Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pratisara tiba di dalam pasukan Raka Pati


__ADS_3

Tiga orang penunggang kuda itu kini semakin mendekat membuat Gagak Ireng dan Raka Pati dapat dengan jelas melihat bahwa benar adanya lelaki yang di tengah itu adalah Pratisara.


"Apa yang terjadi dengan Pratisara ini, Kakang?" Tanya Gagak Ireng dengan kening berkerut.


"Entahlah. Sepertinya dia mengalami cedera yang cukup parah," jawab Raka Pati yang juga tidak tau apa sebenarnya yang telah terjadi terhadap diri Pratisara.


Gagak Ireng sendiri pun tidak habis pikir dengan keadaan Pratisara yaitu adik seperguruannya itu. Jika hanya ke-lima prajurit seperti yang diceritakan oleh Raka Pati tadi, mustahil Pratisara akan mengalami keadaan seperti ini.


Setelah bergelut dengan perasaannya sendiri, akhirnya kedua prajurit yang mengapit kuda milik Pratisara pun tiba juga di hadapan mereka.


Kedua prajurit tadi langsung memapah tubuh Pratisara dan segera berlutut di hadapan Raka Pati.


"Apa yang terjadi dengan Pratisara ini, Prajurit?" Tanya Raka Pati.


"Ampun Gusti Patih. Hamba tidak tau dengan pasti. Hamba menemukan Gusti Pratisara ini di dekat jalan menuju ke kadipaten Gedangan," jawab Prajurit yang ditugaskan oleh Raka Pati untuk mengintai benteng kadipaten Gedangan itu.

__ADS_1


"Segera dirikan tenda darurat! Panggil tabib!" Perintah Raka Pati.


"Hamba, Gusti Patih!" Jawab prajurit itu sambil menjura hormat kemudian bergegas dengan prajurit yang lainnya untuk mendirikan tenda darurat.


Setelah tenda berdiri dan seorang tabib yang bertugas di pasukan itu memeriksa keadaan Pratisara, kini tahu lah dia apa sebenarnya yang telah terjadi atas diri Pratisara.


Sambil menarik nafas berat, Tabib tersebut langsung menjelaskan kepada Raka Pati dan Gagak Ireng bahwa Pratisara saat ini sedang mengalami kehancuran pusat tenaga dalam yang sama sekali tidak bisa disembuhkan dalam masa setahun dua tahun.


Sang tabib juga mengatakan bahwa walaupun keadaan Pratisara kini baik-baik saja, namun dirinya tidak ubah seperti rakyat biasa yang tidak memiliki apa-apa lagi tentang tenaga dalam. Walaupun dia memiliki jurus-jurus silat yang hebat, namun, tanpa tenaga dalam dan hanya mengandalkan kekuatan luaran saja, maka Pratisara ini tidak lebih baik dari begundal pasar.


Penjelasan dari tabib yang begitu terang benderang ini membuat Raka Pati dan Gagak Ireng saling pandang. Bagi Gagak Ireng sendiri, dia tidak menyangka bahwa adik seperguruannya ini akan mengalami nasib buruk yang sedemikian rupa.


"Diam lah Pratisara! Kau jangan terlalu banyak bergerak. Keadaan mu belum pulih benar!" Kata Gagak Ireng yang dengan cepat mencegah agar Pratisara tidak bangkit.


Pratisara kini dengan mata nyalang hanya bisa memandang langit-langit tenda darurat itu sambil kembali mengingat-ingat apa yang telah terjadi kepada dirinya.

__ADS_1


Perlahan namun pasti, sepotong demi sepotong ingatannya kembali dari mulai dia melakukan serangan, dihadang oleh Larkin, lalu berkelahi melawan Pangeran Indra Mahesa yang membuat hancur pusat dari kekuatan tenaga dalam yang dia miliki.


Kini tampak air mata menetes dari mata milik pengkhianat ini. Dengan lirih dia lalu berucap. "Kakang Gagak Ireng. Kau harus membantu ku. Bisakah kau membunuh ku sekarang juga?" Pinta Pratisara dengan suara bergetar.


"Bicara apa kau ini Pratisara?" Bentak Gagak Ireng.


"Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi sebagai seorang pesilat, sebagai seorang prajurit, bahkan sebagai begundal pasar pun aku sudah tidak layak. Sebagai seorang yang terlahir sebagai kaum rimba persilatan, apalah artinya masih hidup jika sudah tidak memiliki lagi tenaga dalam?" Tanya Pratisara sambil berusaha untuk bangun dan duduk.


"Lihatlah! Bahkan untuk bangkit duduk saja aku kepayahan. Setelah kekuatan tenaga dalam yang aku miliki telah digembosi, aku merasa keadaan tubuhku ini seperti lelaki yang sudah tua renta," kata Pratisara lagi.


"Kau tenang saja. Aku akan meminta bantuan kepada Guru untuk mengembalikan tenaga dalam mu. Pasti akan ada cara," kata Gagak Ireng berusaha membujuk adik seperguruannya itu.


Pratisara hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah, tanda bahwa dia sudah menyerah.


"Ajian lebur Wesi telah menghancurkan seluruh tenaga dalam yang aku miliki. Mana mungkin bisa kembali lagi seperti sedia kala?"

__ADS_1


"Apa? Lebur Wesi?" Tampak Gagak Ireng sangat terkejut mendengar nama ajian yang puluhan tahun yang lalu sempat menggegerkan dunia persilatan.


Bersambung...


__ADS_2