Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Tiba di kadipaten Pitulung


__ADS_3

Saat ini tampak ratusan lelaki berpakaian petani dengan menunggangi kuda berkeluaran dari lembah jati dari berbagai arah kemudian berangkat menyebar di segala penjuru.


Sementara itu empat orang penunggang kuda yang berpenampilan layaknya seorang pesilat bayaran, tampak berada di depan sebuah kereta kuda yang tampak sangat mewah layaknya milik seorang saudagar kaya.


Mereka ini adalah rombongan dari lembah jati yang menyamar menjadi saudagar dan para pengawal.


Sesekali tampak kain tirai yang terbuat dari sutra tersibak di hembus angin menampakkan seorang lelaki paruh baya mengenakan belangkon dengan pernak pernik intan dan tampak sebuah lencana berlambang bunga Cempaka terbuat dari emas murni, tersemat di bagian depan belangkon yang dipakai oleh lelaki yang tidak lain adalah Arya Prana adanya.


Di belakang kereta kuda tersebut, tampak sekitar dua puluh orang prajurit bayaran berjalan membentuk dua barisan dengan bersenjatakan pedang dan tombak terus berjalan cepat mengikuti laju kereta kuda tersebut.


Sesampainya di kadipaten Pitulung, mereka mulai dapat menyusul empat orang penunggang kuda yang saat itu berjalan lambat karena tidak ingin terlalu memaksa kuda-kuda mereka yang sudah sangat kelelahan itu.


Sambil memperhatikan mereka dari belakang, Wiguna, Arya Permadi, Panglima Rangga, dan Tumenggung Paksi tampak sesekali menoleh kebelakang memberi isyarat bahwa mereka telah mampu menyusul orang yang mereka curigai itu.


"Kakang Rangga. Menurut mu, apakah mereka ini orangnya?" Tanya Wiguna kepada lelaki bertubuh besar dengan pakaian sutra kuning dan mengenakan sorban ala Punjabi itu.


"Aku yakin mereka ini lah orangnya. Namun, aku melihat tidak ada hal yang perlu ditakutkan dari mereka ini. Sepertinya mereka adalah orang-orang dari rimba persilatan yang baru saja turun gunung," jawab Panglima Rangga.


"Teruslah perhatikan dua pasang muda-mudi itu! Saat ini, kita sama sekali tidak dapat membedakan mana yang dari golongan hitam maupun yang putih," kata Arya Permadi pula menyela pembicaraan mereka berdua tadi.


Kini mereka terus saja melanjutkan perjalanan seolah-olah tidak ada kejadian apapun.


****


Sementara itu, keempat pemuda dan pemudi yang saat ini sudah tiba di gerbang kampung tampak merasa lega di dalam hati mereka masing-masing. Ini karena, mereka bisa mencari warung untuk makan, minum, lalu melepaskan kepenatan. Selain itu, mereka bisa menukar kuda mereka dengan yang lebih bagus dan segar untuk melanjutkan perjalanan ke kota raja Sri Kemuning yang berjarak sekitar sehari setengah lagi perjalanan dengan menunggangi kuda.


"Kakang Bayu, dimanakah kita saat ini?" Tanya Pangeran Indra sambil melihat ke sekeliling perkampungan yang sangat besar itu.

__ADS_1


"Saat ini kita telah sampai di Kadipaten Pitulung," jawab Bayu Gatra.


"Aneh sekali kadipaten Pitulung ini kakang. Mengapa kota kadipaten ini terasa begitu sepi?" Tanya Andini merasa heran.


"Entahlah. Mungkin kita bisa bertanya nanti kepada warga sini. Sekarang ayo kita cari warung. Mungkin di sana nanti kita bisa menemukan petunjuk!" Ajak Bayu Gatra kepada Pangeran Indra, Andini dan Gayatri.


Mereka kini berempat mulai menelusuri jalan yang membelah kampung di pinggiran kadipaten Pitulung ini.


Tak berapa lama, kini mereka telah tiba di sebuah warung makan yang tampak ramai dikunjungi oleh orang-orang yang kebetulan saat itu singgah di kadipaten Pitulung ini.


*********


Empat orang muda-mudi itu berhenti tepat di sebuah warung yang kemudian di sambut oleh lelaki tua yang tampak sangat ramah menyambut kedatangan mereka.


"Silahkan Den. Mari saya bantu untuk menambatkan kuda-kuda Aden," kata lelaki tua itu menawarkan bantuan dengan ramah.


"Benar Den. Mari silahkan masuk!"


"Oh ya. Mau pesan apa den? Di sini ada tersedia arak manis, wedang jahe, nasi rawon, pepes ikan lele, juga ada ayam panggang dengan bumbu rempah dari Arab," kata pemilik warung ini dengan ramah.


Mendengar ini, cacing di dalam perut keempat pemuda itu menjadi memberontak minta sesuatu.


Tanpa membuang waktu lagi, mereka lalu memesan semua menu yang dikatakan oleh lelaki tua pemilik warung tersebut.


Begitu makanan dan minuman mereka telah terhidang di atas meja dan belum lagi mereka akan bersantap, dari arah jalan dimana tadi mereka datang tampak serombongan penunggang kuda memasuki warung makan tersebut.


"Ki, tolong bungkuskan kami makanan dan minuman. Ini seringgit emas dan ambil semua kembaliannya untuk aki," kata lelaki tadi.

__ADS_1


Setelah itu salah seorang yang berada di luar turun dari kudanya dan berjalan dengan sangat santun memasuki warung tadi lalu memberikan sekeping uang emas sambil berkata, "Ki. Hari ini semua yang makan di warung aki biarkan saya yang membayarnya. Ini sekeping Ringgit emas untuk aki," kata lelaki tadi lalu mereka pun langsung keluar dari warung dan masing-masing menggebah kuda mereka meninggalkan warung makan tadi.


Keempat pemuda yang tadi sedang bersiap-siap untuk bersantap merasa heran juga. Terlebih lagi Bayu Gatra yang pernah beberapa kali turun gunung. Dia tidak menyangka bahwa ada orang-orang yang memiliki tampang sangar seperti perampok namun memiliki hati yang dermawan.


Belum lagi Bayi Gatra membuka suara untuk menanyakan siapa orang-orang yang datang tadi, tiba-tiba dari arah yang juga sama, tampak rombongan yang terlihat seperti rombongan saudagar kaya.


Rombongan ini lalu turun dari kuda mereka masing-masing lalu segera memasuki warung tersebut kemudian duduk di kursi yang masih kosong.


"Ki. Ada teh pahit hangat kuku?" Tanya lelaki yang tampak adalah seorang saudagar itu.


Lelaki ini tampak sangat rapi dengan pakaian serba sutra dan mengenakan belangkon dengan lencana bunga Cempaka terbuat dari emas murni tersemat di bagian depan belangkon tersebut.


"Ada Den. Ada," kata lelaki tua tadi lalu buru-buru keluar dari dalam menghampiri lelaki yang memesan tadi.


"Gusti Senopati, serombongan burung gagak telah datang dari kejauhan untuk memakan bangkai," bisik lelaki tua pemilik warung ini.


"Berapa banyak jumlah mereka?" Tanya lelaki yang disebut Gusti Senopati namun seperti menyamar sebagai saudagar itu.


"Rombongan burung pemakan bangkai ini lumayan banyak Gusti. Mereka saat ini sedang memaksa warga di kota dan desa di kadipaten Pitulung ini untuk memungut pajak sebanyak dua kali dalam sebulan. Dugaan hamba, kemungkinan terbesar adalah mereka ingin menumpuk perbekalan untuk kembali berperang dengan kerajaan yang belum mereka taklukkan,"


"Hmmm. Kasihan sungguh nasib rakyat. Maafkan kami Ki. Bagaimanapun, kami hanya bisa membantu kalian mencegah. Tapi bukan memberantas. Andai junjungan kita, Putra Mahkota Indra Mahesa masih hidup, tentu akan sangat memungkinkan bagi kami bertempur memerangi Jaya Pradana itu. Tapi pewaris sah tahta kerajaan Sri Kemuning tidak ketahuan nasib beritanya, maka kami tidak berani bertindak terlalu jauh. Ini karena Jaya Pradana juga memiliki hak atas tahta kerajaan Sri Kemuning. Hak itu bisa batal hanya dengan adanya keturunan dari Gusti Prabu Jaya Wardana," kata Senopati Arya Prana yang menyamar sebagai saudagar kaya itu menghela nafas berat.


"Gusti Senopati, Burung pemakan bangkai yang sangat berbahaya telah tiba di kadipaten ini. Dia disambut langsung oleh Adipati Aria Seta. Orang ini bernama Wikalpa,"


"Apa? Celaka sekali," kata Senopati Arya Prana menumbuk meja tanpa sadar membuat semua mata kini memandang ke arah meja mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2