
"Datuk Marah Lelang?!"
Terdengar suara gumaman dari Senopati Arya Prana ketika melihat lelaki tua berjubah merah darah dengan destar terbuat dari kain berwarna merah juga bertengger di kepalanya.
"Maaf Kisanak Saudagar. Siapa yang Kisanak sebut dengan Datuk Marah Lelang itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa yang mendengar gumaman dari Senopati Arya Prana tadi.
"Hahahaha. Ternyata kau mengenalku. Bagus. Kau harus tau betapa tingginya gunung dihadapan mu ini. Aku lah Datuk Marah Lelang. Penguasa bukit tempurung," kata lelaki tua berjubah merah darah itu dengan lagaknya yang begitu sombong.
"Kakang, sudah lama aku tidak mendengar kabar tentang Datuk Marah Lelang ini. Dahulu, mendiang kakek ku pernah bercerita bahwa Datuk ini menghilang dari rimba persilatan setelah kalah bertarung dengan eyang Santalaya. Konon kabarnya mereka mengadakan pertarungan di pantai timur dengan kekalahan berada di pihak Datuk Marah Lelang ini," kata Panglima Rangga berbisik ke telinga Senopati Arya Prana.
"Benar Dinda Rangga. Cerita itu dulu juga pernah ku dengar dari golongan tua rimba persilatan. Namun tidak ku sangka dia bisa muncul lagi. Pasti akan terjadi huru-hara lagi di rimba persilatan jika tidak segera di tumpas," jawab Senopati Arya Prana sekaligus menyatakan kekhawatirannya tentang dedengkot rimba persilatan golongan hitam yang satu ini.
"Iya. Tapi siapa yang sanggup melawannya? Eyang Santalaya tidak ketahuan di mana rimba nya. Sedangkan Penyair gila, Mata Elang juga telah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan. Aku khawatir kita hanya akan mengantar nyawa saja jika melawan tokoh Kosen papan atas yang tidak memiliki hati nurani ini,"
"Apa boleh buat. Mati sebagai ksatria jauh lebih baik daripada melarikan diri," kata Senopati Arya Prana pula membangkitkan semangat untuk Panglima Rangga, Tumenggung Paksi dan juga sekaligus untuk dirinya sendiri.
Andai di pinta untuk berkata jujur, tentu saja seribu kali dia ingin menghindar dari bertemu dengan lelaki tua ini. Namun apa boleh buat. Andai harus mati, maka matilah secara terhormat.
"Aku minta maaf kepada seluruh Rakyat Sri Kemuning. Aku merasa nyawaku sudah di tenggorokan. Semoga saja setelah kematian kita, para pemuda akan bangkit dan kembali melanjutkan perjuangan kita ini," kata Tumenggung Paksi pula.
Saat itu, setelah puas tertawa terbahak-bahak, Datuk Marah Lelang memalingkan wajahnya ke arah Gayatri lalu bertanya. "Anak bau kencur. Apa hubungan mu dengan si Jari malaikat?" Tanya nya sambil menatap tajam ke arah gadis itu dan Pangeran Indra Mahesa yang berada di belakangnya.
"Beliau adalah guru ku," jawab Gayatri singkat.
"Kembalilah ke puncak alam! Kau bukan lawan ku. Sedangkan guru mu saja dulu nyaris mati di tangan ku. Andai tidak ada si Santalaya yang suka ikut campur urusan orang, niscaya guru mu itu telah menjadi tulang belulang," katanya sambil mendongak.
"Mundur Gayatri!" Pinta pangeran Indra Mahesa.
"Kakang. Kau?!"
"Mundur kata ku!"
Perintah dari Pangeran Indra Mahesa ini memang terdengar lembut. Namun sangat tegas sekali.
"Kita lawan berdua kakang!" Kata Gayatri tidak mau mengalah.
__ADS_1
"Apa kau mendengar perkataan ku? Jika mendengar dan mengerti, maka sekali aku katakan mundur, maka jangan di bantah!"
"Kau yakin kakang?"
Pangeran Indra Mahesa hanya menarik nafas saja menghadapi gadis seperti Gayatri ini.
Dia tidak mau lagi berdebat. Dengan begitu, ketika Gayatri tidak beranjak mundur walau selangkah pun, maka pangeran Indra yang terpaksa harus maju.
Kini posisinya tepat berada di bagian depan kanan gadis itu.
"Orang tua. Maafkan jika aku bertanya kepadamu. Sudah berapa banyak barang-barang yang kau Lelang ketika kau sudah Marah?" Tanya Pangeran Indra berusaha memancing kemarahan lawan.
"Heh. Siapa kau berani bertanya seperti itu kepadaku hah? Apakah sudah bosan hidup?" Bentak Datuk Marah Lelang dengan tatapan berkilat-kilat.
"Jangan cepat marah, Orang tua! Aku khawatir jika kau marah, kau akan melelang murid mu yang sudah kalah dengan seorang wanita itu!" Kata Pangeran Indra sambil menunjuk kepada Wikalpa yang sudah bangkit berdiri.
"Bangsat kau. Kau membokong ku dengan cara curang. Kau membantu gadis itu kan?" Bentak Wikalpa dengan gusar.
"Kau tidak tau malu, Wikalpa. Melawan seorang bocah seperti kami ini, wanita pula. Mengaku saja kalau kau takut kepada Saudagar itu! Kau lalu mengalihkan perhatian kepada gadis ini. Seharusnya, kalau aku jadi dirimu, akan aku panjat pohon besar itu, lalu terjun dengan kepala terlebih dahulu. Biarkan kau mati. Karena hidup pun menanggung malu,"
Merah padam wajah Wikalpa mendengar perkataan penuh hinaan dari Pangeran Indra Mahesa ini.
Tanpa menghiraukan rasa sakit di tubuhnya, dia langsung mengempos semua kekuatannya lalu laksana terbang, dia langsung menyerang pemuda itu.
"Hiaaaat!!!" Teriaknya sambil menghunus keris lalu menikamkan ke bagian lambung kiri Pangeran Indra.
Dengan gerakan yang sangat cepat, pangeran Indra memapas serangan dari Wikalpa ini kemudian menangkap pergelangan tangan lelaki itu.
Bugh!
Bugh!
Plak!
Ketika lengan Wikalpa sudah berada dalam cengkeraman tangannya, dia langsung mengirimkan tendangan bertubi-tubi ke arah paha dan pinggul Wikalpa membuat lelaki itu terombang-ambing seperti sebuah buntalan di tendang ke sana ke mari dengan lengannya masih dalam cengkeraman pangeran Indra.
__ADS_1
Bugh!
"Hoek!"
Terdengar suara keluhan tertahan dari mulut Wikalpa beserta semburan darah segar ketika pangeran Indra menendang tubuhnya yang tepat tersungkur di depan Datuk Marah Lelang.
Wuzzzz!
Criing!
"Ambil keris butut mu itu!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil melemparkan keris yang berhasil dia rebut dari tangan Wikalpa tadi yang langsung menancap tepat di depan hidung lelaki yang sedang tersungkur di tanah itu.
Saat ini, semua mata terbelalak melihat pemuda itu seperti mengajarkan bagaimana cara bertarung kepada Wikalpa yang terkenal memiliki ilmu silat yang tidak rendah tersebut.
Bayu Gatra, Andini, Gayatri, Senopati Arya Prana, Tumenggung Paksi, Panglima Rangga, Wiguna dan Arya Permadi. Mereka semua terkejut melihat Pangeran Indra Mahesa yang tadi tampak seperti orang bodoh kini berubah seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa Wikalpa.
"Dasar murid tidak berguna!" Bentak Datuk Marah Lelang melangkah ke depan sambil melangkahi tubuh Wikalpa yang masih belum bangkit.
"Katakan siapa namamu, siapa guru mu, dan darimana asal mu. Agar aku mudah menuliskan nama di batu nisan mu!" Kata Datuk Marah Lelang.
"Kau orang tua yang tidak tau diri. Siang dan malam cacing tanah mendambakan jasad mu untuk jadi santapan. Kepada orang lain, mungkin mereka akan terkencing-kencing mendengar nama besar mu. Tapi tidak bagi Indra Sontoloyo!"
"Kurang ajar. Kau benar-benar mencari mampus, Anak muda! Bersiaplah! Aku akan mengirim mu ke neraka!"
"Minggir Gayatri! Pertarungan ini tidak mudah. Jangan sampai kau menjadi korban karena salah sasaran,"
Mendengar bahwa pangeran Indra sudah tidak main-main lagi, Gayatri pun langsung mundur dan kini, di depan warung makan yang telah berubah menjadi arang itu, dua pendekar berbeda usia saling berhadap-hadapan dengan jarak tidak sampai sebatang tombak dan siap untuk saling bunuh.
"Hati-hati anak muda. Orang tua itu sangat sakti," kata Senopati Arya Prana memperingatkan.
Jelas dia sangat mengkhawatirkan keselamatan anak muda ini. Baginya, sayang sekali jika anak muda pemberani seperti Pangeran Indra Mahesa ini harus mati di usia yang bisa dikatakan masih sangat panjang. Jarang-jarang dia menemukan keberanian dalam diri pemuda lain seperti keempat orang muda-mudi yang dia jumpai hari ini. Dan sepertinya, ini akan menjadi akhir dari pertemuan mereka, mengingat siapa lawan yang akan di hadapi kali ini.
"Terimakasih Kisanak!" Jawab pangeran Indra lalu memusatkan perhatian kepada lawan.
Bersambung...
__ADS_1