
Empat ekor kuda berlari kencang meninggalkan debu yang beterbangan disepanjang jalan yang mereka lalui.
Di punggung kuda masing-masing tampak empat orang pemuda dengan dua orang lelaki dan dua wanita yang memiliki tubuh kekar dan ketampanan bak seorang pangeran dari negri antah-berantah sedang mengendalikan kuda tunggangan mereka melewati bukit tandus dan berbatu menuju ke sebuah perkampungan yang berdekatan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, kini mereka tiba di sebuah perkampungan yang tampak sudah kosong ditinggal pergi oleh penghuninya.
"Kakang Bayu. Aneh sekali perkampungan ini. Sepertinya perkampungan ini baru saja di serang oleh gerombolan perampok. Tidak ada satupun penduduk yang tersisa," kata seorang pemuda tampan dengan memakai pakaian serba putih, kain sutra kuning bersulam emas mengikat di pinggangnya.
"Benar katamu Dinda Indra Mahesa. Kita tidak tau apa sebenarnya yang terjadi di perkampungan ini. Tapi yang jelas, telah terjadi perampokan di sini. Kau lihat di sana itu! Banyak rumah-rumah milik warga yang hanya tinggal puing-puing saja. Sepertinya baru saja terbakar!" Kata Bayu Gatra sambil menunjuk ke salah satu rumah yang sudah berubah menjadi arang.
Mereka berempat kini mengendalikan kuda mereka lebih memasuki ke perkampungan mati itu sambil sesekali melihat bekas telapak kaki dan ceceran darah di mana-mana. Namun yang mengherankan adalah, tidak satupun mayat mereka temukan di perkampungan ini. Hal ini yang membuat dua pasang pemuda-pemudi itu mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Kakang, lihat ini!" Kata seorang wanita berteriak membuat kedua lelaki bernama Bayi dan Indra itu memalingkan pandangannya ke arah wanita yang berseru tadi.
Mereka lalu turun dari punggung kuda masing-masing lalu menuntunnya ke arah wanita yang berteriak tadi.
"Apakah kau menemukan sesuatu, Dinda Andini?" Tanya Bayu Gatra.
"Lihat ini Kakang! Ada banyak bekas jejak telapak kaki menuju ke hutan bagian sana itu!" Kata wanita bernama Andini tadi sambil menunjuk ke bagian hutan yang tidak terlalu jauh dari perkampungan tempat mereka berhenti ini.
Tanpa menunggang kuda lagi, mereka kini berjalan memasuki hutan tersebut dengan petunjuk bekas telapak kaki yang jika di hitung, mencapai ratusan orang itu.
Semakin memasuki hutan, kini bekas telapak kaki itu sedikit demi sedikit menghilang dan kini mereka berempat sama sekali telah kehilangan jejak.
__ADS_1
"Aneh. Kemana perginya mereka? Tidak mungkin langsung menghilang begitu saja," gumam Bayu Gatra sambil berjongkok memperhatikan tapak kaki terakhir yang dia lihat.
"Hati-hati kakang! Coba kau perhatikan di atas kepala mu!" Kata Pangeran Indra Mahesa memperingatkan.
"Sialan. Hutan ini penuh dengan jebakan. Mari kita tinggalkan hutan ini. Aku khawatir nanti akan terjadi kesalahpahaman antara kita dengan orang-orang yang bersembunyi di hutan ini. Siapa tahu bahwa mereka ini adalah para pejuang dari kerajaan Sri Kemuning," kata Bayu Gatra pula lalu berjalan perlahan sambil menuntun kudanya meninggalkan kawasan hutan itu.
"Lalu, bagaimana ini Kakang? Aku sama sekali belum pernah turun gunung. Kakang saja yang membawa jalan!" Kata Pangeran Indra Mahesa ketika mereka sudah tiba lagi di perkampungan mati tadi.
"Menurut ku, kita tidak bisa langsung ke kerajaan Galuh. Ini karena, kita bisa saja dicurigai sebagai mata-mata dari paku bumi,"
"Lalu, apakah kakang akan membawa kami ke kerajaan Sri Kemuning?" Tanya Gayatri.
"Benar. Kita hanya perlu melanjutkan perjalanan selama tiga hari lagi untuk mencapai kota raja Sri Kemuning," jawab Bayu Gatra.
Ini lah permasalahan yang mereka hadapi saat ini. Tadinya mereka mengira bahwa perkampungan ini memiliki ramai penduduknya. Ini karena ketika di lihat dari kejauhan, perkampungan ini adalah perkampungan besar. Andai masih memiliki penduduk, sudah pasti mereka bisa menukar kuda mereka dengan menambah uang beberapa kepeng saja untuk melanjutkan perjalanan dengan kuda yang masih segar bugar. Tapi masalahnya sekarang ini, untuk melanjutkan perjalanan, mereka tidak bisa menunggangi kuda itu atau kuda milik mereka akan mati di tengah perjalanan.
"Tidak ada pilihan. Kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Tuntun saja kuda ini. Di depan sana ada kali kecil dengan lapangan rumput yang sangat luas. Kita bisa beristirahat di sana. Nanti kita akan berburu, sambil membiarkan kuda-kuda milik kita untuk minum dan merumput sepuasnya," kata Bayu Gatra lalu mendahului untuk memimpin rombongan itu yang langsung diikuti oleh ketiga orang lainnya.
Baru saja mereka pergi dari perkampungan ini, kini dari arah tebing tampak beberapa orang berjalan menuju jalan di dalam hutan tempat keempat pemuda tadi berhenti di dalam hutan.
Tampak beberapa orang lelaki yang memakai pakaian serba hitam itu kini berhenti sembari memperhatikan bekas tapak kaki kuda di sekitar jebakan yang mereka pasang.
"Ada apa Wiguna?" Tanya Arya Prana heran melihat Wiguna menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kakang Arya Prana. Coba kakang lihat itu! Bukankah itu adalah bekas jejak kaki kuda?!" Kata Wiguna sambil menunjuk ke arah jalan setapak didepannya.
"Heh. Benar kata mu. Ini adalah bekas telapak ladam kuda. Berarti?!" Kata Panglima Rangga sambil menyentuh bekas telapak kaki itu dengan tangannya lalu menciumnya.
"Bekas ini baru saja kakang! Belum sampai sepeminuman teh!" Kata Panglima Rangga lagi sambil bangkit berdiri.
"Sepertinya kita baru saja kedatangan tamu. Tapi mengapa mereka tidak terkena jebakan yang kita pasang?" Tanya Senopati Arya Prana sambil mendongak melihat kayu balok dengan ranjau paku masih berada di atas pohon yang tinggi.
"Entahlah kakang. Tapi aku menduga bahwa mereka ini adalah orang-orang yang nyasar,"
"Tidak mungkin!" Bantah Sang Senopati, lalu melanjutkan. "Jika mereka nyasar, mengapa bisa berhenti di sini lalu berputar kembali keluar meninggalkan hutan ini? Pasti mereka sengaja memasuki hutan ini. Atau jangan-jangan?"
"Jangan-jangan apa kakang?" Tanya Tumenggung Paksi mulai penasaran.
"Bekas telapak kaki orang-orang kampung. Kemungkinan itu lah yang menarik perhatian mereka," kata Senopati Arya Prana menebak-nebak.
"Jika melihat dari bekas telapak kaki ini, jelas orang-orang ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan tinggi atau setidaknya cukup sempurna. Lihat saja! Hanya jejak kuda yang terlihat. Tapi bekas telapak kaki mereka sangat samar sekali. Hanya orang yang memiliki penglihatan yang tajam saja yang mampu melihat bekas telapak kaki mereka yang berjumlah empat orang ini," kata Wiguna pula.
"Hmmm. Sepertinya mereka telah keluar dari dalam hutan ini. Begini saja. Setelah kerja-kerja di atas tebing itu selesai, kau perintahkan orang-orang kita untuk memperketat penjagaan di kawasan hutan ini. Aku akan mengejar rombongan itu sambil membuntuti mereka, aku juga akan memimpin orang-orang kita untuk membeli persediaan makanan. Kalian segera kembali dan pilih seratus orang untuk mengikuti ku. Aku akan menunggu di sini," kata Arya Prana memberi perintah.
"Sendiko dawuh Kakang Senopati!" Kata mereka bersamaan lalu menyelinap diantara semak belukar menuju ke dinding tebing yang terdapat pintu masuk menuju ke sebuah perkampungan yang semakin hari, semakin ramai saja warganya. Ini karena, setiap hari, ada saja orang-orang dari perkampungan lain yang pindah ke lembah jati ini karena tidak tahan dijajah terus menerus oleh prajurit Paku Bumi.
Bersambung...
__ADS_1