Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
menguji keaslian keris tumbal kemuning


__ADS_3

Begitu perintah dari masing-masing sesepuh itu keluar, yang menyatakan bahwa seluruh murid-murid yang berada di pendopo itu untuk pergi, kini semuanya menuruti dan mulai beranjak untuk meninggalkan bangunan tambahan di depan rumah besar milik Dewa Pedang itu. Pangeran Indra juga termasuk salah satu dari sekian banyak nya mereka yang akan meninggalkan tempat itu.


"Indra tetap di sini!" Kata Mata Elang membuat Pangeran Indra mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Kakang Anom. Aku tau bahwa sisa-sisa pasukan dari kerajaan Sri Kemuning masih gigih memberikan perlawanan terhadap kezaliman Jaya Pradana yang dibantu oleh golongan hitam rimba persilatan. Namun begitu, mereka hanyalah orang biasa tanpa pemimpin yang akan mewarisi tahta. Katakanlah bahwa saat ini bersama mereka masih ada Permaisuri Galuh Cendana. Tapi itu tidak menjamin bahwa andai dia menikah lagi, maka putranya akan menjadi raja di Kerajaan Sri Kemuning. Oleh karena itu, perjuangan mereka hanya sebatas membantu rakyat yang tertindas. Bukan untuk menggulingkan kekuasaan Jaya Pradana," kata Mata Elang membuka kembali pembahasan mereka setelah para murid yang tadi berada agak terpisah dari mereka telah menjauh meninggalkan pendopo itu.


"Apa maksudnya, Mata Elang? Janganlah kau bermain teka-teki. Ceritakan kepada ku apa yang kau ketahui!" Pinta Dewa Pedang alias Anom, mahaguru di padepokan jati Anom ini.


"Kakang Santalaya, sekitar tujuh belas tahun yang lalu telah menolong seorang bayi orok yang terjatuh ke dalam jurang lembah bangkai. Sebaiknya, kakang Santalaya sendiri yang menceritakan semuanya!" Pinta Mata Elang.


Seluruh mata kini memandang ke arah Eyang Santalaya. Mereka saat ini menunggu apa yang akan dikatakan oleh lelaki yang sudah sangat tua itu.


"Kejadian itu tepat tujuh belas tahun yang lalu ketika aku sedang bertapa di jurang lembah bangkai," kata Eyang Santalaya.


Dia lalu menceritakan semuanya dengan sangat gamblang. Mulai dari pangeran Indra terjatuh ke dalam jurang, sampailah terjadi bentrok antara dirinya dengan para prajurit dari Paku Bumi.


"Anak muda, siapa namamu?" Tanya Dewa Pedang.


"Nama ku adalah Indra, Eyang!" Jawab Pangeran Indra Mahesa.


"Apakah hanya Indra saja?" Tanya Dewa Pedang lagi.


"Indra. Indra Sontoloyo," jawab pangeran Indra pula membuat mereka yang ada di tempat itu mengulum senyum.

__ADS_1


"Apakah kau yang memberikan nama Indra kepada anak ini, Santalaya?" Tanya Jari Malaikat.


"Tidak sahabatku. Aku hanya mendengar suara seorang wanita meneriakkan nama Indra ketika anak ini terperosok jatuh ke dalam jurang," jawab Eyang Santalaya.


"Setahuku, menurut kabar dari murid-murid ku yang telah turun gunung sekitar tujuh belas tahun yang lalu, mereka mendengar kabar lalu mengatakan kepadaku bahwa, ketika sang permaisuri melarikan diri, beliau memang membawa serta Putra Mahkota bersama dengan keris tumbal kemuning lambang kerajaan. Jika keris tumbal kemuning itu ada pada pemuda ini, maka sah lah bahwa dia adalah putra mahkota kerajaan Sri Kemuning yang emang konon kabarnya terjatuh ke dalam jurang lembah bangkai,"


"Apa tandanya jika memang keris itu ada, Kakang? Maaf, bukannya aku tidak percaya atau meragukan perkataan dari Kakang Santalaya ini. Namun, jika memang nyatanya keris itu ada, maka, bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa keris tumbal kemuning itu asli atau palsu?" Tanya Bima Purana yang ingin memastikan jika tidak ada siapapun yang memanfaatkan kemelut ini dan mengaku-aku bahwa dialah pangeran yang terjatuh ke dalam jurang di lembah bangkai itu.


"Keris itu adalah keris buatan Kiai Ageng Empu Jaya Reksa. Suatu ketika dahulu, setiap seratus tahun akan terbit bintang Kemukus yang akan menjatuhkan sesuatu ke bumi ini yang bisa dijadikan sebagai bahan dasar untuk membuat senjata. Macam-macam senjata bertuah bisa di tempah dari benda yang jatuh itu. Ayahanda Sri Baginda Perkasa Alam berhasil mendapatkan benda itu melalui semedi dan membawanya kepada Kiai Ageng Empu Jaya Reksa untuk dibuatkan sebilah keris yang kelak akan dijadikan sebagai lambang sah nya sebuah kekuasaan di Sri Kemuning,"


"Butuh waktu dua belas tahun untuk membuat sebilah keris yang akhirnya dinamakan dengan nama, Keris tumbal kemuning. Sementara itu, Kiai Ageng Empu Jaya Reksa telah memasukkan ruh seekor naga dari dasar laut untuk menjaga sekaligus menjadi khadam di dalam keris tersebut. Jika bukan dari keturunan Sri Baginda Perkasa Alam, maka tidak akan ada yang mampu mencabut keris itu, walaupun kekuatan tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan," jawab Dewa Pedang dengan mantap.


"Indra. Sekarang lah waktunya untuk mengetahui apakah kau benar-benar adalah pangeran dari kerajaan Sri Kemuning atau bukan. Sekarang, keluarkan keris mu biar mereka membuktikannya sendiri!" Kata Bidadari kipas perak memerintahkan kepada Pangeran Indra untuk menguji apakah para sesepuh di rimba persilatan ini mampu atau tidak untuk menghunus keris tumbal kemuning itu dari warangkanya.


"Siapa diantara kalian yang ingin mencobanya terlebih dahulu?" Tanya Bidadari kipas perak.


Dengan ini, Jari malaikat pun beringsut beberapa depa ke depan lalu mengatupkan kedua tangannya di depan kening, kemudian mengangkat keris itu dari tempatnya tadi.


"Ikh... Hiaaaat.., ukh. Mengapa kuat sekali?"


Jari malaikat ternyata masih belum puas juga. Dia kini mulai menghimpun seluruh tenaga dalamnya dibarengi dengan ajian lalu mulai menarik kembali gagang keris berbentuk kepala naga tersebut.


"Iiiikhh.., iiiiikh..! Huh. Aku menyerah," kata Jari malaikat lalu meletakkan keris tadi di tempatnya, memberi hormat lalu beringsut mundur.

__ADS_1


"Ada lagi yang mau mencoba?" Tanya Bidadari kipas perak sekali lagi.


"Maaf sebelumnya. Bukannya aku ingin pamer kekuatan di sini. Hanya saja, selagi belum mencoba, aku akan terus dihantui oleh rasa penasaran," kata Bima Purana pula sambil beringsut maju ke depan.


Sama dengan Jari malaikat, dia juga mengatupkan kedua tangannya di depan kening lalu mengambil keris tumbal kemuning itu dari tempatnya.


"Hiiih..! Iiiiiaaaaak..!"


"Huh. Kuat sekali!" Kata Bima Purana dengan wajah memerah dan nafas memburu.


Kini giliran Penyair gila pula yang gagal mencabut keris tersebut dari warangkanya. Dia tidak merasa malu karena yakin bahwa tidak akan ada yang bisa mencabut keris tersebut.


Ketika Eyang Santalaya di pinta untuk mengambil bagian, lelaki tua itu jelas menolak. Ini karena beliau sudah jera ditendang oleh kekuatan besar yang terkandung dalam keris tersebut sehingga dinding gubuk reyot milik Bidadari kipas perak jebol tertabrak tubuh kurusnya.


Kini sampai lah pada giliran Dewa Pedang.


Sebelum mengangkat keris tersebut dari tempatnya, terlebih dahulu dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya ke arah dari tangan hingga sebatas siku. Kemudian dia menimang keris itu lalu berusaha mencabutnya.


Entah karena terlalu kuat atau karena takut malu, hampir seluruh kekuatannya dia kerahkan untuk mencabut keris tersebut. Namun yang tidak dia duga adalah, tenaga dalam yang dia kerahkan secara berlebihan tadi malah berbalik arah dan menghantam pemiliknya sendiri sehingga sosok tubuhnya melesat kebelakang menghantam tiang besar kayu jati pendopo itu hingga patah.


Sejenak semuanya lari pontang-panting meninggalkan ruangan pendopo yang telah ambruk itu.


Kini di halaman, tampak Dewa Pedang tergeletak sambil memuntahkan darah segar pertanda bahwa sesepuh golongan putih rimba persilatan itu menderita luka dalam yang cukup parah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2