
Sosok tubuh yang melayang seperti terbang dalam posisi terlentang itu terhempas di halaman luas yang berdebu itu.
Beberapa murid dari padepokan jati Anom itu tampak terkejut setengah mati melihat guru mereka terlentang dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Mereka seperti tidak percaya jika tokoh Kosen papan atas yang pilih tanding itu bisa terbanting keras menabrak tiang penyangga pendopo hingga membuat bangunan itu runtuh membuat yang lainnya berhamburan mencari pak selamet.
Kumpulan pemuda itu menghentikan langkah mereka dari untuk mendekati tubuh guru mereka yang bersusah payah untuk bangun itu ketika mendapat isyarat dari Jari malaikat dan Mata Elang agar tidak mendekat.
Dari samping tampak pangeran Indra berjalan menghampiri sambil menenteng keris tumbal kemuning.
Entah mendapat idea dari mana, dia pun bertindak sok tau lalu meletakkan keris tersebut di atas dada Dewa Pedang.
Ajaib, Dewa Pedang merasakan hawa sejuk menjalar dari keris tersebut lalu menjalar mengalir ke seluruh rongga dadanya terus merambat ke seluruh tubuh. Perlahan namun pasti, luka dalam yang dia derita berangsur membaik walaupun tidak sepenuhnya.
"Bantu aku berjalan. Kita pindah saja ke dalam rumah!" Ajak Dewa Pedang yang diikuti oleh yang lainnya.
Tampak Pangeran Indra Mahesa memapah tubuh Dewa Pedang yang tampak sudah semakin membaik.
Tiba di dalam, kini Dewa pedang duduk bersila selama sepeminuman teh, sedangkan yang lainnya dengan sabar menunggu.
"Sungguh dahsyat pengaruh keris itu. Aku seharusnya tidak bertindak bodoh dengan memaksakan diri," kata Dewa Pedang begitu matanya yang terpejam perlahan terbuka.
"Hahaha. Semakin tua usia seseorang, semakin aneh pula tingkah polah nya," kata eyang Santalaya sambil terkekeh gelak.
"Indra Sontoloyo. Apakah kau pernah mencabut keris itu dari warangkanya?" Tanya Dewa Pedang.
"Pernah sekali, Eyang. Dan aku sangat ketakutan," jawab pangeran Indra seadanya.
"Aku hanya itu ingin membuktikan apakah kau mampu atau tidak mencabut keris itu dari warangkanya?!"
Mendadak tenggorokan pangeran Indra terasa kering seketika ketika dia di pinta secara halus untuk mencabut keris tersebut.
__ADS_1
Baru saja kemarin dia nyaris buang air di dalam celana ketika dia dengan iseng coba-coba untuk mencabut keris tersebut.
"Kau takut Indra?" Tanya eyang Santalaya.
Pangeran Indra buru-buru mengangguk.
"Apakah kau ingin mengetahui jatidiri mu?"
"Iy-iya Eyang," jawab Pangeran Indra.
"Kalau begitu kau tunggu apa lagi? Lekas cabut keris bertuah itu!" Perintah dari eyang Santalaya.
"Ba-baik--baiklah, eyang!" Kata Pangeran Indra lalu berkata kepada keris itu. "Hei keris. Kita sudah bersahabat. Jangan kau makan aku! Aku belum menikah. Belum sempat merasakan masakan istriku. Selama ini hanya masakan eyang Putri ku saja. Tidak enak!" Kata Pangeran Indra membuat Bidadari kipas perak mendelikkan matanya.
"Kau ingin merasakan kipas perak ku, Indra?" Bentak Bidadari kipas perak.
"Am-am-ampun eyang Putri," kata Pangeran Indra lalu segera memusatkan perhatian pada keris yang saat ini masih berada dalam genggaman tangannya.
Sreeeet!
"Huh..!" Kata pangeran Indra. Bulir-bulir keringat dingin kini tampak mulai membasahi keningnya.
Sreeeet..!
Tiba-tiba saja ruangan yang sedikit temaram karena senja sudah mulai turun itu berubah jadi terang benderang berwarna kuning keemasan akibat pantulan dari pamor keris yang berada di genggaman tangan Pangeran Indra Mahesa itu.
Semua mata kini terbelalak menyaksikan dari keris tersebut keluar bayangan seekor naga berwarna kuning lalu membelit seluruh tubuh pangeran Indra kemudian amblas masuk ke dalam tanpa bekas.
Sambil memejamkan matanya, pangeran Indra tampak mengacungkan keris tumbal kemuning itu diikuti oleh tetesan keringat dingin.
"Naga itu. Itu lah yang melibas tubuh ku tadi," kata Mata Elang mendadak beringsut mundur.
__ADS_1
Entah bagaimana, kini Dewa pedang langsung berlutut memberi sembah diikuti oleh Penyair Gila dan Jari malaikat.
"Sembah kami untuk Gusti Pangeran Indra Mahesa!" Kata Dewa pedang diikuti oleh dua orang tua lainnya.
Pangeran Indra sama sekali tidak menyadari bahwa ketiga orang itu telah menghaturkan sembah kepadanya. Saat ini matanya masih terpejam karena ketakutan.
Plak!
"Masukkan kembali keris tumbal kemuning itu ke dalam warangka nya!" Kata Eyang Santalaya sambil menepuk pundak Pangeran Indra Mahesa.
Tepukan yang disertakan dengan tenaga dalam itu membuat Pangeran Indra tersentak lalu buru-buru memasukkan kembali keris tersebut ke dalam warangka nya.
Begitu dia membuka mata, tampak Dewa pedang, Bima Purana, Penyair Gila, Jari Malaikat dan Mata Elang telah menghaturkan sembah kepadanya.
"Indra. Sekarang kau sedikit telah mengetahui asal usul mu. Kau adalah Pangeran yang telah digulingkan kekuasaannya oleh Paman mu sendiri. Sebaiknya aku melepaskan dirimu untuk turun gunung. Bagaimanapun, tugas kami sebagai pendidik dan merawat mu telah selesai. Aku akan kembali ke lembah bangkai untuk mengasingkan diri. Nasehat ku, jangan terlalu terburu-buru untuk mencari keberadaan ibumu. Rimba persilatan itu kejam. Terkadang apa yang tersurat belum tentu sama dengan yang tersirat. Pandai-pandai lah dalam mengarungi ganasnya ombak persilatan. Ilmu ku sudah habis ku turunkan kepada mu. Sekarang semuanya kembali bagaimana kemampuan mu sendiri," kata eyang Santalaya.
"Berhati-hatilah dengan keris yang berada padamu itu. Kau bukan satu-satunya yang mampu mencabut keris itu. Jaya Pradana juga memiliki hak terhadap keris itu. Oleh karena itu, aku akan meminta murid terbaik ku bernama Bayu untuk membantu mu dalam pengembaraan," kata Dewa pedang.
"Aku juga sama. Aku akan melepaskan murid tunggal ku bernama Gayatri untuk turun gunung sekaligus menimba pengalaman di rimba persilatan. Bagaimana denganmu Jari Malaikat?" Tanya Bima Purana.
"Ya. Sudah seharusnya murid-murid yang kita didik selama ini untuk turun gunung, mengamalkan semua ilmu yang telah mereka pelajari demi membantu yang lemah menumpas angkara murka," kata Jari Malaikat pula.
Mereka semua yang berada di dalam rumah besar milik Dewa Pedang itupun keluar bersamaan lalu memanggil murid masing-masing kemudian memberikan tugas kepada mereka bertiga untuk turun gunung membantu pangeran Indra Mahesa berjuang mencari jati diri nya kemudian menuntut kembali hak tahta kerajaan Sri Kemuning yang telah di rampas dari dirinya.
Ketiga murid itu pun menyetujui. Terlebih lagi Gayatri. Dia sangat senang bisa turun gunung. Apa lagi bersama dengan Pangeran Indra Mahesa.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Andini. Dia yang memang memiliki hubungan dengan Bayu terlihat tak kalah gembiranya begitu mengetahui besok mereka akan dilepas oleh guru masing-masing untuk turun gunung. Mengarungi kerasnya rimba persilatan demi menegakkan kebenaran dan menumpas kejahatan.
"Sekarang kalian bertiga bisa menuju ke kamar masing-masing untuk mengemas barang-barang milik kalian masing-masing. Besok pagi-pagi sekali, kalian harus sudah bergerak meninggalkan kadipaten jati luhur ini menuju ke kerajaan Galuh. Karena saat ini kerajaan itu berada dalam ancaman Paku Bumi," kata Dewa pedang.
"Sendiko dawuh Eyang Guru!" Kata Bayu lalu bergegas mendahului yang lainnya untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk bekal perjalanan panjang merambah rimba persilatan setelah diperbolehkan untuk turun gunung.
__ADS_1
Bersambung...