
"dari mana kau, Pratisara?"
Terdengar suara teguran dari Tumenggung Paksi yang membuat seorang lelaki setengah baya tampak terperanjat dan sedikit tergagap.
"A-ak-aku.., aku dari melihat-lihat kawasan hutan ini. Kau? Ada apa kau di sini?" Tanya lelaki bernama Pratisara itu.
"Aku mau buang air. Lekaslah menjauh. Aku tidak bisa kalau ada orang di dekat ku!" Kata Tumenggung Paksi.
"Oh. Iy-iya. Iya! Aku akan segera bergabung dengan pasukan," kata Pratisara dan segera berlalu dari tempat itu.
"Aneh sekali Pratisara ini. Untuk apa dia melihat kawasan hutan?" Tanya Tumenggung Paksi dalam hati.
Alasannya untuk buang air besar ternyata membuat Pratisara mempercayainya. Dia pun segera menyelinap di balik semak-semak menuju jalan dimana tadi Pratisara datang.
Sambil terus memperhatikan, akhirnya tumenggung Paksi tiba di satu tempat yang terlihat ada telapak kaki lebih dari satu atau dua orang.
Melihat hal ini, Tumenggung Paksi segera berjongkok dan meraup sedikit tanah bekas telapak kaki yang mengenakan terompa itu lalu mendekatkan ke hidung nya.
"Hmmm. Tak salah lagi. Aku menduga pasti dia menemui seseorang atau orang itu yang menemuinya," batin Tumenggung Paksi dalam hati.
Tumenggung Paksi segera berlalu meninggalkan tempat itu lalu segera menggabungkan diri dengan pasukan yang sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan ke kadipaten Gedangan itu.
Orang pertama yang kini dia temui adalah Panglima Rangga.
Sambil membawa kelinci panggang sebagai alasan, dirinya dan Panglima Rangga pun langsung membahas apa yang tadi dia temukan di hutan.
__ADS_1
"Celaka jika sudah begini. Apakah kau yakin, Paksi?" Tanya Panglima Rangga.
"Aku sangat yakin. Bahkan ketika aku mengerahkan ajian Deria bau, orang itu benar-benar masih baru meninggalkan pedalaman hutan itu."
"Rangga! Aku sangat mencurigai Pratisara ini. Bahkan kecurigaan ku kepada lelaki ini melebihi kecurigaan ku terhadap Larkin," kata Tumenggung Paksi pula.
"Kita akan segera memberitahukan kepada Pangeran tentang ini. Akan sangat berbahaya bagi sebuah perjuangan jika ada diantara kita penghianat yang menyusup,"
"Jangan bersama ku, Rangga! Nanti dia malah berhati-hati. Sebaiknya kau sendiri saja. Yang penting Gusti Pangeran mengetahui hal ini. Biar dia bisa merundingkan semuanya dengan Kakang Senopati Arya Prana,"
"Baiklah. Bertindak seperti biasa ya! Jangan membuat sasaran kita menjadi waspada!" Kata panglima Rangga lalu segera mengubah arah pembicaraan karena beberapa prajurit lainnya juga telah menghampiri mereka.
"Pratisara! Kau mau kelinci panggang ini? Aku akan memberikan kepada mu setengahnya," kata Panglima Rangga menawarkan.
"Kalian berdua teruskan makan nya ya! Aku akan membawa ini untuk Gusti Pangeran!" Kata Panglima Rangga sambil mengangkat seekor kelinci panggang yang masih panas lalu segera meninggalkan mereka berdua untuk menemui Pangeran Indra Mahesa.
Sementara itu, di dalam tenda besar, Pangeran Indra Mahesa tampak sedang berbincang-bincang dengan Senopati Arya Prana yang saat ini tampak menunjuk-nunjuk ke arah hamparan kulit rusa yang tertera peta kerajaan Galuh ini.
Begitu melihat Panglima Rangga tiba dengan membawa seekor kelinci panggang, nafsu makannya mulai tergugah lalu segera menerima kelinci panggang pemberian dari Panglima Rangga kemudian memakannya sambil terus membahas segala perencanaan.
"Ampun Gusti Pangeran. Hamba membawa kabar yang kurang menyenangkan dari Tumenggung Paksi," kata Panglima Rangga lalu menceritakan semuanya kepada kedua orang itu.
"Apa dia yakin?" Tanya Senopati Arya Prana.
"Yakin, Kakang. Tumenggung Paksi sendiri yang melihat bahwa Pratisara keluar dari dalam hutan. Ketika di tanya, alasannya sungguh tidak masuk akal," jawab Panglima Rangga.
__ADS_1
"Gusti. Sepertinya perjuangan kita saat ini sedang di uji oleh adanya pengkhianat,"
"Katakan kepada para prajurit dari lembah jati, agar mereka tidak keterlepasan bicara tentang jebakan kita yang ada di atas tebing lorong menuju kerajaan Galuh. Aku hanya menunggu mereka membokong kita dari belakang. Sudah jadi begini, biarkan saja. Besok, aku akan berpura-pura menyuruh Pratisara untuk menyusul Larkin. Ini lebih baik. Daripada dia terus berada di dalam pasukan ini, lebih baik dia segera diberikan jalan keluar,"
"Tapi Gusti, apakah tidka berbahaya?" Tanya Panglima Rangga.
"Dinda Rangga. Jika Gusti Pangeran sudah mengatakan itu, tentunya Baginda memiliki rencana dan taktik cadangan,"
"Formasi burung merak ini hanya siasat belaka. Karena, aku telah menyiapkan formasi kala jengking untuk mereka andai peperangan secara terbuka pecah," kata Pangeran Indra Mahesa pula.
"Kakang Senopati Arya Prana. Kau lebih mengenal Panglima Pratisara ini. Siapa dia ini sebenarnya?" Tanya Panglima Rangga.
"Pratisara ini adalah orang yang memiliki cita-cita tinggi. Dia adalah rakyat asli kerajaan Galuh ini. Dia menduduki jabatan panglima atau kepala prajurit pengawal istana karena memenangkan sebuah sayembara yang diadakan oleh Gusti Prabu Rakai Galuh. Tapi itu dulu. Sekitar dua puluh tahun yang lalu. Setelah kejadian di Sri Kemuning, aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang para prajurit kerajaan Galuh ini. Karena, kebanyakan fikiran ku terpecah demi memimpin kita semua dan menyusun kekuatan di lembah jati," jawab Senopati Arya Prana.
"Paman Senopati. Besok, setelah Pratisara berangkat, siapkan obor yang banyak. Di depan sana, Sadewa mengatakan ada hutan bambu. Kita berhenti di sana untuk mempersiapkan obor. Setiap prajurit harus memegang dua obor. Terlebih lagi bagi prajurit yang menggunakan senjata tombak. Ikat di bagian ujung dan pangkal tombak yang mereka bawa dengan masing-masing dua obor. Sementara itu, Aku akan mengirim Tumenggung Paksi untuk segera kembali ke kota raja dengan alasan, untuk meminta bantuan kepada Gusti Prabu Kerta Rajasa agar mengirimkan sepuluh ribu pasukannya untuk membantu kita. Ini hanya dalih. Biarkan Pratisara mengadukan hal ini kepada Jaya Pradana andai ternyata dia yang berkhianat," kata Pangeran Indra.
"Ternyata Gusti telah memahami apa yang hamba katakan tadi pagi. Memang begini lah seharusnya. Kita tidak akan bisa menghindari adanya sebuah pengkhianatan di dalam sebuah pasukan. Namun, perencanaan cadangan bagi setiap pemimpin harus ada untuk menghindari dari kekalahan karena kebocoran rencana ke pihak musuh,"
"Sekarang ayo berkemas! Aku juga akan menyiapkan surat palsu untuk Tumenggung Paksi. Dia tidak akan benar-benar kembali ke kota raja. Melainkan hanya akan membuntuti Panglima Pratisara ini,"
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata mereka berdua lalu segera keluar dari tenda besar milik Pangeran Indra Mahesa itu.
Setelah mereka keluar, Pangeran Indra Mahesa pun langsung memanggil Bayu Gatra, Andini dan Gayatri untuk menemuinya di dalam tenda.
Bersambung...
__ADS_1