
Malam itu, setelah melepaskan keberangkatan Sadewa bersama dengan beberapa orang prajurit bawahannya untuk memata-matai keadaan di kadipaten Karang Kencana, Pangeran Indra Mahesa pun tidak langsung kembali ke keraton.
Dia kini berjalan sendirian melintasi antara rumah-rumah penduduk yang diterangi dengan lampu terbuat dari biji jarak.
Beberapa warung makan di beberapa penginapan tampak ramai di kunjungi oleh orang-orang yang berdatangan dari beberapa daerah. Namun, dapat dipastikan bahwa sebagian besar dari mereka adalah para pengungsi yang memiliki sedikit uang lalu singgah hanya untuk mengisi perut mereka.
Memang, sejak beberapa tahun terakhir ini, kerajaan Galuh ini sering didatangi oleh para pengungsi. Dan sebagian besarnya adalah dari Kerajaan Sri Kemuning. Namun, untuk satu purnama belakangan ini, para pengungsi sudah bukan saja dari Sri Kemuning lagi. Melainkan juga dari kerajaan Setra kencana yang baru saja runtuh akibat ulah dari Jaya Pradana.
Dengan mengenakan pakaian ala pendekar, Pangeran Indra Mahesa tampak bergerak dengan leluasa. Ini sengaja dia lakukan untuk bisa lebih dekat terhadap rakyatnya tanpa ada rasa sungkan karena jenjang kasta diantara mereka.
"Silahkan mampir Den!" Ajak pemilik warung itu ketika Pangeran Indra Mahesa melewati salah satu warung yang tampak masih cukup ramai pengunjung.
__ADS_1
"Baik Pak," kata Pangeran Indra pula lalu segera melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk warung tersebut.
"Mau minum apa Den?" Tanya pemilik warung itu dengan sopan dan ramah.
"Wedang jahe saja Pak!" Jawab Pangeran Indra.
"Sebentar ya Den. Bapak buatkan!" Kata bapak pemilik warung itu.
Kini, Pangeran Indra Mahesa mulai duduk bersandar pada dinding separuh yang menjadi pembatas antara warung tersebut dengan bagian luar warung itu.
"Sepertinya mereka ini bukanlah dari golongan rakyat biasa. Orang-orang ini pasti berasal dari rimba persilatan," kata Pangeran Indra Mahesa dalam hati.
__ADS_1
Sebagai salah satu dari sekian banyaknya orang-orang dari rimba persilatan, bahkan juga sempat berbaur dengan mereka ketika berada di padepokan jati Anom, tau lah Pangeran Indra menilai bahwa mereka ini baik dari pakaian, tutur bahasa serta prilakunya adalah dari dunia persilatan.
"Sayang sekali kakang Bayu Gatra tidak ikut. Andai dia ada di sini, tentulah dia akan sangat mudah mengenali orang-orang dari rimba persilatan ini," katanya lagi dalam hati.
Memang, Bayu Gatra adalah salah satu murid tertua di padepokan jati Anom. Diketahui bahwa dia juga sudah sering turun gunung bagi mengemban tugas yang diberikan oleh Dewa Pedang kepadanya. Hal ini sedikit banyaknya mengasah kemampuan Bayu Gatra di rimba persilatan yang terkenal dengan hukum rimba nya itu.
Lamunan Pangeran Indra Mahesa seketika buyar ketika dari dalam tampak lelaki tua pemilik warung tadi datang untuk menyuguhkan pesanan pemuda itu yang dibalas dengan senyuman oleh pangeran Indra.
"Silahkan, Den!" Kata pemilik warung itu mempersilahkan.
"Terimakasih Pak. Oh ya pak, dari manakah pengunjung kedai bapak ini berasal? Apakah bapak mengetahui sesuatu tentang mereka ini?" Tanya Pangeran Indra.
__ADS_1
"Oh. Mereka ini adalah orang-orang dari rimba persilatan, Den. Kabarnya, mereka kemari karena tertarik dengan kabar penyerangan yang akan dilakukan oleh Jaya Pradana terhadap kerajaan Galuh ini. Mereka ini adalah orang-orang dari kampung ini juga yang merantau menuntut ilmu di berbagai tempat. Mereka sengaja kembali karena ingin ikut dalam mempertahankan tanah kelahiran mereka. Hal ini terlebih lagi karena menyebarnya kabar bahwa putra mahkota dari kerajaan Sri Kemuning juga telah menggabungkan diri dengan prajurit kerajaan Galuh ini. Ini yang menarik perhatian mereka. Karena, konon katanya Gusti Pangeran cucu dari Gusti Prabu Rakai Galuh ini adalah murid sepasang pendekar Kosen papan atas yang sepak terjerang nya sudah tidak bisa diragukan lagi di dunia persilatan," kata bapak pemilik warung itu menjelaskan.
"Wah. Cepat sekali kabar angin ini berhembus. Aku padahal baru saja sehari menginjakkan kaki di kota raja kerajaan Galuh ini," pikir Pangeran Indra Mahesa dalam hati.