
"Bapak, apakah bapak pernah bertemu atau melihat secara langsung seperti apa Putra Mahkota dari kerajaan Sri Kemuning itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa kepada lelaki tua itu.
"Belum, Den. Tapi yang jelas, dia adalah pemuda yang sangat tampan. Berbudi luhur, serta cinta terhadap kerajaan Galuh. Walaupun dia berasal dari kerajaan Sri Kemuning," jawab pemilik warung itu kemudian melanjutkan. "Mungkin karena Ibunda Gusti Pangeran itu berasal dari kerajaan Galuh ini,"
"Syukur lah pak. Semoga saja semakin ramai para perantau yang kembali ke negeri asalnya untuk bersama-sama mempertahankan tanah air," kata Pangeran Indra Mahesa penuh harap.
"Itu pasti Den. Sudah ada dua kerajaan yang menjadi contoh atas ketidak pedulian dari rakyatnya. Andai Bapak masih muda, Bapak pun pasti akan berjuang ikut mengangkat senjata," kata lelaki tua itu dengan semangat.
"Setiap rakyat bisa berjuang dengan caranya sendiri-sendiri Pak tua. Bagi yang muda, mereka akan keluar untuk mengangkat senjata. Bagi yang tua dan memiliki harta, mereka bisa menyisihkan sebagian dari harta mereka untuk membantu perjuangan. Bagi yang tidak mampu, mereka bisa membantu perjuangan ini dengan Doa. Untuk para istri pula, mereka bisa menjaga anak dan merawat rumah dengan baik. Jika sudah begitu, maka yang berada di medan tempur tidak memiliki kekhawatiran lagi. Semua harus memainkan peranannya masing-masing. Barulah kemenangan dapat diraih dengan gilang-gemilang," kata Pangeran Indra Mahesa penuh makna.
"Benar juga kata mu itu, anak muda. Semuanya memang harus memikul beban yang sama menurut kemampuannya masing-masing."
__ADS_1
"Oh ya. Darimana kah anak muda ini berasal?" Tanya Bapak tua pemilik warung itu.
"Saya berasal dari kaki gunung sumbing, Pak tua. Datang kemari dengan tujuan ingin menyumbangkan tenaga yang tidak seberapa ini," jawab pangeran Indra dengan merendah.
"Begitu ternyata rupanya. Apakah anak muda ini dari kalangan pendekar? Lalu, apa hubungan anak muda ini dengan kerajaan Galuh ini?" Tanya lelaki tua itu secara beruntun.
"Bisa dikatakan begitu lah Pak. Saya juga sempat belajar ilmu Kanuragan. Tapi kalau dikatakan pendekar, saya mungkin tidak berani menyandang gelar itu. Untuk hubungan sendiri, ibu ku berasal dari kerajaan Galuh ini. Sementara Ayah, berasal dari kerajaan Sri Kemuning," jawab pangeran Indra Mahesa apa adanya.
"Hehehe. Hanya kebetulan saja, Pak. Saya mana berani disamakan dengan Gusti Pangeran itu," kata Pangeran Indra Mahesa sambil tertawa renyah.
"Maaf ni anak muda. Kalau boleh bapak tau, siapa nama anak muda ini sebenarnya?" Tanya lelaki tua itu yang kini sudah merasa akrab sehingga mengganti nama panggilan dari Den ke anak muda.
__ADS_1
"Secara kebetulan juga nama saya juga Indra, Pak. Indra Sontoloyo," jawab pangeran Indra Mahesa sambil menahan tawa.
"Indra Sontoloyo? Sepertinya bapak pernah mendengar nama itu. Belum lewat dari satu purnama belakangan ini ada seorang pemuda bernama Indra Sontoloyo. Dia menghancurkan kadipaten Pitulung. Apakah anak muda itu adalah dirimu?" Tanya bapak pemilik warung itu semakin penasaran.
"Sebenarnya bukan hanya saya pak. Gusti Senopati Arya Prana lah yang menyerbu kadipaten Pitulung itu. Saya hanya ikut-ikutan saja. Mana berani saya mengakui bahwa itu adalah perbuatan saya,"
"Sah. Tidak salah lagi. Menurut ciri-ciri mu ini, celana pangsi putih, baju putih tanpa lengan, serta ikat pinggang dari sutra kuning bersulam emas. Kau pasti Indra Sontoloyo yang sedang menjadi buah bibir di kalangan rakyat kerajaan Galuh ini," kata bapak pemilik warung itu sangat yakin.
Pangeran Indra hanya tersenyum saja menanggapi perkataan dari orang tua pemilik warung itu.
Setelah selesai dengan minum, diapun lalu membayar dan segera berpamitan untuk kepada pemilik warung itu untuk kemudian melanjutkan langkahnya menelusuri desa disekitar kota raja kerajaan Galuh ini.
__ADS_1
Bersambung...