mahesa itu adalah, Eyang Santalaya, Bidadari kipas perak, Bayu Gatra, Andini serta Gayatri.
Mereka memilih untuk kembali ke tempat masing-masing.
Eyang Santalaya akan kembali ke kaki gunung sumbing. Bayu Gatra dan Andini akan kembali ke jati Anom. Rencana mereka adalah untuk mendirikan kembali padepokan jati Anom yang telah dihancurkan oleh Datuk Hitam. Sementara Gayatri, dia akan kembali ke pertapaan milik gurunya yaitu si Jari Malaikat di Puncak Alam.
"Indra Sontoloyo.., ingat janji mu. Jangan membuat aku malu di hadapan sahabat ku si Jari Malaikat. Ku remas kantong kemenyan mu andai kau melanggar perkataan mu sendiri agar kau tidak bisa memiliki keturunan," kata Bidadari kipas perak memperingatkan.
"Murid akan patuh Guru," jawab Pangeran Indra sambil menjura.
"Gayatri.., hati-hati di jalan. Titipkan salam dari ku untuk guru mu. Katakan kepadanya bahwa Kakang bukannya tidak ingin mengantar Dinda sampai ke Puncak alam. Hanya saja, ada banyak urusan yang akan Kakang selesaikan di sini. Apakah Dinda bisa menunggu Kakang?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
__ADS_1
Gayatri hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung melompat ke atas panggung kudanya lalu segera berangkat bersama Bayu Gatra dan Andini.
Sementara itu, Eyang Santalaya dan Bidadari kipas perak entah kemana perginya. Selesai memberikan ancaman, mereka lalu menghilang.
"Dasar sepasang orang tua aneh," gumam Pangeran Indra sambil menggelengkan kepalanya.
"Ku robek mulut mu itu, Indra!"
Terdengar dengan jelas suara Eyang Santalaya membentak dari arah delapan penjuru mata angin. Suara itu pasti dikirim melalui pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.
Di dalam kota raja, kini tampak seluruh rakyat tumpah ruah di jalan-jalan. Mereka saat ini beramai-ramai menanti kedatangan para pahlawan negri yang kembali dari berjuang.
Begitu para prajurit itu tiba, masing-masing dari mereka berlutut di depan orang tua mereka. Bagi orang tua yang anaknya gugur di medan perang, mereka hanya mengelus dada. Ada riak kesedihan di wajah mereka. Namun, ada juga rasa bangga di hati karena kemenangan berada di pihak mereka atas perjuangan sampai titis darah terakhir dari putra mereka.
Di sini, sekali lagi pangeran Indra Mahesa diarak keliling kota raja itu oleh seluruh rakyat yang bersorak gembira atas kemenangan mereka.
__ADS_1
Kini, tidak ada lagi kekhawatiran. Yang ada, hanya senyum bangga dan sepertinya, ini akan dirayakan selama sebulan penuh.
Selesai mengarak pangeran Indra Mahesa, mereka pun langsung menuju ke halaman istana yang saat itu sedang di jaga oleh puluhan prajurit.
Melihat istana kerajaan yang saat itu terisi penuh oleh para punggawa, ada debaran yang tak menentu di dada sang Pangeran.
Entah apa lagi masalah baru yang bakal dia hadapi setelah ini.
Apakah mereka akan langsung membahas perjodohan, atau mereka akan membiarkannya beristirahat terlebih dahulu.
Namun, yang pasti dan tidak bisa ditawar-tawar lagi adalah, kenyataan bahwa pangeran Indra memang harus menikahi gadis berdarah biru untuk dia jadikan sebagai permaisuri.
Dia sudah memiliki siapa gadis yang akan dia nikahi atas persetujuan dari Gayatri. Namun tetap saja dia merasa bersalah. Karena, tadinya dia hanya ingin menikahi seorang gadis saja dalam hidupnya. Tapi karena pantang larang dalam sebuah adat istiadat yang tidak bisa dia langgar, maka dia mau tidak mau harus menyetujui andai nanti perjodohan itu benar-benar terjadi.
Bersambung...
__ADS_1