Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Undangan dari padepokan jati Anom


__ADS_3

Brugh!


Grusaaak!!!


"Aduuuh. Setan alas!"


Tampak dua sosok tubuh yang berlari dengan cepat dari arah yang berlawanan bertabrakan di tikungan menuju sungai lalu sama-sama terpental dan terjatuh dengan posisi ngangkang di semak-semak belukar.


Lelaki tua renta yang mencoba berdiri itu tampak mengomel panjang pendek memaki ke arah seorang pemuda yang jatuh tertelungkup mencium tanah.


Tampak wajah pemuda itu belepotan karena debu.


"Setan sekali kau ini Indra. Pertama kau menjerit di sungai seperti orang sinting. Sekarang kau malah menabrak ku. Harus aku hajar!" Kata lelaki tua itu sambil mematahkan ranting pohon kecil lalu melibas pantat pangeran Indra yang masih tertelungkup tadi.


"Ampun eyang. Eyang!!! Jangan pukul lagi. Ku balas nih," kata Pangeran Indra mengancam.


"Apa katamu? Mau membalas? Ku sumpah kau menjadi kodok. Mau kau?" Bentak eyang Santalaya sambil terus melecut tubuh pangeran Indra.


"Lagian kakek sih. Ada apa berlari menggunakan ilmu peringan tubuh? Gara-gara itu tubuh ku ini rasanya seperti di tanduk kerbau,"


"Kau samakan aku dengan kerbau hah? Murid kurang ajar. Perlu di hajar kau ini sampai klenger,"


"Heh Indra goblok. Mengapa tadi kau menjerit di sana itu hah? Kau mengganggu ku saja," kata Eyang Santalaya sambil berkacak pinggang.


"Aku ketakutan, Eyang!"


"Setan apa yang bisa membuat mu ketakutan? Mana setan nya, mana?" Kata eyang Santalaya sambil mencak-mencak dan celingak-celinguk.


Sambil berbalik menelentang, pangeran Indra pun berjanji akan menceritakan semua kerugian yang dia alami setelah nanti tiba di gubuk.


"Gendong aku! Tubuh badan ku sakit semua rasanya ini," kata eyang Santalaya sambil melompat lalu hinggap di atas punggung pangeran Indra.


Kedua murid dan guru yang berada di atas punggung pangeran Indra itu pun berjalan terpincang-pincang menuju ke gubuk di mana Nini Kunti Bawuk sedang menunggu sambil memasukkan tembakau ke dalam sela-sela antara gusi dan bibirnya.


"Dasar tua bangka tak tau diri. Heh Indra! Kau jatuhkan saja orang tua tak tau diri itu!" Teriak Nini Kunti Bawuk ketika melihat pangeran Indra Mahesa menggendong Eyang Santalaya di bekang.

__ADS_1


Mendengar ini, Pangeran Indra langsung melepaskan pegangan tangannya dari genggaman tangan eyang Santalaya menyebabkan eyang Santalaya merosot ke bawah lalu jatuh terlentang.


Bugh!


"Akh... Setan alas. Patah pinggang ku. Heh kau?! Berani sekali mengerjai orang tua!" Bentak Eyang Santalaya.


"Ayang Putri yang menyuruh. Sebagai seorang murid yang patuh, aku harus menurut," kata Indra sambil berlari meninggalkan eyang Santalaya yang masih dalam posisi terlentang di tanah.


"Ku hajar kau!" Kata eyang Santalaya lalu enak saja tubuhnya berputar beberapa kali di udara lalu dengan manis menjejakkan kedua kakinya yang hanya tinggal kulit pembungkus tulang itu di tanah siap untuk mengejar Pangeran Indra.


"Coba saja kalau berani!" Bentak Bidadari kipas perak sambil melompat dari tangga gubuk lalu berkacak pinggang.


Pangeran Indra tampak bersembunyi di belakang punggung wanita tua itu sambil mengejek ke arah eyang Santalaya.


"Hajar saja Eyang Putri. Ayo berkelahi!" Kata Pangeran Indra sambil berjingkrak-jingkrak.


Kini dia bersiap-siap untuk menonton pertunjukan dari kedua dedengkot dunia persilatan yang sebentar lagi akan bertarung itu.


"Eeeh dasar anak setan. Kau ingin mengadu domba kami ya?" Bentak eyang Santalaya dengan sewot.


"Jangan hiraukan perkataan eyang Santalaya itu, eyang putri! Dia sengaja ingin mengalihkan perhatianmu," kata Pangeran Indra terus menjadi batu api agar kedua gurunya itu terus bertikai.


"Hahaha... Kalau hanya adu mulut, kapan benjol nya?" Tanya pangeran Indra semakin memanas-manasi.


Baru saja eyang Santalaya ingin kembali mendamprat, tiba-tiba dari arah lereng tampak dua orang penunggang kuda sedang memacu kuda tunggangan mereka menuju ke gubuk reyot milik eyang Kunti Bawuk ini.


"Stttt!!! Ada yang datang," kata Bidadari kipas perak sambil mengerahkan ajian tatar netra untuk lebih jelas karena penunggang kuda itu masih jauh berada di kawasan persawahan milik warga kaki gunung sumbing ini.


"Siapa mereka eyang?" Tanya pangeran Indra ikut-ikutan mengerahkan ajian tatar netra yang dia pelajari dari bidadari Kipas Perak.


"Sepertinya mereka dari padepokan jati Anom. Pasti kakang Anom yang mengutus mereka kemari," kata eyang Santalaya.


"Sebaiknya kita tunggu saja mereka di sini. Siapa tau ada sesuatu yang sedang terjadi di dunia persilatan,"


Mereka bertiga lalu memasuki gubuk reyot itu sambil menanti ketibaan penunggang kuda yang mereka duga adalah murid dari padepokan jati Anom itu.

__ADS_1


Sekitar sepeminuman teh berlalu, kini dua orang lelaki penunggang kuda yang diduga adalah murid dari padepokan jati Anom itu pun tiba juga di depan gubuk reyot milik Bidadari Kipas Perak ini.


"Sampurasun..," kata salah seorang dari kedua penunggang kuda tadi memberikan salam.


"Rampes!" Jawab ketiga orang yang berada di dalam gubuk itu.


Tak lama kemudian pintu gubuk reyot itu pun terbuka dan dari dalam tampak seorang pemuda yang tidak lain adalah pangeran Indra Mahesa keluar menemui dua orang lelaki penunggang kuda tadi.


"Maaf kisanak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pangeran Indra dengan sopan.


"Oh. Begini Kisanak. Kami ini adalah dua murid dari perguruan jati Anom. Kami diutus oleh eyang guru Anom untuk menyampaikan undangan kepada Nini Kunti Bawuk dan Eyang Santalaya untuk menghadiri pertemuan para tetua padepokan seluruh golongan putih untuk membahas sesuatu yang sedang terjadi di rimba persilatan saat ini," kata salah seorang dari lelaki itu sambil memberikan gulungan daun lontar kepada Pangeran Indra Mahesa.


"Baiklah Kisanak. Silahkan kalian istirahat dulu. Bagaimanapun, kuda milik kalian ini butuh istirahat untuk memulihkan kondisi mereka. Mari saja bantu agar kuda kalian bisa merumput di samping gubuk ku ini," kata Pangeran Indra menawarkan.


"Terimakasih Kisanak,"


"Apakah kalian berdua ini adalah murid dari padepokan milik kakang Anom?"


Terdengar suara dari seorang lelaki tua dari dalam gubuk itu.


"Benar eyang. Apakah saya sedang berbicara dengan eyang Santalaya?" Tanya lelaki tadi.


"Benar sekali. Bagaimana dengan kabar kakang Anom? Apakah dia baik-baik saja?"


"Maha guru dalam keadaan baik-baik saja, Eyang,"


"Hmmm... Sebenarnya ada apa sehingga orang tua itu mengundang kami untuk datang ke padepokan jati Anom?" Tanya eyang Santalaya lagi.


"Mohon maaf eyang. Ini diluar pengetahuan kami berdua. Karena, kami hanya diperintahkan untuk mengantar surat undangan saja tanpa tau alasan dari undangan tersebut," jawab mereka.


"Hmmm.. baiklah. Kalian tentu sangat lelah. Mari duduk dulu. Istirahat lah sebentar sebelum kalian kembali ke padepokan!" Kata Eyang Santalaya kembali menawarkan.


"Terimakasih eyang Santalaya," jawab mereka lalu duduk di dipan yang terbuat dari bambu yang biasa digunakan oleh eyang Santalaya jika sedang kepenatan.


Lebih dari sepenanakan nasi, akhirnya kedua murid dari perguruan jati Anom itu pun berpamitan.

__ADS_1


Eyang Santalaya pun mengizinkan mereka sambil berjanji bahwa keesokan harinya mereka bertiga akan tiba di padepokan jati Anom untuk memenuhi undangan tersebut.


Bersambung...


__ADS_2