
Semua orang yang duduk di bagian pendopo maupun di dalam warung makan milik lelaki tua itu kini tertuju ke arah seorang saudagar kaya itu.
Ini karena karena terlalu merasa marah, lelaki yang menyamar sebagai saudagar kaya itu tanpa sadar kini memukul meja dengan sangat keras.
Untuk membuat agar tidak terlalu dicurigai oleh para pengunjung yang lain, pemilik warung itu pun terpaksa bersandiwara. Dia kini menjatuhkan diri berlutut di lantai warung makan itu sambil berulang kali memohon ampun atas kelancangannya karena telah menyinggung perasaan orang kaya ini.
"Ampuni Aku, Raden. Aki sudah terlalu tua dan sedikit nyanyuk," kata lelaki pemilik warung itu.
Brakkk!
"Lain kali perhatikan siapa pelanggan mu. Apa harus aku bakar warung milik mu ini agar kau bisa menghargai orang yang seharusnya dihormati seperti aku ini hah?" Bentak sang Senopati bersandiwara.
__ADS_1
"Ampun Raden," kata pemilik warung itu lalu bergegas menyuruh pembantunya untuk segera menghidangkan makanan dan minuman di meja milik Senopati Arya Prana yang menyamar sebagai saudagar kaya itu.
Sementara itu, di meja seberang, tampak Gayatri dan Andini sudah sejak tadi mengepalkan tangannya untuk menghajar lelaki yang terlihat sangat angkuh dan sombong itu.
Berulang kali dia hendak bangkit dari duduknya, berulang kali pula Bayu Gatra menghalangi membuat pendekar wanita itu kembali duduk dan menelan seluruh kemarahannya.
Baginya, dia tidak tega melihat seorang lelaki yang sudah sangat tua seperti pemilik warung ini dibentak oleh lelaki berpakaian mewah yang tampak sangat tidak menghargai orang yang lebih tua.
"Tahan kemarahan mu Andini. Terkadang apa yang terlihat di depan mata, tidak sama dengan yang tersirat. Ada banyak teka-teki dalam hidup yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan sekali lihat saja," kata Bayu Gatra.
Pangeran Indra yang sejak tadi mengerahkan ajian Pembeda Nadi dengan jelas dapat mendengar semua yang mereka katakan. Hanya saja, karena mereka kebanyakan menggunakaan perkataan bahasa sandi, membuat dia tidak dapat menangkap maksud dari pembicaraan kedua orang itu. Tapi yang jelas, mereka itu saat ini sedang bersandiwara. Setidaknya begitulah yang dapat disimpulkan oleh Pangeran Indra Mahesa membuat kesimpulan.
__ADS_1
"Sudah! Jangan urus urusan orang lain yang kita tidak tau kebenaran nya. Mari kita makan. Perjalanan kita masih jauh. Jika kita tidak lekas menukar kuda, nanti kuda-kuda di tempat pedagang kuda tinggal yang jelek-jelek," kata Bayu Gatra sambil menggeser sepiring makanan ke hadapan Andini.
Apa yang dibicarakan oleh dua orang pemuda dan dua orang wanita itu semuanya tidak luput dari perhatian Wiguna, Arya Permadi, Tumenggung Paksi, dan Panglima Rangga.
Mereka memuji keempat pemuda dan gadis itu sebagai anak-anak muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.
"Setelah melihat sendiri, aku yakin bahwa keempat anak muda dan gadis itu bukanlah orang jahat atau mata-mata yang dikirim oleh Jaya Pradana untuk memata-matai lembah jati. Lihat saja tanggapan mereka ketiga Senopati Arya Prana tadi bersandiwara dengan pemilik warung itu. Mereka tampak menggeram terlebih lagi kedua wanita itu," kata Panglima Rangga kepada ketiga orang lainnya.
"Benar juga katamu itu Kakang Rangga. Semoga saja mereka ini bukanlah mata-mata ataupun musuh yang berpura-pura," kata Wiguna sedikit berharap.
"Mereka ini jelas masih sangat muda, dan juga polos. Dugaan ku, bahwa mereka ini baru saja turun gunung," kata Arya Permadi memberikan penilaian.
__ADS_1
"Iya. Semoga saja," kata mereka penuh harap. Karena saat ini hal yang sangat langka di kerajaan yang terjajah ini adalah keberanian para pemudanya untuk menentang penjajahan dan melepaskan diri mereka dari belenggu sehingga bisa berdiri di tanah milik mereka sebagai rakyat yang merdeka.