
Kerajaan Galuh
Di sebuah desa yang terletak di kadipaten Gedangan yang dipimpin oleh adik tiri dari Gusti Prabu Rakai Galuh bernama Rakai langit tampak sekitar dua ribu pemuda dari berbagai desa dan juga dari beberapa kadipaten lain saat ini sedang melakukan latihan olah keprajuritan.
Pemusatan latihan ini dipimpin langsung oleh seorang Senopati Wijaya kamasraya yang terkenal memiliki kedigdayaan serta telah berjasa dengan banyak melatih para calon prajurit yang akan diterapkan ke dalam pasukan inti bagi pertahanan kerajaan khususnya menjaga perbatasan.
Nantinya dalam dua ribu prajurit ini, akan di saring lagi untuk menjadi pasukan inti. Setelah itu, mereka akan disaring lagi menurut kemampuan masing-masing untuk satu tugas yang sangat rahasia.
Alhasil, dari dua ribu pemuda ini, telah disaring menjadi pasukan inti seramai seribu orang. Dari seribu orang ini disaring lagi menjadi lima ratus dan dari lima ratus ini do saring lagi sampai tinggal lime puluh orang.
Lima puluh orang dari prajurit terbaik ini nantinya yang akan mengemban tugas. Salahsatunya menjadi Purwacaraka, komandan regu, dan lain sebagainya.
Sepertinya, rencana yang telah didiskusikan oleh Gusti Prabu Rakai Galuh bersama dengan sang Mahapatih Mahesa Galuh benar-benar dilaksanakan dengan sangat serius. Ini karena pasukan yang di pimpin oleh Wikalpa dan Gagak Ireng telah berulang kali mengganggu perbatasan dengan kerajaan Setra kencana. Dan ini sangat berbahaya bagi kerajaan Galuh. Andai kerajaan Setra kencana runtuh, maka sudah tidak ada sempadan lagi bagi kerajaan Sri Kemuning yang dipimpin oleh Jaya Pradana untuk menyerang ke perbatasan Kerajaan Galuh.
Tujuh tahun berlalu sejak runtuhnya kerajaan Sri Kemuning, Jaya Pradana yang tamak serta haus kekuasaan itu terus menerus menggerogoti kerajaan Setra kencana. Bahkan mereka telah berhasil merebut tiga Kadipaten di perbatasan antara Setra kencana dan Sri Kemuning.
Ini adalah kekhawatiran yang sangat serius bagi Gusti Prabu Rakai Galuh.
__ADS_1
Berbekal semangat cinta tanah air dari serbuan para penjajah, para pemuda di seluruh kerajaan Galuh datang berbondong-bondong secara suka rela mendaftarkan diri sebagai calon prajurit.
Walau jumlah mereka tidak lah sebesar pasukan dari Sri Kemuning dan Paku Bumi, tapi setidaknya mereka lumayan kuat untuk dihancurkan seperti kerajaan Setra kencana yang saat ini sudah mengumpulkan seluruh pasukan mereka di perbatasan agar tidak direbut lagi oleh Jaya Pradana.
***
"Dinda Rakai langit. Bagaimana dengan perkembangan latihan olah keprajuritan di kadipaten Gedangan?" Tanya Patih Mahesa Galuh kepada adik tirinya itu.
Ayahanda Gusti Prabu Rakai Galuh memiliki seorang istri dan beberapa selir. Dari para selirnya ini, lahir lah beberapa anak yang memimpin setiap kadipaten. Salah satunya adalah Rakai langit.
"Ampun Kakang Mahesa Galuh. Saat ini semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Para prajurit kini sudah menjalani tahap penyaringan setelah beberapa tahun mereka menjalani pemusatan latihan. Diperkirakan, mereka akan segera diserap ke dalam pasukan inti di kota raja dan akan mulai bertugas mengikut titah Baginda Sri paduka Gusti Prabu Rakai Galuh. Setelah itu, kami juga akan kembali mencari bibit-bibit baru untuk kembali di latih sebagai prajurit cadangan," jawab Gusti Adipati Rakai langit.
"Hmmm. Kita memang harus bergerak cepat untuk mengisi kekosongan pusat latihan ini setelah mereka nanti semuanya lolos dan mendapatkan tugas. Untuk saat ini keadaan benar-benar kacau-balau. Cepat atau lambat, pasukan yang dipimpin oleh Wikalpa dan Gagak Ireng akan tiba di sini. Kalau kita tidak mempersiapkan diri, niscaya kerajaan Galuh ini akan bernasib sama dengan Setra kencana," kata Mahapatih Mahesa Galuh.
"Benar kanda Patih. Selama tujuh tahun ini, kerajaan Setra kencana telah kehilangan sebagian besar wilayahnya. Ada tiga kadipaten besar yang berhasil di rebut oleh Jaya Pradana. Yang aku khawatirkan, jika kota raja kerajaan itu jatuh, maka sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan oleh mereka. Dengan begini, sasaran selanjutnya adalah kerajaan kita,"
"Aku sungguh prihatin dengan keadaan yang menimpa kerajaan Setra kencana ini. Tapi mau bagaimana lagi?! Kita tidak bisa membantu mereka. Saat ini kita kekurangan sumber daya. Jalur perdagangan yang biasa kita lalui sudah dikendalikan oleh orang-orang Jaya Pradana. Mereka mengutip cukai yang sangat tinggi dari pedagang. Hal ini membuat perekonomian kerajaan kita semakin menurun dari tahun ke tahun," kata sang Patih.
__ADS_1
"Memang keadaan jadi serba sulit untuk kita. Setiap hari dalam tujuh tahun ini, seluruh kerajaan merasakan kecemasan takut kalau-kalau kota raja kerajaan Setra kencana berhasil diruntuhkan oleh pasukan Jaya Pradana."
"Persiapkan para prajurit kita dengan sematang mungkin. Kita tidak bisa meminta bantuan kepada siapapun untuk menolong kita. Jangan sampai nasib kita sama seperti nasib kerajaan Sri Kemuning yang dipimpin oleh Ananda Jaya Wardana dan kerajaan Setra kencana!" Tandas sang Patih.
"Sendiko dawuh Kakang Patih," jawab Adipati Rakai langit.
Setelah selesai meninjau para prajurit yang saat ini sedang berlatih, Gusti Patih Mahesa Galuh pun meminta diri untuk segera kembali ke kota raja untuk melaporkan perkembangan kepada Gusti Prabu Rakai Galuh.
Dengan diiringi oleh seribu pasukan berkuda, Mahapatih Mahesa Galuh pun segera berangkat dengan diiringi tatapan mata dari Adipati Rakai langit sampai rombongan itu menghilang di balik tikungan jalan.
"Ayo semuanya! Kalian harus latihan dengan semangat. Kelak, keutuhan kerajaan Galuh ini berada di pundak kalian. Asah pedang kalian, mata tombak kalian, serta persiapkan anak dan busur panah kalian. Ini semua demi Agama, Bangsa dan Negara. Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup terjajah,"
Kata-kata dari Adipati Rakai Langit ini lalu membakar semangat para calon prajurit itu sehingga mereka kini kembali bersiap-sedia untuk kembali berlatih.
Ada yang berlatih memanah, menombak, dan ada pula yang berlatih perang tanding dengan pedang dan tombak yang terbuat dari kayu.
Bersambung...
__ADS_1