
"mengapa Santalaya? Kau heran dengan kekuatan yang ku miliki? Hahaha. Ajian sembur Husada hanya permainan anak kecil bagi ku. Apa kau kira bisa mencelakai ku seperti dulu?" Datuk Hitam kini berkacak pinggang sambil tertawa terbahak-bahak mengejek eyang Santalaya yang saat ini juga ikut tertawa.
"Hehehe. Kau ini selalu begitu. Dulu juga kau merasa selalu lebih kuat dariku," balas Eyang Santalaya pula sambil mengatur jarak.
"Keluarkan pukulan Lebur Wesi mu! Kita lihat apakah pukulan mu itu cukup berarti bagiku?" Ejek Datuk Hitam. Semakin pongah saja gaya lelaki tua berpakaian serba hitam itu.
"Hahaha. Jika itu mau mu, maka mari kita tentukan sekarang juga!" Kata eyang Santalaya.
Eyang Santalaya lalu mengacungkan sebelah tangannya ke arah langit lalu perlahan turun sampai sebatas telinga. Namun, ketika turun, tangan kanannya itu kini telah berubah warna menjadi merah laksana bara api.
"Hahaha. Ajian lapuk yang sudah ketinggalan jaman," kata Datuk Hitam sambil mencibir.
Tak mau ketinggalan, dia lalu mengepalkan tinjunya kemudian meninjukan ke arah tanah sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Kini tangan Datuk Hitam telah berubah warna dari batas siku ke bawah menjadi hitam legam.
__ADS_1
Sambil berteriak lantang, Datuk Hitam segera memukulkan tangannya ke depan mengirim pukulan jarak jauh.
Tidak mau ketinggalan, Eyang Santalaya juga menghentakkan kedua tangannya ke arah depan dan kini tampak semburat sinar merah menyala keluar dari telapak tangan itu. Tapi dia tertipu.
Sepersekian kedipan mata, ternyata Datuk Hitam segera melesat ke arah Jaya Pradana lalu mencengkram erat bagian punggung bajunya kemudian melemparkan sosok Jaya Pradana yang sedang memulihkan diri sehingga pukulan yang dilepaskan oleh Eyang Santalaya tadi telak menghantam dadanya.
Di saat semua orang terbelalak melihat kejadian itu, baru lah Datuk Hitam melepaskan pukulannya yang tepat menghantam dada Eyang Santalaya.
Kejadian yang begitu cepat membuat semua mata terbelalak. Terlebih lagi kini ada dua sosok tubuh yang satu melesat jauh dan yang satunya lagi tergeletak di atas tanah dengan keadaan yang mengerikan.
Sementara itu, Eyang Santalaya tampak terpental jauh. Lesatan tubuhnya baru berhenti setelah menabrak sebatang pohon hingga pohon tersebut tumbang.
Darah juga tampak menyembur dari mulut lelaki tua itu.
"Eyang guruuuu..!" Teriak Pangeran Indra Mahesa sambil berlari ke arah tubuh Eyang Santalaya.
__ADS_1
Sementara itu, Bidadari Kipas Perak juga tidak ketinggalan. Dia juga segera melesat mengejar pangeran Indra yang saat ini telah tiba di samping lelaki tua kurus kering itu.
"Hahahaha. Hahahaha..., Apa kau kira bisa menang menghadapi ku, Santalaya?"
Sementara itu, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri tidak ingin menunggu lagi. Mereka langsung saja menyerang Datuk Hitam hingga pertarungan tiga lawan satu pun pecah di tempat itu.
Karena hari sudah semakin gelap, ketika pemuda itu tampak semakin kesulitan menghadapi serangan yang dilancarkan oleh Datuk Hitam.
"Aaaa..,"
Terdengar teriakan dari salah seorang dari ketiga pemuda itu. Kini tampak Bayu Gatra terjerembab di tanah sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Beberapa saat berselang, kini giliran Gayatri dan Andini pula yang terpental ke belakang. Namun keadaan mereka tidak separah Bayu Gatra.
Bersambung...
__ADS_1