
Ratusan petani tampak sedang berjongkok dengan tangan masing-masing berada di belakang kepala.
Di depan mereka tampak puluhan prajurit berpakaian perang lengkap dengan senjata pedang dan perisai berdiri mengelilingi mereka yang sama sekali tidak bersenjata itu.
Seorang lelaki berbadan tegap tampak menunggang kudanya berputar-putar diantara barisan para petani yang sedang berjongkok itu. Ditangannya terdapat sebuah cambuk yang siap untuk dilecutkan di punggung para petani yang sudah ketakutan itu.
"Kalian para rakyat di kadipaten Pitulung ini benar-benar suka membangkang terhadap titah Baginda Gusti Prabu Jaya Pradana. Maka kalian semua ini pantas untuk mati!" Kata lelaki tadi sambil terus berputar-putar diantara para petani itu.
"Ampuni kami Gusti Senopati Suta Wijaya. Gusti Senopati sendiri tau bahwa hasil panen kami tahun ini sangat buruk. Jika Gusti Adipati Aria Seta menaikkan pajak menjadi setengah, maka apa lagi yang tersisa untuk dimakan oleh kami?" Jawab kepala desa yang juga turut berada dalam kelompok para petani itu.
"Berani kalian menyalahkan keputusan yang dikeluarkan oleh Gusti Adipati Aria Seta hah? Apa kalian tau bahwa keputusan Gusti Adipati Aria Seta adalah atas Titah dari Sri Baginda Gusti Prabu Jaya Pradana? Sekarang aku tidak mau tau. Serahkan setengah dari hasil panen kalian untuk kerajaan pusat. Lalu seperempatnya lagi untuk diserahkan ke pemerintahan kadipaten. Jika tidak, kau sendiri yang akan menanggung akibatnya," ancam Senopati Suta Wijaya.
"Tolonglah Gusti Senopati. Jika sepertiga hasil panen diambil dari kami, maka kami akan makan apa? Untuk menggarap sawah, mana bisa dengan perut kosong. Kami juga butuh Bakan untuk tetap bisa bekerja di sawah," jawab sang kepala desa itu.
"Kurang ajar!"
Cetar!
"Akh..! Ampun Gusti,"
"Kau terlalu banyak bicara, Kepala desa! Sekarang kau akan mendapatkan hukuman dari pembangkangan mu itu.
"Seret kepala desa ini dengan kuda. Cepat!" Bentak Senopati Suta Wijaya.
Para prajurit kini mulai mengikat kepala desa ini dengan tali tambang lalu menyeret kepala desa itu menggunakan seekor kuda dan mulai berkeliling desa.
Tidak cukup sampai di situ saja, para prajurit itu mulai melibas sang kepala desa Waringin ini hingga guratan luka tampak mengeluarkan darah bercampur dengan debu.
Beberapa orang dari mereka hanya bisa melihat saja dengan tatapan iba melihat perlakuan yang sangat tidak manusiawi itu terhadap kepala desa mereka.
Puas menyiksa sang kepala desa, mereka mulai mendobrak rumah-rumah penduduk lalu mengambil apa saja barang berharga milik mereka.
Apapun itu, asal ada harga, pasti langsung dimuat ke dalam kereta kuda untuk di bawa ke kadipaten Pitulung kemudian dengan upeti, akan di bawa sekalian ke kota raja Sri Kemuning.
__ADS_1
Perlakuan mereka ini terhadap negara jajahan sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka ini adalah prajurit dari kerajaan yang besar. Melainkan perbuatan mereka ini sama sekali tidak apa bedanya dengan gerombolan perampok. Padahal, bagi prajurit itu harus melindungi rakyat. Bukan merampoknya.
Setiap mereka memasuki rumah, pasti berakhir dengan tangisan.
Andai tidak mendapatkan barang berharga, maka mereka tidak segan-segan membakar rumah tersebut sampai menjadi arang.
Puas dengan menyiksa kepala desa, merampas harta benda milik warga desa tersebut, pasukan prajurit yang dipimpin oleh Senopati Kadipaten itu pun pulang ke kota Kadipaten sambil memberikan ancaman bahwa bulan depan mereka akan datang lagi untuk menagih pajak yang tertunggak.
*********
Asap yang membumbung tinggi di udara itu menarik perhatian segerombol penunggang kuda yang melintasi desa itu.
Sejenak mereka saling pandang lalu segera menggebah kuda mereka memasuki desa Waringin ini.
Tiba di desa itu, pemandangan yang sangat menyedihkan langsung menusuk jiwa kemanusiaan orang-orang yang baru tiba tadi.
Beberapa orang langsung turun dari punggung kuda masing-masing lalu menghampiri beberapa warga yang saat itu sedang membetulkan beberapa rumah yang rusak akibat ulah dari prajurit Kadipaten tadi.
"Maaf Paman. Jika boleh saya bertanya, apa yang sedang terjadi di desa ini? Mengapa keadaannya sangat memprihatikan sekali?" Tanya seorang lelaki setengah baya yang baru saja turun dari kuda itu.
"Oh. Nama saya adalah Arya Prana. Ini adik saya bernama Arya Permadi. Kemudian ini Wiguna, Rangga dan Paksi," jawab lelaki itu.
"Arya Prana? Apakah itu? Oh Tuhan. Ampun Gusti Senopati. Hamba yang rabun ini sama sekali tidak mengenali Gusti Senopati Arya Prana. Gusti Tumenggung Paksi dan Gusti Panglima Rangga," kata lelaki itu berbicara dengan sangat gembira.
Beberapa warga kini mulai berkerumun di depan rumah milik warga tadi lalu mulai berbisik-bisik sesama mereka.
"Ah. Tidak perlu begitu sungkan, Paman. Kami hanya sekedar lewat saja. Apa yang terjadi di sini Paman?" Tanya Senopati Arya Prana lagi.
"Gusti Senopati. Lupakan sejenak pertanyaan Gusti itu. Kami hanya ingin mengetahui apakah Gusti Permaisuri Galuh Cendana masih hidup?" Tanya lelaki tadi tanpa menjawab pertanyaan dari Senopati Arya Prana.
"Gusti Permaisuri Galuh Cendana dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, Putra mahkota Indra Mahesa tidak diketahui entah bagaimana nasibnya. Ini karena ketika kami sedang dalam pelarian, terjadi pertempuran di pinggir lembah bangkai. Lalu Putra Mahkota Indra Mahesa jatuh masuk ke jurang," jawab Senopati Arya Prana.
"Oh Tuhan ku. Malang sungguh nasib Rakyat Sri Kemuning," ratap lelaki tadi.
__ADS_1
"Gusti Senopati. Sebenarnya kami di sini sebagian adalah bekas prajurit Kerajaan Sri Kemuning. Setelah menjalani hukuman selama lima tahun, kami di paksa untuk menggarap lahan di kadipaten Pitulung ini dengan sepertiga hasil, diambil oleh mereka dan seperempat nya untuk kami. Kerusakan di desa Waringin yang Gusti lihat ini adalah ulah dari Senopati Suta Wijaya yang memaksa kami untuk membayar pajak. Ketika kami tidak mampu membayar, beginilah jadinya," jawab lelaki itu.
"Biadab. Sungguh sangat biadab. Mereka tidak pantas lagi disebut sebagai manusia. Mereka bahkan lebih rendah daripada binatang," geram mantan Senopati kerajaan Sri Kemuning ini.
"Gusti Senopati. Kami mohon agar Gusti Sudi mengajak kami untuk meninggalkan desa ini. Sejujurnya kami sudah tidak tahan lagi. Karena Gusti Permaisuri Galuh Cendana masih hidup, biarkan kami mengabdikan diri kepada beliau. Kita bisa membentuk kekuatan baru untuk menentang penjajahan ini," kata lelaki tadi penuh harap.
"Bagaimana Dinda Rangga?" Tanya Arya Prana.
"Kita bisa saja membawa mereka, Kanda. Namun, bukankah tugas kita kali ini untuk menyelidiki para pembawa upeti itu?"
"Begini saja. Malam ini, Arya Permadi akan mengetuai rombongan warga desa untuk berangkat ke Lembah Jati. Kebanyakan dari mereka ini adalah mantan prajurit. Tenaga mereka sangat dibutuhkan dikemudian hari,"
"Baiklah kakang Senopati. Saya siap mengetuai rombongan ini," kata Arya Permadi menyanggupi tugas tersebut.
"Pak. Kalau boleh tau, siapa nama mu?" Tanya Arya Prana kepada lelaki tadi.
"Nama saya adalah Perbaya, Gusti Senopati," jawab lelaki itu.
"Perbaya. Apakah kau bersedia jikanku berikan tugas?" Tanya Arya Prana.
"Saya siap, Gusti Senopati!"
"Bagus. Kau berangkat lah ke berbagai desa untuk menghasut penduduk. Katakan kepada mereka bahwa Gusti Permaisuri Galuh Cendana masih hidup. Ajak mereka untuk bergabung dengan perjuangan kami untuk membebaskan negri ini dari para penjajah. Apa kau mampu?"
"Mudah-mudahan saya mampu, Gusti," jawab lelaki bernama Perbaya tadi.
"Bagus. Sekarang suruh mereka untuk mengemas barang-barang mereka! Bawa seperlunya saja. Ini untuk mempermudah perjalanan. Karena, tidak mudah untuk melewati Lembah Jati."
"Sendiko Gusti. Saya akan memberi tahu kepada mereka untuk mengemas barang-barang mereka untuk di bawa. Saya mohon diri dulu Gusti."
"Silahkan!" Kata Arya Prana mempersilahkan.
Kelima mantan punggawa kerajaan Sri Kemuning ini pun lalu berpencar untuk menunggu waktu malam. Karena, setelah malam ini, desa ini akan di kosongkan dan semua warganya akan dipindahkan memasuki kawasan lembah jati.
__ADS_1
Bersambung...