Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Padepokan jati Anom


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, ke-tiga guru dan murid itu berangkat berjalan kaki meninggalkan gubuk mereka di lereng gunung sumbing menuju ke padepokan jati Anom yang terletak dalam kekuasaan kerajaan Garingging yang berbatasan langsung dengan kerajaan Galuh bagian ujung Timur.


Untuk menghemat waktu, mereka tidak menuruni lereng gunung lalu memutar. Melainkan mendaki gunung tersebut agar tiba di padepokan jati Anom tepat menjelang petang.


Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah sampai pada tahap tertinggi, ke-tiga orang itu pun melesat sehingga hanya tampak bayangan-bayangan putih saja berkelebat seperti kilat diantara pepohonan besar di sekitar hutan tersebut.


Ketika tiba di kawasan berbatu di puncak gunung sumbing ini, didahului oleh eyang Santalaya, mereka ber-tiga pun berhenti sejenak untuk memperhatikan kawasan sekitar lereng gunung sumbing itu yang tampak kecil ketika dilihat dari puncak ketinggian seperti itu.


"Kau lihat itu Indra! Itu adalah kadipaten jati luhur. Terletak di kadipaten itu lah padepokan jati Anom," kata Eyang Santalaya sambil menunjuk ke arah timur. Tampak rumah terlihat sangat kecil dari puncak gunung ini.


"Sudah dekat, Eyang! Paling sepenanakan nasi lagi kita sudah tiba di sana," kata Pangeran Indra sambil tersenyum senang.


"Kelihatan saja dekat. Sebenarnya perjalanan kita masih cukup jauh. Kita harus melewati lembah dan beberapa perkampungan lagi untuk tiba di kadipaten jati luhur. Itu baru pinggirannya saja. Sementara padepokan jati Anom itu masih jauh lagi memasuki hutan setelah sampai di kota kadipaten," kata eyang Santalaya menjelaskan.


"Oh. Begitu," kata pangeran Indra Mahesa sambil menggaru dagunya.


"Heh Indra. Kemarin mengapa kau seperti orang gila menjerit berteriak meminta tolong? Ada apa dengan mu?" Tanya Bidadari kipas perak.


"Begini eyang. Kemarin itu, aku merasa sangat penasaran untuk mencabut keris ku ini dari warangka nya,"


"Lalu?" Tanya eyang Santalaya.


"Itu dia, Eyang. Dengan memberanikan diri, aku nekat mencabutnya. Lalu yang terjadi sangat menakutkan sekali. Keris ini memiliki pamor yang sangat menyilaukan. Aku tidak bisa melihat badan bilah keris ini secara jelas," jawab Pangeran Indra.


"Apa ada lagi keanehan yang kau lihat atau yang kau alami?" Tanya Bidadari kipas perak.

__ADS_1


"Ada, Eyang Putri. Ketika keris ini tercabut seluruhnya dari warangkanya, tiba-tiba dari bilang keris ini keluar bayangan kuning seekor naga yang sangat besar disertai hembusan angin seperti badai yang mampu menumbangkan pepohonan. Aku benar-benar ketakutan sekali, Eyang!"


"Kemudian apa lagi yang terjadi?" Kali ini giliran eyang Santalaya yang mencecar pangeran Indra dengan pertanyaan karena merasa sangat penasaran.


"Tiba-tiba sosok bayangan naga itu menyelubungi tubuhku dan amblas masuk kedalam tubuhku, Eyang," kata pangeran Indra Mahesa sambil bergidik ngeri membayangkan kejadian semalam itu.


"Hmmm... Aku yakin keris ini lah yang diburu oleh para prajurit Paku Bumi tujuh belas tahun yang lalu. Sembunyikan keris itu di dalam pakaian mu. Jangan kau keluarkan jika tidak benar-benar dalam keadaan terdesak. Ingat Indra! Keris itu bukan keris sembarangan. Kau jangan asal menggunakannya. Mengerti?!" Tanya eyang Santalaya sekaligus menegaskan.


"Mengerti Eyang Guru!"


"Nah. Sudah cukup istirahatnya. Ayo kita kembali melanjutkan perjalanan!" Kata Bidadari kipas perak sambil turun dari bongkahan batu sebesar anak kerbau lalu segera mengempos ilmu meringankan tubuhnya. Sekejap saja sosoknya sudah hilang.


Melihat Bidadari kipas perak sudah melesat mendahului, eyang Santalaya pun segera menyusul sambil berteriak. "Kekasih ku, pujaan hatiku, cinta suci ku. Kau bertahta di Lubuk hati, jiwa raga yang hakiki dan terdalam," katanya sambil mengejar membuat pangeran Indra sejenak terpaku mendengar perkataan yang berhamburan dari mulut orang tua yang tanpa satupun gigi yang masih tersisa itu.


Padepokan jati Anom


Matahari sudah hampir condong ke arah barat ketika tiga sosok tubuh berhenti dari larinya kemudian berdiri di tengah-tengah sebuah bukit landai di sekitar padepokan jati Anom itu.


Di depan mereka tampak berjejer balok-balok kayu besar berdiri terpancang membentuk benteng kokoh seolah-olah benteng pertahanan dari serangan musuh.


Ke-tiga orang itu terus berdiri memperhatikan banyak orang dari rimba persilatan hilir mudik memasuki pintu gerbang benteng itu. Rata-rata mereka ini adalah para pendekar dari golongan putih dunia persilatan.


"Indra! Nanti ketika kita telah tiba di sana, jaga sikap mu! Jangan pecicilan dan grasak-grusuk! Atau, aku sunat kau sekali lagi," ancam Bidadari Kipas Perak memperingatkan muridnya itu untuk menjaga sikapnya nanti jika sudah tiba di depan para dedengkot dunia persilatan.


"Baik, Eyang Putri! Aku akan menjaga sikapku nanti ketika berada di sana," kata Pangeran Indra sambil membungkuk hormat.

__ADS_1


"Hmm.. bagus. Ayo rapikan dulu pakaian mu!" Kata Bidadari Kipas Perak sambil merapikan pakaian Pangeran Indra.


Setelah semuanya selesai, mereka ber-tiga pun berjalan biasa saja menghampiri pintu gerbang padepokan yang layaknya dikatakan sebagai perkampungan besar ini.


Ketika mereka tiba di dalam, kini tampaklah suasana pedesaan yang tenang dan damai. Terlihat para anak-anak kecil berlarian sambil bermain kuda-kudaan yang di bentuk dari pelepah pisang. Ada juga yang bermain petak umpet.


Suasana seperti ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa sebenarnya desa ini dihuni oleh kaum rimba persilatan dari berbagai usia.


Memang rata-rata warga desa ini adalah murid-murid dari padepokan jati Anom yang telah menikah lalu menetap di padepokan ini. Namun, tidak jarang juga para angkatan tua yang bersahabat dengan Anom atau gelarnya di rimba persilatan adalah Dewa Pedang ini menetap di padepokan ini untuk sekedar menenangkan diri sebelum berundur dari hiruk-pikuk dan kerasnya rimba persilatan.


Melihat siapa yang datang, banyak dari mereka golongan angkatan tua menghampiri eyang Santalaya dan Bidadari Kipas Perak sekedar menyapa dan melepaskan kerinduan.


Hal ini bisa dimengerti. Selain dulu mereka bersahabat, mereka dulu juga sering bahu-membahu dalam menumpas angkara murka yang ditimbulkan oleh orang-orang dari golongan hitam.


"Santalaya! Hahaha. Lama sekali aku tidak bertemu dengan mu. Mungkin sudah hampir dua ratus purnama," kata salah seorang lelaki yang sudah sangat tua sambil setengah berlari menghampiri Eyang Santalaya, Bidadari kipas perak dan Pangeran Indra Mahesa.


"Hoi Mata Elang. Hahaha. Tidak ku sangka kau masih hidup. Terakhir aku mendengar kau terluka parah di tangan Datuk Hitam," kata eyang Santalaya pula sambil memeluk sahabat lamanya itu.


"Ya. Aku memang hampir saja mampus jika tidak ditolong oleh Dewa Pedang,"


"Oh ya! Aku mendengar selentingan kabar angin bahwa kau dan kekasih lama mu bekerjasama dalam melatih seorang anak lelaki yang ketika itu sempat menjadi rebutan golongan hitam. Apakah bocah itu adalah pemuda ini?" Tanya Mata Elang sambil menunjuk pangeran Indra dengan ibu jari tangannya


"Hahaha. Murid Sontoloyo ini. Orang-orang dari golongan hitam saja yang terlalu serakah. Padahal, anak ini hanya anak biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa selain tingkahnya sedikit mirip dengan ku," jawab eyang Santalaya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2