Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Teka-teki asal-usul pangeran Indra


__ADS_3

Mata Elang kini berjalan sembari mengelilingi Pangeran Indra Mahesa sambil sesekali memperhatikan kearah pemuda itu.


"Aku tidak sepenuhnya percaya terhadap perkataan mu tadi itu, Santalaya. Anak ini berbeda sekali. Di mana kau menemukan anak ini, Santalaya?'' tanya Mata Elang.


"Hei. Mengapa kau menanyakan itu kepada ku, Mata Elang?" Tanya eyang Santalaya keheranan.


"Mata ku ini sulit untuk di tipu. Apakah aku perlu menjelaskan kepadamu?" Tanya Mata Elang.


"Aku tau julukan mu adalah Mata Elang. Tapi apakah kau bisa melihat garis takdir seseorang?"


"Bukan itu maksudku, Santalaya. Anak ini dari kaum ksatria. Sama sekali bukan dari golongan sudra. Persis seperti seorang pangeran," kata Mata Elang lagi membuat ketiga guru dan murid itu sama-sama saling pandang.


"Memang aku juga berfikir seperti itu. Anak ini jatuh ke jurang tepat tujuh belas tahun yang lalu. Bertepatan dengan runtuhnya kerajaan Sri Kemuning. Aku menduga bahwa Indra ini memang salah satu keturunan bangsawan yang melarikan diri," jawab eyang Santalaya sedikit membenarkan perkataan dari sahabatnya yang berjuluk pendekar Mata Elang itu.


"Mata Elang. Coba kau lihat kain sutra ini!"


"Indra! Buka ikat pinggang mu itu dan berikan kepada Eyang Mata Elang!" Perintah dari Bidadari Kipas Perak.


Pangeran Indra pun membuka lilitan kain sutra kuning yang melilit di pinggang nya lalu memberikan kepada Mata Elang.


"Coba kau perhatikan, Mata Elang! Menurut mu, apakah kau pernah tau tentang sulaman seperti ini berasal dari mana?" Tanya Bidadari kipas perak lagi.


Mata Elang tampak membentangkan kain sutra kuning bersulam emas itu. Dia kemudian memejamkan matanya sambil mengusap sulaman benang emas yang terdapat pada kain sutra berwarna kuning keemasan itu menggunakan tangan kanan dan menyentuh pundak Pangeran Indra dengan tangan kiri.


"Kerajaan Sri Kemuning. Kematian sang penguasa. Terhumban masuk ke dalam jurang. Di tolong oleh Santalaya. Keris tumbal kemuning! Keris itu..,"


Brugh...

__ADS_1


"Akh...!"


Tampak Mata Elang terjungkal kebelakang dengan sudut matanya yang terpejam mengeluarkan darah.


"Kau baik-baik saja, Mata Elang?" Tanya eyang Santalaya.


"Huh. Seekor naga berwarna kuning seperti ingin menelan ku. Karena aku menghindar, dia melibaskan ekornya. Aku terpental jauh ke dasar kawah,"


"Mata Elang. Ayo bangun! Buka mata mu, Mata Elang!" Kata Bidadari Kipas Perak sambil menggoncang tubuh Mata Elang.


"Hah?"


Tampak Mata Elang seperti terbangun dari tidur yang panjang. Dia juga kaget ketika dia mengeluarkan air mata darah.


"Santalaya. Kita bisa membahas masalah ini nanti di dalam pertemuan. Aku sangat yakin bahwa sesuatu yang akan kita bahas nanti berhubungan erat dengan Indra murid mu ini," kata Mata Elang seperti ketakutan.


"Aku melihat pertempuran dua kekuatan yang tak seimbang. Pengkhianatan, kematian penguasa yang sah. Lalu aku melihat seorang wanita di dalam tandu dikejar-kejar seperti hewan buruan. Terjadi pertempuran lagi. Seorang anak lelaki jatuh ke dalam jurang. Sekelebat bayangan putih menyambar tubuh anak itu. Aku yakin itu adalah dirimu, Santalaya. Di sana juga ada sebilah keris. Aku mencoba kembali menelusuri setiap jejak. Namun seekor naga berwarna kuning tiba-tiba muncul hampir menelan ku," kata Mata Elang menjelaskan.


"Naga berwarna kuning. Apakah?"


Kini eyang Santalaya menatap lurus ke arah Pangeran Indra yang tampak mulai berkeringat dingin.


"Eyang, Aku takut," kata pangeran Indra.


"Tenang Indra. Ada kami yang akan membantu dirimu untuk memecahkan teka-teki asal usul mu," kata eyang Santalaya sambil mengelus pundak pemuda itu.


"Eyang Mata Elang. Apakah anda melihat seperti apa keris itu?" Tanya Pangeran Indra mencoba berteka-teki.

__ADS_1


"Menurut penerawangan ku, ini tentunya tidak sepenuhnya benar. Tapi keris itu seluruhnya berwarna kuning. Gagangnya terbuat dari emas murni berbentuk kepada naga. Sedangkan warangkanya terdapat ukiran kuntum-kuntum bunga sebagai tempat kaki naga itu berpijak,"


Kembali Pangeran Indra menyeka butir-butir keringat yang tampak mulai memenuhi keningnya.


"Aku percaya sekarang kepada kepandaian mu, Mata Elang," kata eyang Santalaya memuji dengan kekaguman.


"Indra. Jika kau ingin mengetahui asal usul mu, satu-satunya cara adalah berangkat ke kerajaan Galuh. Ini karena Sri paduka Gusti Prabu Jaya Wardana adalah menantu dari Gusti Prabu Rakai Galuh. Jika kau memaksakan untuk mencari jati dirimu di kerajaan Sri Kemuning, sudah pasti kau akan menemukan kesulitan di sana. Aku berdoa semoga kau segera menemukan keberadaan orang tua mu," kata pendekar Mata Elang sambil menepuk pundak Pangeran Indra.


"Mata Elang. Siapa saja yang sudah tiba di padepokan jati Anom ini?" Tanya Bidadari kipas perak.


"Sudah sangat ramai sekali. Beberapa tokoh Kosen papan atas di rimba persilatan juga telah hadir. Ada Bima Purana. Ada Jari malaikat bersama beberapa murid utama perguruan nya. Ada juga Penyair gila selain aku dan kalian bertiga," jawab Mata Elang.


"Apa tidak sebaiknya kita langsung saja ke pandopo padepokan untuk bergabung bersama dengan mereka?" Tanya Eyang Santalaya pula mengusulkan.


"Ya. Sebaiknya memang begitu," kata Mata Elang mengangguk setuju.


Mereka baru akan melangkah menuju ke sebuah bangunan besar di sekitar desa itu yang merupakan tempat kediaman maha guru Anom atau yang biasa digelar dengan sebutan Dewa Pedang itu ketika dua orang murid utama dari padepokan jati Anom ini datang menghampiri mereka.


Mereka ini adalah dua orang yang kemarin di utus oleh Anom atau Dewa Pedang untuk menyampaikan undangan kepada Eyang Santalaya, Bidadari kipas perak dan Pangeran Indra.


"Selamat datang Eyang Santalaya, Eyang Putri Bidadari kipas perak, eyang Mata Elang dan Andika Indra. Maha guru hamba yaitu Dewa Pedang mengutus hamba untuk menjemput eyang bertiga dan Andika Indra untuk bersama-sama menuju pendopo pertemuan!" Kata murid utama dari padepokan jati Anom itu.


"Silahkan Andika Indra!" Kata lelaki itu sambil mempersilahkan.


"Terimakasih Andika!" Jawab Pangeran Indra pula lalu mereka bertiga berjalan beriringan menyusul ketiga dedengkot dunia persilatan golongan putih itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2