Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Meninggalkan istana


__ADS_3

"Paman Maha Patih. Aku bosan berada di istana terus menerus. Aku ingin berkelana untuk menambah wawasan. Aku titipkan kerajaan Sri Kemuning kepada mu. Paman bukan orang baru dalam hal tata kepemerintahan. Oleh karena itu, aku titipkan kerajaan Sri Kemuning ini. Aku pamit dulu," ujar Gusti Prabu Indra Mahesa kepada Mahapatih Arya Prana tepat setelah dua hari penobatannya sebagai Raja.


"Hamba siap menjalankan amanah dari Gusti Prabu," kata Arya Prana sambil menjura hormat.


"Paman, ketika ketiadaan ku di tempat ini, awasi gerak-gerik dua wanita itu! Aku merasa muak berada di istana karena setiap hari harus menatap wajah tak tau malunya itu. Istana terasa sangat menjijikkan dengan hadirnya wanita itu. Aku menikah dengannya hanyalah sebagai pemenuh syarat untuk menduduki tahta. Sekarang, aku adalah Raja. Terserah mereka mau pulang ke kerajaan Galuh dan Garingging, atau bertahan di sini sebagai wanita tak berguna," kata Gusti Prabu Indra Mahesa sambil membungkus sendiri barang-barang keperluan untuk dia bawa dalam pengembaraannya.


"Berhati-hatilah di jalan, Gusti! Kemana tujuan, Gusti?" Tanya Mahapatih Arya Prana.


"Puncak alam, menemui Gayatri," bisik Prabu Indra Mahesa.

__ADS_1


Mendengar bisikan itu, Mahapatih Arya Prana hanya tersenyum. Dia sudah tau sebenarnya kemana rajanya itu akan pergi. Namun, untuk memperjelas, dia harus tetap bertanya. Dan jawabannya adalah, sesuai dengan yang dia perkirakan.


"Kanda, Prabu..!"


Gusti Prabu Indra Mahesa memalingkan wajahnya ketika satu suara terdengar memanggil namanya.


Setelah melihat ke arah datangnya dua orang wanita sambil diiringi puluhan dayang, bayangan perasaan muak jelas tergambar di wajah raja yang baru ditabalkan dua hari yang lalu itu.


"Ada apa, Dinda Sekar Mayang dan Dinda Melur?" Tanya Prabu Indra Mahesa.

__ADS_1


"Kanda, mau kemanakah gerangan? Kanda baru dua hari dinobatkan sebagai Raja. Dan kita belum genap satu pekan menikah. Apakah Kanda Prabu akan meninggalkan kami?" Tanya Sekar Mayang dengan lembut.


"Dinda, Mayang. Keadaan di kerajaan sangat tenang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Paman Mahapatih bisa memimpin kerajaan ini. Beliau jauh lebih berpengalaman dibandingkan dengan diri Kanda. Karena, beliau dulu adalah sahabat sekaligus bawahan Ayahanda Prabu. Biarkan Kanda keluar dari istana ini untuk mengembara sekalian untuk melihat langsung seluruh rakyat di kerajaan Sri Kemuning ini. Seorang raja yang hanya tinggal di istana, tidak akan tau seperti apa nasib rakyat nya," kata Prabu Indra Mahesa menjelaskan tujuan dari pengembaraannya kali ini.


"Aku tau sebenarnya Kanda bukan ingin pergi mengembara. Melainkan, menemui Gayatri di Puncak Alam. Kanda tidak perlu menyembunyikan semuanya dari kami," ujar Putri Melur dengan wajah asam.


"Sejak kapan aku butuh persetujuan dari kalian berdua kemana aku akan pergi dan siapa yang akan aku temui. Diam di sini dan berbuatlah sewajarnya. Jika tidak, segera kembali ke kerajaan Garingging. Aku tidak pernah menginginkan mu sebagai pendamping ku. Dan kau ingat, wahai Putri manja! Kesan pertama ku dengan mu ketika pertama kali bertemu sangat buruk. Aku menikahi dirimu hanya karena menghormati seorang Raja dan menjaga kehormatan dirinya. Jika tidak, untuk menatap wajah mu pun aku tidak sudi," sambil menghentakkan kakinya, Gusti Prabu Indra Mahesa segera meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke arah dua orang prajurit yang sedang mempersiapkan kuda yang akan menjadi tunggangan nya dalam pengembaraan.


Tak lama setelah itu, suara derap kaki kuda pun terdengar meninggalkan bagian depan istana.

__ADS_1


Ketika mereka melihat ke luar, hanya ada debu yang masih beterbangan bekas telapak kaki kuda tunggangan Gusti Prabu Indra Mahesa tadi.


Bersambung...


__ADS_2