
Pagi itu, setelah menempuh perjalanan berkuda selama lima hari, akhirnya rombongan yang dipimpin oleh Raka Pati tiba juga di kerajaan Galuh.
Kedatangan rombongan pemberontak ini tidak begitu di sambut dengan ramah oleh para pembesar kerajaan Galuh tersebut. Bahkan Raja di kerajaan Galuh sendiri yaitu Gusti Prabu Rakai Galuh menolak untuk bertemu dengan utusan ini.
Jika di pikir, wajar saja jika para pembesar di kerajaan Galuh ini tidak menyambut baik kedatangan Raka Pati yang di utus oleh Pangeran Pradana yang menduduki tampuk kekuasaan di kerajaan Sri Kemuning. Ini karena, Raja sebelumnya yang digulingkan secara paksa itu adalah menantu dari Raja Rakai Galuh alias suami dari putrinya yaitu Permaisuri Galuh Cendana.
Jadi, tidaklah mengherankan jika kedatangan utusan ini hanya dianggap seperti kotoran saja oleh mereka. Namun, Raka Pati tidak menyerah.
Karena penolakan secara tidak langsung ini, Raka Pati yang tadinya hanya ingin berkunjung sekaligus ingin memberi peringatan secara baik-baik, menjadi marah dan langsung meminta untuk bertemu dengan Maha Patih di kerajaan itu dengan ancaman, jika sang Patih tidak berkenan, maka pasukan dari Paku Bumi akan menyerang perbatasan dan akan merebut desa demi desa, kadipaten demi kadipaten sampai akhirnya kerajaan Galuh ini runtuh.
Ancaman ini jelas menaikkan tekanan darah sang Raja. Namun, karena Raka Pati adalah utusan dan pantang menumpahkan darah seorang utusan, maka maha Patih Mahesa Galuh dan Gusti Prabu Rakai Galuh menekan kemarahannya dan mempersilahkan sang utusan itu menghadap di balai sema agung.
***
"Maafkan kami apabila lancang untuk bertemu dengan Gusti Prabu dengan waktu yang tidak tepat. Saya berharap agar Gusti Prabu berkenan menerima kunjungan dari kami ini." Kata Raka Pati dengan lagak angkuh.
"Apakah kau adalah utusan dari Sri Kemuning?" Tanya Mahesa Galuh. Patih dari kerajaan Galuh ini.
"Benar Gusti Patih." Jawab Raka Pati singkat.
"Jika kau hanya seorang Utusan, maka perbaiki caramu itu. Kalau harus tau diri sebagai seorang utusan dan dengan siapa kau bicara saat ini. Jika bukan karena menghormati hukum yang telah disepakati oleh seluruh kerajaan bahwa tidak boleh membunuh seorang utusan, maka saat ini juga kepala mu sudah ku penggal. Kau sama sekali...,"
Gusti Patih Mahesa Galuh langsung menghentikan bicaranya ketika Gusti Prabu Rakai Galuh mengangkat tangannya dan menyuruh sang Patih untuk berhenti bicara.
"Tapi Kanda Prabu." Bantah Sang Patih.
"Sudahlah Dinda Mahesa. Tahan kemarahan mu."
"Apakah Anak durhaka si Pradana itu yang mengutus mu ke mari?" Tanya Sang Raja kepada Raka Pati.
"Benar Gusti Prabu. Dan ini adalah surat dari Gusti Prabu Jaya Pradana untuk Tuan ku." Kata Raka Pati lalu mengangkat surat itu dengan kedua tangannya di depan kening.
Seorang abdi tampak turun dari anak tangga menghampiri Raka Pati untuk mengambil gulungan surat yang ditulis di atas kulit rusa itu dan menyerahkan kepada Prabu Rakai Galuh.
__ADS_1
Dengan tenang, Gusti Prabu Rakai Galuh menerima surat tersebut lalu memerintahkan kepada Maha Patih Mahesa Galuh untuk membacakannya.
*********
Warkah dari maha raja yang bertahta di tiga kerajaan besar Paku bumi, pandan Selo dan Sri Kemuning.
Aku lah maha raja dan akan menjadi raja di raja di mayapada ini. Dengan begini, tidak ada kepala yang tidak tunduk ketika aku melewati mereka.
Raja agung dari Sri Kemuning. Jaya Pradana, kepada Bawahannya yaitu Rakai Galuh.
Merah padam wajah sang Patih membacakan isi pertama dari surat yang dikirimkan oleh Pradana melalui Raka Pati itu.
"Teruskan!" Perintah sang Prabu dengan tetap tenang.
Dengan tangan bergetar dan suara yang tampak jelas memendam kemarahan, Patih Mahesa Galuh mulai membacakan kembali isi dari surat tersebut.
"Rakai Galuh. Saat ini aku, Tuan mu sedang mengejar rombongan pelarian dari Sri Kemuning bernama Galuh Cendana. Dia adalah mantan Permaisuri yang kekuasaannya telah aku ratakan dengan tanah.
Aku tau bahwa dia adalah putri mu satu-satunya dan kau sangat menyayangi Putri mu itu. Tapi itu bukan alasan bagimu untuk melindungi seorang pelarian!
Aku memiliki lima ribu tentara penunggang kuda. Dua ribu tentara pemanah. Dua ribu tentara penghancur benteng. Serta sepuluh ribu pasukan pejalan kaki di tambah seribu pasukan perintis. Jika kau mencoba melindungi pelarian yang aku inginkan untuk diadili di alun-alun Sri Kemuning, maka kau secara langsung telah membuka silang sengketa dengan ku. Dan aku tidak akan segan-segan meruntuhkan kekuasaan mu seperti aku meruntuhkan kekuasaan Jaya Wardana. Sebaliknya, jika kau mau menyerahkan pelarian itu dan mengirimkan langsung ke kerajaan Sri Kemuning, maka aku akan memastikan bahwa kerajaan mu tetap utuh dan kau akan tetap menduduki tahta singgasana mu dengan tenang.
Aku tidak pernah berdusta dengan ancaman ku. Dan aku akan melaksanakan apa yang telah aku katakan.
Ingat! Jangan coba-coba untuk melindungi orang yang sedang aku buru atau buruk akibatnya!"
"Tuan mu. Maha Raja Jaya Pradana!"
Prak!!!
"Kurang ajar!"
Tampak Maha Patih Mahesa Galuh membanting surat yang ditulis di atas kulit rusa itu di lantai balai sema agung ini.
__ADS_1
Dengan muka merah padam dan tangan bergetar, dia turun dari tangga dan berjalan menghampiri Raka Pati yang tampak tersenyum penuh ejekan kepadanya.
"Ada apa dengan mu Gusti Patih Mahesa Galuh? Apakah kau ingin membunuh ku di sini? Di dalam kerajaan mu ini? Jika begitu, maka lakukanlah dengan segera! Dengan begini, kau dan kerajaan mu ini akan di kucilkan dan akan di kecam oleh kerajaan lain. Jika sudah begini, maka akan dengan sangat mudah bagi Paku Bumi untuk menyerang kerajaan Galuh tanpa alasan sedikitpun. Ayo lakukan!" Kata Raka Pati sambil menyodorkan lehernya.
"Kau!"
"Mengapa Mahesa Galuh? Kau takut?"
"Dinda Mahesa Galuh, kembali ke kursi mu!" Perintah Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Tapi Kanda?!"
"Kembali kata ku!"
"Daulat Gusti Prabu!" Kata Mahesa Galuh sambil membungkuk hormat.
Dengan langkah menghentak karena geram, Patih Mahesa Galuh pun lalu berjalan kembali ke kursinya dan menghempaskan pantatnya dengan kasar di kursi tersebut.
"Wahai utusan Jaya Pradana. Katakan kepada raja mu bahwa di sini tidak ada orang yang dia sebut sebagai pelarian. Jika kau tidak percaya, silahkan untuk melihat-lihat sendiri di sekitar kawasan kota raja kerajaan Galuh ini."
"Satu hal lagi. Jika raja mu menganggap bahwa kami bisa di ancam dengan mudah oleh kekuatan puluhan ribu pasukan yang dia miliki, maka kami tidak akan gentar walaupun kami tidak mungkin memang melawan kekuatan prajurit Paku Bumi."
"Kerajaan Galuh ini di dirikan atas dasar keberanian dari seorang yang berjiwa ksatria oleh pendahulu ku. Dan darah ksatria itu masih mengalir dalam tubuh ku. Maka, jika dia menganggap bahwa aku takut dengan ancaman itu, raja mu salah besar."
"Sekali lagi aku katakan, bahwa di sini tidak ada pelarian. Katakan kepada junjungan mu jika ingin menyerang kerajaan Galuh, kami hanya bisa menyambut tentara kalian dengan tentara kami. Tidak perlu mencari alasan dengan mengatakan bahwa kami melindungi rombongan pelarian dari Kerajaan Sri Kemuning."
"Senopati Wijaya! Antar utusan ini keluar dari lingkungan istana. Semuanya sudah jelas. Terserah kepada raja mereka menanggapi seperti apa." Kata Gusti Prabu Rakai Galuh lalu berbalik badan menuju ke kaputren.
"Silahkan Tuan utusan!" Kata Senopati Wijaya dengan gestur mempersilahkan.
"Huh!" Kata Raka Pati sambil mengibaskan pakaiannya lalu melangkah keluar menuju tempat kudanya di tambat lalu melompat dengan ringan di atas punggung kudanya.
Setelah berada di atas punggung kuda itu, dia lalu menggebah kuda tersebut untuk meninggalkan kawasan istana ini sambil diikuti oleh puluhan prajurit yang mengiringi perjalanannya menuju kerajaan Galuh itu.
__ADS_1
Bersambung...