
Seorang bocah berusia tujuh tahun tampak sedang bersembunyi di cabang dahan pohon kayu yang besar di belakang sebuah gubuk reyot.
Dia tampak sekuat tenaga bertahan dari beberapa ekor semut yang sedang menggigit tubuhnya.
Sementara itu, sepasang pasangan yang sudah tua tampak sibuk mencari keberadaan bocah tadi sambil memanggil-manggil namanya.
"Indraaa! He Indra?! Di mana kau? Ayo cepat keluar dari persembunyian mu! Waktunya kau kembali berlatih,"
Seorang nenek tua tampak mencari-cari keberadaan anak itu sambil sesekali mengintip ke arah bawah kolong gubuk reyot itu kalau-kalau anak bernama Indra itu ternyata bersembunyi di sana.
"Hehehe. Kapok kan mencari ku. Makanya jangan terlalu galak. Masa iya latihan terus. Kapan aku bisa bermain-main?" Kata anak itu sambil memeluk dahan pohon besar itu.
Dia tampak bertiarap di atas cabang itu dan terus berada di sana sampai sore.
"Kurang ajar sekali anak itu. Awas jika ketemu, ku jewer telinga nya itu," rutuk lelaki tua sambil terus merambah semak-semak yang dia curigai menjadi tempat persembunyian Indra.
"Ketemu bocah itu?" Tanya wanita tua itu kepada lelaki tua yang baru saja keluar dari dalam semak belukar.
"Huh. Anak itu benar-benar seperti di telan bumi saja,"
Sementara itu, di atas pohon, tampak Indra sedang kasak kusuk karena semakin banyak semut yang merayapi badannya.
Bukan hanya merayapi saja. Kini semut itu malah menggigit tubuhnya membuat Indra tidak kuat lagi menahan gigitan dari semut itu.
Akhirnya, grasak-grusuk di atas pohon itu menarik perhatian dari lelaki tua itu. Sambil mengempos tenaga dalam, kini tubuhnya melesat ke atas pohon dan hinggap di dahan tepat di dahan yang sama dengan Indra yang sedang tiarap.
"Hahaha. Mau bersembunyi di mana kau hah anak nakal?!" Kata lelaki tua itu.
"Anu. Eh. Aku. Aku malas latihan terus eyang," jawab Indra sambil cengar-cengir. Tidak sedikitpun dia merasa takut terhadap lelaki tua itu.
"Kurang asem. Jika tidak mau belajar, aku akan menjatuhkan sarang semut ini tepat di atas badan mu. Biar tau rasa kau," ancam lelaki tua itu membuat Indra langsung ketakutan dan merosot turun ke bawah lalu lari terbirit-birit ke bawah kolong gubuk reyot itu.
"Tangkap anak itu Kunti!" Teriak lelaki tua itu sambil meluncur dengan deras turun dari dahan pohon besar itu.
__ADS_1
"Mau lari kemana kau hah? Mengapa kau selalu membuat kami berdua makan hati hah anak setan?" Bentak wanita tua itu sambil menarik kain sutra berwarna kuning bersulam benang emas yang terikat di pinggang anak itu.
"Hihihi. Aku cape Eyang," jawab anak itu sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan wanita tua itu dari kain sutra yang melilit di pinggang nya.
"Tidak ada cape cape. Ayo sekarang latihan!" Paksa wanita tua itu.
"Jika dia tidak mau latihan, serahkan saja kepada ku. Itu karena ilmu silat mu tidak cocok untuk anak itu."
Terdengar satu suara di susul satu sosok tubuh keluar dari semak belukar dan dengan ringan melompat lalu berdiri diantara anak dan wanita tua itu.
"Puiiih. Ternyata kau lagi, Gagak Rimang!"
"Mengapa? Apa kau terkejut?"
"Aku datang ke sini untuk membayar kekalahan ku yang lalu berikut bunganya. Kali ini aku tidak mau tanggung lagi. Harus ada yang mati di antara kita," kata lelaki itu sambil tersenyum.
"Nah. Berantem ini pasti. Seru ini," kata Indra lalu menjauh dan sengaja mengambil satu balok kayu kemudian duduk ongkang-ongkang di atas kayu itu dengan lagak seperti orang yang sudah dewasa saja.
Sementara itu lelaki tua yang baru turun dari dahan pohon besar tadi kini sudah berdiri disampingnya Indra sambil terus memperhatikan gelagat dari tamu yang tidak di undang itu.
"Aku jauh lebih siap dari diri mu, Gagak Rimang. Majulah jika ingin mengantar nyawa!" Jawab Kunti Bawuk alias Bidadari kipas perak itu sambil mencibir.
"Kurang ajar! Bersiaplah untuk mampus. Aku akan membuat mu tak bernyawa dan anak itu akan menjadi murid ku," bentak Gagak Rimang geram.
"Kau pantasnya sebagai tukang penjual obat. Karena sejak tadi hanya bicara saja yang besar tanpa adanya tindakan. Apakah kau sudah beralih pekerjaan dari gembong aliran sesat menjadi penjual obat?"
Perkataan penuh hinaan dari Kunti Bawuk alias Bidadari kipas perak ini membuat Gagak Rimang naik pitam.
Dia langsung membentak dengan lantang. "Kurang ajar kau Kipas Perak. Aku mengadu nyawa dengan mu. Perhatikan serangan!" Kata Gagak Rimang lalu segera mengirimkan tendangan kilat yang berhasil dielakkan oleh Bidadari kipas perak.
Kedua dedengkot dunia persilatan berbeda aliran dan jenis kelamin itu kini saling berhadap-hadapan dengan tatapan mata tajam seolah-olah saling mengukur kekuatan masing-masing dari lawan.
Kedua orang ini lalu membuka langkah pertama dan saling memfokuskan diri antara serangan lawan, lalu gerak menghindar serta balasan yang dilancarkan pada waktu yang tepat.
__ADS_1
Sebelumnya, mereka memang sudah pernah bentrok satu kali tepatnya dua tahun yang lalu. Namun kini tentu sudah sangat berbeda.
Karena janji diantara mereka orang-orang rimba persilatan adalah perkataan yang harus ditepati, maka setelah hari perjanjian itu keluar dari masing-masing orang ketika dua tahun yang lalu, keduanya pun mulai sama-sama mempersiapkan diri sampailah pada hari dimana janji itu harus dilunasi sampai tuntas.
"Lihat serangan!" Bentak Gagak Rimang lalu segera mengirim jotosan ke arah dada.
Melihat serangan yang datang, Bidadari kipas perak pun langsung mengegoskan tubuhnya ke samping lalu sedikit merunduk kemudian memberikan serangan balasan berupa sapuan kakinya ke arah kaki lawan.
Gagak Rimang langsung mengangkat sebelah kakinya untuk menghindari sapuan kaki dari Bidadari kipas perak kemudian mengirim tendangan ke arah kepala.
"Haiiit!"
Wuzzz..!
"Ciaaah!"
Plak!
Bidadari Kipas Perak langsung menangkap pergelangan kaki Gagak Rimang dengan tangan kirinya lalu meninju telapak kaki tersebut dengan tangan kanannya.
Pukulan yang mengandung pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi itu tak urung membuat Gagak Rimang terjajar kebelakang. Dia terus mundur beberapa langkah sambil terjingkat-jingkat akibat pukulan di telapak kakinya dari wanita tua itu.
"Setan alas! Ternyata pesat juga kemajuan ilmu mu." Puji Gagak Rimang sambil meringis kesakitan.
"Bagaimana Gagak Rimang? Pulang saja lah ke danau teratai. Aku tidak ingin memperpanjang urusan. Sebelum kau mati, ada baiknya pikirkan sekali lagi!"
"Puiiih!!! Bangga sekali kau ini Kipas Perak. Aku bukan anak kecil yang bisa di gertak dengan jurus balasan yang murahan seperti itu," terdengar sinis perkataan dari Gagak Rimang ini.
"Hanya jurus murahan saja kau bisa begitu. Apa lagi dengan jurus simpanan ku, kau bisa terkencing di dalam celana,"
"Setan alas. Kau terlalu bangga. Ini baru awal. Sekarang terimalah serangan ku ini!"
Bersambung...
__ADS_1
,