
Debu tampak beterbangan dari bekas hentakan kaki kuda lalu menutupi pandangan mata.
Suara derap kaki kuda kini semakin dekat dan tampak rombongan itu kini hampir tiba di depan gapura menuju ke pusat kota kadipaten Gedangan itu.
Sementara itu, seluruh rakyat yang masih berada di luar bagaikan segerombolan anak ayam yang diincar oleh seekor elang. Lari bertempiaran mencari tempat perlindungan.
Di tempat-tempat tersembunyi, semua pasukan pemanah telah siap dengan tali busur yang telah terentang. Begitu perintah turun, makan ribuan anak panah pasti akan menghujam ke tubuh rombongan itu.
"Jangan ada yang melakukan serangan sebelum mendapat perintah dari ku!" Teriak Pangeran Indra Mahesa disertai pengerahan tenaga dalam sehingga suara teriakannya menggema ke seantero kota kadipaten Gedangan ini.
Sekitar sepeminuman teh berlangsung, kini mereka semua melihat sekitar seribu orang prajurit memakai seragam keprajuritan dari Setra kencana dengan seorang lelaki tampan memimpin mereka layaknya dia adalah seorang Panglima perang.
"Gusti. Mereka ini bukankah prajurit Setra kencana pimpinan Raden Danu yang melarikan diri dan meminta perlindungan di kota raja?" Tanya Senopati Arya Prana.
__ADS_1
"Benar. Segera hentikan para prajurit kita! Tidak ada yang boleh melakukan serangan!" Perintah Pangeran Indra Mahesa.
"Perhatian! Jangan ada yang melakukan serangan!" Teriak Senopati Arya Prana yang kemudian disambut dengan turunnya busur panah dari prajurit yang tadinya sudah bersiap-siap melakukan serangan.
Tepat di bawah benteng, kini pasukan berkuda itu berhenti dengan pemimpin tertinggi mereka segera melompat turun dari kudanya.
Tampak seorang lelaki tua berusia sekitar 60 tahun menghampiri rombongan itu.
"Raden Danu. Ternyata kalian datang juga ke kadipaten Gedangan ini," kata lelaki tua itu.
"Hahaha. Aku hanyalah Adipati tua yang hanya bisa memberikan nasehat. Namun, seluruh keputusan berada di tangan cucu ku yaitu Pangeran Indra Mahesa. Dia lah yang saat ini menjadi panglima tertinggi di kerajaan Galuh ini," jawab orang tua yang ternyata adalah Adipati Rakai langit.
"Dimanakah saat ini Kanjeng Gusti Pangeran Indra Mahesa itu berada?" Tanya Raden Danu sambil memandang ke sekelilingnya.
__ADS_1
"Aku di sini, Raden Danu!" Terdengar suara sahutan dari atas benteng membuat kedua orang itu membungkuk hormat.
Seperti elang menyambar mangsa, Pangeran Indra Mahesa melayang dengan ringan dari atas benteng yang tingginya hampir mencapai lima tombak itu.
Dengan sangat manis tanpa menimbulkan bunyi dan debu, dia dengan mantap menapakkan kakinya berdiri tepat di depan kedua orang beda usia itu. Sungguh ilmu meringankan tubuh yang hampir mencapai tingkat kesempurnaan.
"Terimalah salam sembah dari hamba, Gusti Pangeran Indra Mahesa!" Kata Raden Danu segera berlutut.
"Ah. Sudahlah. Lupakan sejenak peradatan. Kita saat ini adalah prajurit yang berada di medan tempur. Mengapa terlalu berbasa-basi?" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil mencegah Raden Danu yang hendak menjatuhkan diri.
"Terimakasih, Gusti. Maaf jika kami terlambat tiba. Hamba sempat bertemu dengan Sadewa yang kembali ke kota raja. Dari dia lah hamba dapat tahu bahwa Gusti telah tiba di hutan bambu. Namun, ketika hamba tiba di sana, hamba hanya menemukan bekas perkemahan. Oleh karena itu jua lah membuat hamba memutuskan untuk langsung berangkat menuju ke kadipaten Gedangan ini. Bersyukur hamba ternyata tidak salah arah,"
"Hahaha. Ketahuilah wahai Raden Danu. Kedatangan mu sungguh bagaikan anugerah bagi kami sekalian. Ini karena, saat ini kami memang membutuhkan bantuan dari segi prajurit berkuda. Kau tau sendirilah. Kerajaan Galuh tidak terlalu kaya seperti kerajaan Sri Kemuning dan Setra kencana," kata Pangeran Indra Mahesa sedikit malu-malu menceritakan keadaannya saat ini.
__ADS_1
"Jika hamba boleh tau, bantuan apakah yang sangat Gusti Pangeran perlukan saat ini?"
Bersambung...