Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Tiba di Lembah Jati


__ADS_3

Setelah berhari-hari menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya rombongan Pangeran Indra Mahesa, Gayatri, Putri Melur, Putri Sekar Mayang, Sadewa dan seribu pasukan berkuda dari kerajaan Garingging tiba juga di ujung jalan baru yang sengaja di rintis oleh orang-orang lembah jati ketika mereka di kepung oleh para prajurit dari Paku Bumi sekitar satu purnama yang lalu.


Karena jalan ini adalah jalan yang baru di buat dan jalan ini juga adalah jalan terjal dan sebagian adalah rawa-rawa, maka seluruh dari mereka harus menuntun kuda tunggangan mereka masing-masing untuk melalui jalan itu menuju ke perkampungan tersembunyi.


Bagi pangeran Indra, Gayatri dan Sadewa serta seribu prajurit yang menyertai mereka, ini bukanlah sesuatu yang baru. Namun, tidak begitu bagi Putri Melur dan Sekar Mayang. Sepanjang perjalanan, mereka terus saja mengeluh tanpa henti membuat Pangeran Indra nyaris naik pitam.


"Kanda, Pangeran.., mengapa jalan ini begitu Sulit untuk dilalui? Apakah tidak ada jalan yang lebih baik dari ini?" Keluh Putri Melur sambil sesekali terpeleset di atas gambangan kayu balok ketika mereka menyebrangi jalan rawa.


"Benar, Kanda. Apakah perjalanan kita ini masih jauh? Dinda sudah sangat kelelahan," timpal Putri Sekar Mayang pula.


"Bersabarlah Dinda Sekar Mayang dan Putri Melur! Hanya ini saja satu-satunya jalan menuju ke perkampungan tersembunyi di dalam hutan lembah jati ini. Jika kita melewati jalan lorong di bawah tebing, niscaya kita akan mati terkubur oleh batu-batu jebakan yang telah dipersiapkan oleh para pejuang lembah jati ini," kata Pangeran Indra Mahesa berusaha untuk membujuk kedua gadis itu agar tidak terus mengeluh.


Brugh..!


Terdengar suara bergedebuk ketika Putri Melur terpeleset lalu jatuh terhentak di tanah berair sehingga menyebabkan pakaian putih nya menjadi kotor.


"Aduuuh!" Pekik sang Putri sambil berusaha untuk bangkit.


"Kanda! Mengapa hanya melihat saja? Ayo tolong bantuin aku untuk bangun!" Pinta Putri Melur dengan manja sambil mengulurkan tangannya.


Pangeran Indra hanya menghela nafas saja melihat ulah dari Putri Melur ini.


Dia segera mengulurkan tangannya untuk membantu Putri dari kerajaan Garingging ini untuk bangkit walau di dalam hatinya saat ini sungguh sangat kesal.


"Hati-hati Putri! Jalan ini sangat licin," kata Pangeran Indra Mahesa memperingatkan.


"Tanpa diberitahu pun, aku sudah tau," rungut gadis itu.


Gayatri dan Sadewa hanya menarik nafas dalam-dalam saja melihat kemanjaan yang ditunjukkan oleh Putri Melur ini.


"Kanda, Pangeran.., apakah kita boleh beristirahat sejenak?" Tanya Putri Sekar Mayang dengan lembut.

__ADS_1


"Dinda Sekar, kita akan beristirahat di atas bukit di depan sana itu. Bertahanlah sejenak!" Kata Pangeran Indra Mahesa.


Mereka lalu melanjutkan kembali perjalanan yang terasa menjadi sangat lambat karena kedua putri itu terus saja menjadi beban bagi perjalanan mereka.


"Baiklah.., kita beristirahat di sini. Hanya sejenak. Jangan ada yang tidur atau akan di tinggal di tengah-tengah hutan belantara ini. Ketika kalian ada yang tinggal, maka pasrahkan diri kalian untuk menjadi santapan binatang buas di tengah hutan ini!" Kata Pangeran Indra Mahesa sengaja menakut-nakuti mereka.


"Kakang.., aku akan mencari air," kata Gayatri yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Pangeran Indra.


Lebih dari sepeminuman teh, akhirnya Gayatri pun kembali dengan membawa kendi berisi air dan juga satu bumbung bambu terisi penuh air dari sungai.


"Ini Kakang.., minumlah!" Kata Gayatri menyerahkan bumbung bambu kepada Pangeran Indra, lalu menyerahkan sebuah kendi kepada Putri Melur.


"Huh.., aku tidak sudi," kata Putri Melur sambil membuang wajahnya ke arah lain.


Gayatri tidak lagi menawarkan air minum itu kepada Putri Melur. Dia hanya duduk bersandar di sebatang pohon untuk melepaskan lelahnya yang telah menempuh perjalanan panjang itu.


"Baiklah semuanya! Mari kita lanjutkan perjalanan kita ini!" Ajak Pangeran Indra Mahesa lalu segera meraih tali kekang kuda miliknya, lalu menuntun kuda tersebut sambil diikuti oleh Gayatri, Sadewa dan yang lainnya.


*********


Sepanjang itu pula, Pangeran Indra harus benar-benar mengempit perasaan marahnya dan harus benar-benar bersabar atas tingkah laku dari Putri Melur ini.


"Kanda. Aku haus. Bisakah kau memberikan aku air?" Tanya Putri Melur seraya memandang ke arah bumbung bambu yang tersandang di bahu Pangeran Indra.


"Air nya sudah dihabiskan oleh Sadewa. Putri bertahan lah! Sebentar lagi kita akan tiba," kata Pangeran Indra.


Melihat bibir sang Putri sudah retak-retak karena haus, Gayatri segera meloloskan tali pengikat kendi yang tergantung di bahu nya. Dia segera menenggak isi dari kendi tersebut lalu menumpahkan sisa nya ke tanah.


Hijau mata Putri Melur menatap ke arah air yang terus tercurah ke tanah itu.


Sementara itu, Pangeran Indra hanya memalingkan wajahnya ke arah lain sambil tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Gayatri tadi. Dia jelas mendengar bahwa Gayatri tadi dengan berbaik hati menawarkan air itu kepada Putri Melur. Namun, gadis itu menolaknya. Kini, rasakan sendiri!

__ADS_1


"Kanda! Aku haus. Tolong carikan air untuk ku!" Pinta Putri Melur memelas.


Bukannya menurut dengan permintaan dari Putri Melur ini, Pangeran Indra Mahesa malah mengempos ilmu meringankan tubuh nya lalu segera berlari cepat menuju ke perkampungan tersembunyi yang sudah terlihat dari kejauhan.


Gayatri yang melihat ini juga segera menguatkan cengkraman tangannya ke arah tali kekang kudanya, lalu segera berlari sambil menarik kuda itu menyusul kepergian Pangeran Indra yang mendahului mereka dengan hati yang mungkin saja dalam keadaan marah.


"Hamba sudah mengatakan bahwa perjalanan ini sangat berat. Namun Gusti Putri berdua tidak percaya. Jangan lagi membebani Gusti Manggala Yuda dengan tingkah Gusti Putri. Sesungguhnya kami di sini untuk bertaruh nyawa, bukan untuk bersuka ria," kata Sadewa yang sebenarnya sudah sangat muak dengan tingkah Putri Melur dan Putri Sekar Mayang. Bahkan sejak dari kota raja dia sudah sangat muak dengan tingkah manja Putri Raja dan Putri Mahapatih ini.


Setelah menyusuri jalan baru itu sambil menunjukkan riak wajah seperti jeruk purut, akhirnya mereka tiba juga di perkampungan tersembunyi itu.


Di sana mereka dapat menyaksikan kehidupan yang serba kekurangan di kampung ini.


Beruntung bagi mereka karena telah menyediakan perbekalan. Namun, mereka semua harus berhemat cermat agar tidak terancam kelaparan.


Setelah mereka tiba, mereka di sambut oleh Wiguna dan Arya Permadi yang memang mendapat tugas untuk menjaga lembah ini. Selain itu, di sana juga ada Bayu Gatra dan Andini yang tampak sangat bahagia dengan kedatangan Gayatri dan Pangeran Indra Mahesa.


"Adi Indra Mahesa, bagaimana caramu mengungkap pengkhianat itu? Apakah berhasil?" Tanya Bayu Gatra penasaran.


Pangeran Indra Mahesa pun akhirnya menceritakan bahwa ternyata pengkhianat itu bukanlah Larkin, melainkan adalah Pratisara.


Bayu Gatra pun manggut-manggut mendengar penjelasan dari pangeran Indra Mahesa ini.


"Hampir saja kita salah menjatuhkan tangan kasar kepada orang yang tidak bersalah," gumam Bayu Gatra.


"Benar, Kakang. Hampir saja," kata Pangeran Indra Mahesa pula.


"Oh ya, apakah pasukan yang dipimpin oleh Senopati Arya Prana telah tiba?" Tanya Pangeran Indra.


"Sudah. Mereka telah menempatkan para prajurit sesuai dengan yang Adi perintahkan," jawab Bayu Gatra.


"Hmmm. Baiklah. Mari kita lihat di mana kita akan berada. Apakah di pihak yang menang, atau di pihak yang kalah,"

__ADS_1


Pangeran Indra bergumam lirih namun, tetap saja terdengar jelas di telinga mereka yang berada di tempat itu.


Bersambung...


__ADS_2