Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kematian Gagak Rimang


__ADS_3

Lelaki tua berbadan besar mengenakan pakaian serba hitam tersebut kini tampak berkomat-kamit membaca mancra.


Tiba-tiba saja dari telapak tangannya mengepul asap tipis berwarna hitam mengandung hawa panas dan berbau sangat menyengat.


"Hmmm... Ajian apa lagi yang akan dikeluarkan oleh setan Gagak Rimang ini?" Batin Bidadari kipas perak dalam hati.


Tak mau ketinggalan, wanita tua ini juga mulai memasang kuda-kuda dengan tangan mengatup di depan dada, kemudian mulai melafazkan mantra. Kini tampak dari sela-sela jari tangannya yang terkatup itu mengeluarkan asap tipis berwarna kuning.


"Bersiaplah kipas perak!" Bentak Gagak Rimang sambil melompat ke depan lalu mendorong kedua telapak tangan nya ke arah Bidadari kipas perak.


Tidak mau menerima serangan secara pasrah, Bidadari kipas perak juga melakukan hal yang sama.


Kedua telapak tangannya yang tadi terkatup bulai di buka dan dengan bentakan yang lantang, dia langsung memapas serangan yang dilancarkan oleh Gagak Rimang.


"Hiaaaat..!"


"Huaaaah!


Duaaar!


"Uhuk.."


"Argh...!"


Brugh... Gusrak.


Begitu kedua telapak tangan itu bertemu, terdengar bentakan disertai letupan keras akibat bertemunya dua ajian kesaktian itu disertai suara batuk dari kedua belah pihak.


Kedua orang itu kini saling terpental kebelakang dan sama-sama jatuh bergulingan di semak belukar.


"Uhuk.., uhuk.., uhuk.."


Terdengar suara batuk tiga kali disertai keluarnya sosok tubuh seorang wanita tua sambil merangkak.


Sementara itu Gagak Rimang juga tampak berguling ke arah satu pohon besar. Seketika tubuhnya baru berhenti ketika menghantam pohon tersebut hingga daun pohon itu berguguran akibat benturan tadi.


Darah berwarna kehitaman mulai menyembur dari mulut dan hidungnya menandakan bahwa dia kini terluka cukup parah di bagian dalam.


"Setan alas kau Kunti. Aku mengadu jiwa dengan mu!" Kata Gagak Ireng sambil duduk bersila kemudian kembali merapal mantra.


Tubuh lelaki ini kini bergetar hebat lalu tampak posisinya yang duduk bersila itu naik beberapa jengkal ke atas. Keadaannya kini benar-benar mengambang di udara hampir setinggi setengah batang tombak.


"Keluarkan semua ajian kesaktian mu Rimang! Aku tidak pernah gentar!" Jawab Bidadari kipas perak sambil bangkit berdiri lalu dengan sikap memasang kuda-kuda, dia mengepalkan tangannya sebelah kiri separas pinggang, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas dalam keadaan terkembang.


"Ajian Tapak suci!" Bentaknya di susul dengan angin bersiur kencang.

__ADS_1


"Ajian telapak wisa!" Bentak Gagak Rimang pula lalu meluruk ke arah Bidadari kipas perak.


Duar!


Sekali lagi terdengar suara ledakan yang sangat keras diiringi mencelat nya dua sosok tubuh saling berlawanan.


Kali ini keadaan kedua orang tua itu benar-benar sudah kepayahan. Terutama Gagak Rimang. Jika tadi darah hanya keluar dari mulut dan hidung, kini dari sela mata dan telinga nya juga mengeluarkan darah kehitaman.


"Ternyata nama bidadari Kipas Perak bukanlah sebuah nama kosong belaka. Andai aku mati hari ini, ini adalah kematian yang paling menyenangkan bagiku. Mati ditangan seorang pendekar yang pilih tanding," kata Gagak Rimang memuji dengan tulus.


"Apakah pertarungan ini perlu kita lanjutkan, Rimang?" Tanya Bidadari kipas perak.


Keadaannya kini juga sudah sangat kepayahan.


Di mulai dari ujung jari, sampai sebatas siku telah berubah warna menjadi kebiruan. Ini adalah akibat dari racun ganas yang terkandung dalam ajian yang dilepaskan oleh Gagak Rimang tadi sewaktu mereka saling membenturkan telapak tangan.


"Pertarungan ini hanya akan selesai ketika salah satu di antara kita ada yang terbunuh. Aku memegang janjiku dua tahun yang lalu. Janji seorang pesilat adalah sumpah. Jika aku mundur, dunia persilatan akan menertawakan ku. Apa gunanya lagi nyawa masih melekat di badan jika harga diri sebagai salah satu dedengkot di dunia persilatan lari dari gelanggang karena takut mati," kata Gagak Rimang sambil bersusah payah untuk berdiri.


"Aku menghargai sifat ksatria yang kau miliki. Andai aku terbunuh ditangan mu, Santalaya tidak boleh menuntut balas," kata Bidadari kipas perak yang sejak tadi sudah berdiri walaupun terbungkuk-bungkuk.


"Keluarkan senjata pamungkas mu Kunti! Kita selesaikan pertarungan ini hari ini juga!" Kata Gagak Rimang lagi sambil meraba ke arah pinggangnya.


Kini di tangannya tampak seutas cambuk sepanjang dua jengkal dengan gagang terbuat dari besi kuning berlambang kepala tengkorak.


Begitu benda yang terlihat seperti lempengan besi itu dikibaskan, kini tampak sebuah kipas dengan bilah-bilah besi runcing dan tajam berkilat-kilat terkena pantulan sinar matahari sore itu.


"Kau sudah siap Kipas perak?" Tanya Gagak Rimang.


"Aku sudah siap sejak tadi!" Jawab Bidadari kipas perak.


"Lihat serangan!"


"Hiaaaaat...!"


Werr.., werr.., wer!


Terdengar suara berdengung begitu cemeti samber nyawa yang berada di tangan Gagak Rimang diputar-putar di udara.


Beberapa saat kemudian keluarlah angin laksana topan melanda kawasan hutan ditempat mereka mengadakan pertarungan itu.


Beberapa pohon kini tampak bertumbangan akibat kekuatan dari senjata yang berada di tangan Gagak Rimang ini.


Saat ini, baik Bidadari Kipas Perak maupun eyang Santalaya sama-sama menyalurkan tenaga dalam mereka ke arah kaki untuk menahan gempuran dari angin topan ciptaan dari senjata Cemeti samber nyawa. Tapi yang mengherankan, Pangeran Indra malah tenang-tenang saja duduk di balok kayu sambil ongkang-ongkang. Hal ini tentu saja membuat heran ketiga orang yang sedang berada di tempat itu.


"Anak ini. Luar biasa sekali. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan ajian Lindu Saketi. Beruntung nya aku andai dapat mengangkat anak ini menjadi murid ku," kata Gagak Rimang dalam hati. Dia kini semakin bertekad untuk memenangkan pertarungan ini.

__ADS_1


"Indra. Berpeganglah kepada eyang Santalaya. Jangan sampai kau terpengaruh dengan ajian yang dilepaskan oleh Gagak Rimang itu!" Kata Bidadari kipas perak memperingatkan.


Bukannya takut, Pangeran Indra malah bangkit berdiri lalu berjingkrak-jingkrak menyuruh mereka agar bertarung lagi.


"Hanya angin begitu saja kakek Gagak Rimang? Kalau hanya itu saja, kau tidak pantas menjadi guru ku!" Kata Pangeran Indra sambil mencibir.


"Heh anak kurang ajar! Aku pastikan akan menyiksa mu setelah aku mengakhiri pertarungan ini," ancam Gagak Rimang.


"Itupun kalau kau keluar sebagai pemenang," jawab Bidadari kipas perak sambil mengebutkan kipas perak nya ke depan.


Seketika itu juga balasan angin yang lebih dahsyat menderu mengalahkan angin ciptaan Gagak Rimang tadi.


"Kurang ajar. Aku akan membunuhmu!" Bentak Gagak Rimang lalu segera melesat ke depan dan mengirim serangan kilat yang sangat dahsyat.


Bidadari Kipas Perak yang sejak tadi telah bersiap-siap kini menyambut serangan itu dengan tenang.


Suara ledakan yang memekakkan telinga pun terjadi ketika dua senjata pusaka itu berbenturan diselingi percikan api.


Kini kedua tua bangka dedengkot dunia persilatan ini kembali saling berjual beli serangan.


Beberapa kali pukulan tangan kiri mereka beradu disertai mencelatnya dua sosok tubuh.


Jatuh bangun dalam pertarungan yang alot ini terus berlangsung sampai ke senja.


Tepat ketika Gagak Rimang melancarkan serangan, Bidadari Kipas Perak pun langsung menyambut kibasan cemeti di tangan Gagak Rimang itu dengan kipas perak nya yang terkembang.


Begitu kedua senjata itu beradu, Bidadari kipas perak langsung mengatupkan kipasnya sehingga cemeti milik Gagak Rimang terjepit di tengah-tengah.


Saling tarik menarik pun terjadi antara keduanya disertai pengeluaran tenaga dalam yang masih tersisa membuat luka dalam yang diderita kedua orang tua ini semakin parah.


Setelah hampir sepeminuman teh saling tarik menarik itu terjadi, Bidadari kipas perak langsung melepaskan jepitannya membuat Gagak Rimang langsung terhuyung-huyung kebelakang.


Belum sempat dia memperbaiki posisinya, Bidadari kipas perak langsung mengejar lalu dengan kipas yang terkatup itu, dia menghujamkan nya ke arah tenggorokan Gagak Rimang.


"Hoek.."


"Akh...!" Kata Gagak Rimang sambil memegangi lehernya yang berlubang akibat tikaman dari ujung senjata kipas milik Bidadari kipas perak.


Darah kini mulai menyembur setiap kali Gagak Rimang menarik nafas.


"Katakan! Katakan kepada seluruh dunia bahwa aku mati dengan cara terhormat!" Kata Gagak Rimang lalu terkulai dengan nyawa lepas dari raga nya.


Saat itu Bidadari Kipas Perak juga terjatuh lunglai di tanah berumput sambil memuntahkan darah segar.


"Huh. Baru kali ini aku bertemu dengan lawan yang sangat alot sekali. Puas rasanya bertarung seperti ini. Sudah lama aku tidak mendapatkan lawan tangguh seperti Gagak Rimang ini." Kata Bidadari Kipas Perak lalu jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2