Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pembagian Tugas


__ADS_3

Hutan bambu perbatasan kadipaten Gedangan.


***


"Berhenti!!!"


Terdengar suara teriakan dari Senopati Arya Prana setelah mendapat perintah dari Panglima tertinggi pasukan untuk segera beristirahat di pinggiran hutan bambu ini.


Para prajurit yang sepanjang malam tadi melakukan perjalanan kini masing-masing berjalan menuju ke arah ratusan kereta lembu lalu mengeluarkan tenda masing-masing untuk tempat mereka beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh sepanjang malam tadi.


Ketika para prajurit sedang sibuk memasang tenda, Pangeran Indra Mahesa, Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Panglima Pratisara, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri sedang membincangkan sesuatu tugas yang akan dijalankan oleh beberapa orang sesuai dengan yang mereka rencanakan kemarin.


"Dengarkan kalian semua! Aku memiliki tugas khusus yang akan aku berikan kepada beberapa orang kepercayaan ku. Kalian akan mendapatkan tugas masing-masing yang harus dijalankan sesuai perintah. Kalian bisa menolak jika tidka sanggup menjalankan tugas dari ku, dan aku akan mengalihkan tugas ini kepada orang lain."


"Sejak kemarin, seperti yang telah kalian ketahui bahwa Larkin telah berangkat untuk memata-matai pasukan musuh. Aku mencurigai Larkin ini. Aku juga tidak begitu yakin bahwa ke-lima bersaudara dari Banten akan berhasil membuntuti Larkin ini. Karena sebelumnya mereka tidak memiliki pengalaman dalam hal tilik sandi. Oleh karena itu, aku akan menugaskan kepada Panglima Pratisara untuk berangkat mencari jejak Larkin ini. Apakah kau sanggup panglima?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.

__ADS_1


"Hamba patuh kepada titah Gusti!" Jawab Panglima Pratisara sambil menjura.


"Bagus!"


"Untuk yang ke dua, aku memerintahkan kepada Tumenggung Paksi untuk menyampaikan surat dari ku ini kepada Gusti Prabu Kerta Rajasa di kota raja. Katakan kepadanya bahwa aku membutuhkan setidaknya sepuluh ribu pasukan dari kerajaan Garingging. Katakan kepadanya bahwa perang ini bukan tanggung jawab kerajaan Galuh semata. Ini karena, ketika kerajaan Galuh runtuh, maka sasaran selanjutnya adalah kerajaan Garingging,"


"Hamba siap menjalankan tugas dari Gusti!" Jawab Tumenggung Paksi sambil menjura.


"Bagus!"


"Kami berdua siap menjalankan tugas!" Jawab Bayu Gatra dan Andini serentak.


"Berangkatlah kalian pagi ini. Semoga kita bisa mendapatkan bantuan tepat waktu!" Kata pangeran Indra sambil menyerahkan sepucuk surat dari kulit rusa kepada Bayu Gatra dan Andini.


"Kami mohon diri, Gusti Manggala Yuda!" Kata mereka serentak lalu segera menghampiri kuda mereka masing-masing lalu memacu kuda tunggangan mereka ke arah yang berlawanan.

__ADS_1


"Panggil Sadewa kemari!" Perintah Pangeran Indra Mahesa.


"Hamba di sini Gusti!"


"Sadewa. Pimpin seratus orang prajurit berkuda! Bawa mereka kembali ke kota raja! Keselamatan kota raja berada di tangan mu. Perhatikan sisa prajurit yang selamat bersama Pratisara di kota raja. Jika ada gelagat yang mencurigakan, kau boleh segera bertindak tampa persetujuan dari ku. Jika apa yang aku khawatirkan adalah benar, maka sisa prajurit yang selamat itu memang sengaja ditinggalkan untuk mengacau di kota raja,"


"Hamba berangkat sekarang juga Gusti?!"


"Berangkatlah segera!"


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!"


Setelah memilih seratus orang prajurit berkuda yang dia yakini mampu dan cekap, maka Sadewa pun segera berangkat menuju kota raja dengan meninggalkan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Indra Mahesa.


Debu bekas kaki kuda tampak mengepul tinggi dari bekas-bekas injakan kaki kuda mereka ketika pangeran Indra Mahesa melihat ke arah keberangkatan orang-orang utusannya itu. Baru lah kemudian dia memasuki tenda besar yang baru saja didirikan oleh para prajurit sambil ditemani oleh Panglima Rangga dan Senopati Arya Prana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2