Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pertarungan dua dedengkot sakti


__ADS_3

"uhuk.., uhuk.., uhuk..,"


Pangeran Indra Mahesa tampak megap-megap sambil berusaha untuk bangkit.


Beberapa kali dia mencoba untuk bangun. Namun, kembali dia terjatuh. Benturan tenaga dalam tingkat tinggi tadi menimbulkan luka dalam yang tidak ringan bagi dirinya dan juga Raja Jaya Pradana.


Saat ini baik Pangeran Indra maupun Raja Jaya Pradana mulai menyalurkan hawa murni milik masing-masing untuk segera menyembuhkan luka dalam yang saat ini mereka derita.


Begitu dia memusatkan seluruh konsentrasi yang dia miliki untuk mulai melakukan penyembuhan, lamat-lamat dia mendengar suara hentakan kaki kuda yang semakin mendekati tempat pertarungan itu.


"Teman 'kah atau musuh yang datang ini?" Pikirnya dalam hati. Lalu dia memiringkan kepalanya melihat ke arah datangnya satu rombongan. Begitu dia melihat siapa yang datang, dia kini menarik nafas lega karena yang datang adalah rombongan yang dipimpin oleh Senopati Arya Prana.


Kembali Pangeran Indra Mahesa mencoba untuk duduk. Walaupun bersusah payah, namun dia mampu juga melakukannya.


Kini, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, Pangeran Indra mulai mengosongkan fikirannya lalu segera menghimpun hawa murni miliknya untuk segera mengobati luka dalam yang dia derita.


Sementara itu, Raja Jaya Pradana juga melakukan hal yang sama. Hanya bedanya, dia melakukannya dalam keadaan terbaring tanpa mampu untuk melakukan semedi dalam keadaan duduk.


"Kuat sekali tenaga dalam yang dimiliki oleh anak itu," pikirnya dalam hati.


Kedua orang itu terus saja melakukan semadi dan membuka mata mereka ketika merasakan hembusan angin bersiur di dekat mereka.


Begitu mereka membuka mata, kini mereka melihat, sudah ada tiga sosok berdiri saling berhadap-hadapan.


Satu sosok bertubuh tinggi besar berpakaian hitam dengan destar hitam melilit di atas kepalanya. Sementara dua sosok lainnya adalah sosok seorang wanita tua dan lelaki tua kurus kering, berpakaian kumal berwarna putih. Rambut mereka berdua juga sudah berwarna putih meriap-riap dipermainkan oleh angin sore yang sudah hampir senja itu.


"Kita bertemu lagi, Datuk Hitam legam pantat kuali," kata lelaki tua kurus kering dengan pakaian kumal. Tampak sebuah kendi labu tersandang di punggung nya.


"Hahaha.., Santalaya, kita bertemu lagi. Sekarang, mari kita selesaikan hutang piutang kita yang lama tertunggak!" Kata Datuk Hitam sambil tertawa sinis.


"Apa? Hutang katamu? Sifat lintah darat mu tidak pernah berubah Maruta! Kau yang banyak berhutang kepada ku. Kau berhutang nyawa guru kepada ku. Aku akan menagih hutang itu, Maruta!" Hardik Eyang Santalaya.


(Maruta adalah nama asli dari Datuk Hitam)


"Orang tua sialan itu memang pantas untuk mati. Itu karena dia selalu membeda-bedakan perlakuan antara aku dan dirimu, dan selalu mengistimewakan mu. Sekarang, aku juga akan mengirim mu ke neraka agar segera bertemu dengan orang tua sialan itu," jawab Datuk Hitam sambil tersenyum penuh ejekan.


"Kau berani menghina guru kita, Maruta? Memang kalau keturunan Iblis, sekali iblis tetap saja iblis," bentak Eyang Santalaya lalu segera mengatur jarak dengan Datuk Hitam.

__ADS_1


(Dahulunya Datuk Hitam dan Santalaya ini adalah kedua murid dari seorang pertapa sakti dari gunung Dieng. Mereka berdua di gembleng di puncak gunung itu dengan berbagai ilmu olah Kanuragan dan ilmu kesaktian dengan harapan, mereka kelak akan dapat menegakkan kebenaran dan keadilan, serta menumpas keangkaramurkaan. Namun, salah satu dari mereka malah tersesat dan memilih jalan hitam. Bahkan, dengan bujuk rayuan dari seorang wanita yang diangkat oleh Raja Perkasa Alam sebagai selir, dia pun akhirnya berkhianat dan membunuh guru nya ini serta melarikan kitab ilmu silat dan karena salah dalam mengamalkan ilmu itu, kulitnya berubah menjadi hitam dan sejak saat itu lah namanya berganti dari Maruta menjadi Datuk Hitam)


Untuk kelanjutan dari kisah Santalaya dan Maruta ini, mungkin saya akan menuliskan kisah khusus mereka ini dalam sebuah novel yang terpisah. Nantikan saja!


*********


"Hahahaha. Bagus. Ternyata kau sudah tidak sabar untuk bertarung dengan ku. Bersiaplah wahai Santalaya! Kita tentukan siapa yang akan memenangkan pertarungan ini," Datuk Hitam kini mulai membuka jurus-jurus silat nya.


"Minggir kau, Kunti! Ini adalah dendam lama antara aku dan si Maruta ini," Eyang Santalaya kini juga mulai membentuk kuda-kuda dan siap untuk bertarung.


Bidadari Kipas Perak segera mundur dan berjalan ke arah Pangeran Indra Mahesa yang saat ini sudah dikelilingi oleh Senopati Arya Prana dan rombongan yang lainnya.


Ketika ini, Pangeran Indra Mahesa sudah mampu bangun dari duduknya lalu memberikan sembah kepada Eyang putri nya itu. Setelah itu, dia mengeluarkan sebutir pil dari dalam sabuk ikat pinggangnya kemudian menghampiri Raja Jaya Pradana lalu melemparkan sebutir pil tersebut sembari berkata, "pil itu adalah penawar racun dari pukulan ku tadi. Telan, maka Paman akan segera pulih. Setelah itu kita bisa kembali melanjutkan pertarungan kita yang tertunda," kata Pangeran Indra Mahesa lalu kembali ke tempatnya semula.


Sementara itu, pertarungan antara Eyang Santalaya dan Datuk Hitam sudah terjadi dengan pertarungan yang langsung pada tingkat inti.


Karena memiliki jurus dan mengetahui kelemahan dari jurus silat masing-masing, maka pertarungan yang sangat sengit ini seperti tidak dapat menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya.


"Hahaha. Jurus-jurus silat mu semuanya sudah aku ketahui. Namun, kau tidak mengetahui jurus silat ku," kata Datuk Hitam mengejek Eyang Santalaya.


"Bangsat kau, Santalaya! Aku akan segera mengirim mu ke neraka setelah bangsat guru mu itu dulu aku kirim terlebih dahulu dengan racun kelabang Geni,"


"Terkutuk kau Maruta!" Bentak Eyang Santalaya lalu segera mengirimkan sebuah tendangan.


Pertarungan kembali pecah antara kedua dedengkot rimba persilatan itu.


Pergerakan yang sangat cepat serta pukulan-pukulan jarak jauh yang dibarengi dengan pengerahan tenaga dalam tingkat atas saling beradu, dan akibatnya, banyak pohon bertumbangan serta rumah-rumah milik penduduk desa yang telah kosong itu banyak yang roboh bahkan terbakar oleh pukulan inti api yang dilepaskan oleh Datuk Hitam.


"Hiaaaat!"


"Ciaaaah!"


Duaaaar!


Terdengar teriakan dari kedua orang itu dibarengi dengan suara ledakan yang sangat dahsyat.


Kini, tampak dua sosok tubuh saling terjajar beberapa langkah ke belakang sambil memegangi dada masing-masing.

__ADS_1


"Bersiaplah Santalaya!" Bentak Datuk Hitam lalu segera membuat gerakan seperti seorang harimau mencakar tanah. Gerakan ini persis sama dengan yang dilakukan oleh Raja Jaya Pradana saat melawan pangeran Indra Mahesa tadi.


Kuku-kuku hitam panjang dan runcing tampak bersembulan dari kedua tangan Datuk Hitam.


Jika Jaya Pradana saja tadi menggunakan ajian ini sudah sangat dahsyat, apa lagi yang memiliki ajian tersebut. Tentu dua kali lipat lebih dahsyat.


Melihat lawannya telah mengeluarkan ajian kesaktian, Eyang Santalaya pun langsung meloloskan tali kendi labu yang tergantung di pundaknya, lalu dengan cepat membuka penutup kendi tersebut kemudian memasukkan air dari kendi itu ke dalam mulutnya.


Dari arah depan, Datuk Hitam segera melompat sambil mendorong kedua telapak tangannya yang langsung di sambut dengan semburan air dari mulut Eyang Santalaya.


Bruuuzzz!


Duaaaar!


"Arrrrrgh...!"


Brugh!


Ketika dua kekuatan itu bertemu, terdengar suara ledakan menggetarkan bumi tempat mereka berpijak diiringi teriakan kesakitan dari ke-dua orang yang bertarung tersebut.


Sosok hitam dan sosok berpakaian kumal tampak melayang turun lalu terbanting di tanah berdebu seperti sekarung besar.


Tampak tanah itu melesak ke dalam sedalam satu jengkal ketika dihantam oleh jatuhan dua sosok tubuh tersebut.


"Santalaya..!" Teriak Bidadari kipas perak yang khawatir melihat keadaan kekasihnya itu.


"Uhuk.., uhuk.., uhuk..,"


"Haduh. Patah tulang rusuk ku," kata Eyang Santalaya sambil melompat bangkit.


Keadaan yang sama juga tampak dialami oleh Datuk Hitam.


Dia juga segera bangkit dari tanah dan kini mereka kembali saling berhadap-hadapan.


"Gila sekali Maruta ini. Mengapa dia begitu kuat?" Kata Eyang Santalaya dalam hati. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Datuk Hitam yang dia lawan saat ini berbeda dengan Datuk Hitam sekitar tiga puluh tahun yang lalu. dimana, ketika itu dia berhasil membuat Datuk Hitam terluka parah kemudian melarikan diri dengan ancaman, bahwa dia akan segera kembali bagi menuntut balas serta menuntaskan pertarungan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2