
Malam ini tampak begitu cerah dengan jutaan bintang bertaburan di angkasa menghiasi langit malam yang begitu cerah.
Sementara itu sang rembulan yang sejak tadi mengintip malu-malu di balik awan telah menampakkan wujudnya secara utuh bergantung tanpa tali di langit malam dengan pancaran cahaya keemasannya.
Semilir angin berhembus lirih menyibakkan rambut seorang pemuda tampan berpakaian serba putih dengan sehelai sutra berwarna kuning keemasan tampak melilit di pinggang nya.
Pemuda itu adalah Pangeran Indra Mahesa yang sedang melamun jauh sambil terduduk di atas sebatang pohon yang telah tumbang melintang di bagian kiri luar gerbang padepokan jati Anom itu.
Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Sesekali dia memungut sebutir kerikil lalu melemparkannya ke rerumputan yang berada di hadapannya membuat suara jangkrik mendadak berhenti mengumandangkan suara tanpa nada.
Sejenak pangeran Indra Mahesa menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskan nya kuat-kuat.
"Melamun Kakang?"
Terdengar satu suara seorang wanita menyapanya dari belakang membuat lamunan pemuda itu buyar seketika.
Sambil menyelipkan rambutnya di balik telinga, dia lalu menoleh ke arah datangnya suara wanita tadi.
Kini berjarak sekitar dua tombak di sampingnya, tampak seorang wanita memakai pakaian layaknya seorang pendekar wanita berwarna merah jambu berdiri menatap kearahnya sambil mengulas senyum yang sangat manis.
__ADS_1
"Gayatri?!" Sapa pangeran Indra Mahesa lalu bangkit berdiri menghampiri wanita itu.
"Pantas kau tidak berada di dalam. Ternyata kakang di sini ternyata?!" Kata Gayatri sembari memainkan ujung bajunya yang memiliki rumbai-rumbai itu.
"Oh. Iy-iya. Aku sengaja di sini untuk menikmati keindahan malam di sini. Coba kau lihat di sana itu! Bulan mengambang penuh seolah-olah memberikan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya," kata Pangeran Indra Mahesa pula beralasan. Dia tidak ingin nantinya akan semakin banyak pertanyaan dari gadis yang sok akrab ini sejak tadi sore.
"Sebenarnya aku tau, kakang tidak menikmati keindahan malam. Aku tau bahwa kakang saat ini sedang berperang dengan alam pikiran sendiri. Kakang boleh berbagi dengan ku jika tidak keberatan," kata Gayatri menawarkan untuk tempat berbagi cerita kepada pemuda yang berdiri di sampingnya itu.
"Terimakasih, Gayatri. Sejujurnya aku masih ragu apakah aku harus menemui Gusti Prabu Rakai Galuh yang katanya adalah kakek ku itu. Apa iya aku ini seorang Putra mahkota yang telah dirampas haknya oleh pamannya sendiri? Rasanya hatiku saat ini bercabang dua antara yakin atau tidak. Lagipula, siapa yang mau percaya bahwa aku ini adalah seorang pangeran dari kerajaan Sri Kemuning yang telah runtuh itu?"
"Aku sebenarnya tidak bisa memberikan apa-apa pendapat terhadap masalah yang sedang kakang hadapi saat ini. Namun, jika diperbolehkan untuk memberi masukan, aku hanya bisa mengatakan bahwa andai kata kakang bukanlah seorang pangeran, tapi sebagai murid dari seorang tokoh kondang di dunia persilatan, kakang memiliki kewajiban untuk menumpas segala bentuk kejahatan yang selama ini cukup membuat rakyat sengsara. Kakang memiliki kewajiban untuk meneruskan jejak eyang Santalaya dan Bidadari kipas perak di rimba persilatan. Jika kakang adalah seorang pendekar, maka bantulah rakyat dengan ilmu pengetahuan yang kakang miliki. Jika ternyata kakang memang seorang pangeran, maka kakang memiliki dua kelebihan untuk membahagiakan rakyat. Yaitu, dengan kekuasaan yang kakang miliki, serta ilmu pengetahuan yang telah kakang pelajari," kata Gayatri pula membuat pangeran Indra hanya bisa manggut-manggut saja.
"Kau belum mengantuk kakang?" Tanya Gadis itu lagi.
"Emmm... Belum. Kau?" Kata Pangeran Indra pula balik bertanya.
"Em.., aku juga belum,"
"Jujur saja bahwa ketika mendapat perintah dari eyang guru ku untuk turun gunung, aku merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Ini karena, jauh di dasar hatiku, aku mendambakan kebebasan untuk melangkah kemana saja yang aku suka setelah selama belasan tahun terus menerus di gembleng oleh eyang guru ku," kata Gayatri.
__ADS_1
Selama ini, dia telah berusaha dengan keras untuk berlatih dan belajar tanpa lelah terhadap segala jenis ilmu yang diturunkan oleh Jari malaikat kepadanya. Harapannya satu, bisa melang-lang buana ke berbagai tempat untuk membantu kaum yang tertindas. Karena, sia-sia saja dia belajar menghabiskan waktu yang tidak sebentar jika tanpa kesempatan untuk menerapkan apa yang telah dia pelajari.
"Kau tentu memiliki ilmu Kanuragan yang sangat tinggi," kata Pangeran Indra memuji sekaligus bernada pertanyaan.
"Ah. Tidak juga, Kakang. Cukup-cukup untuk melindungi diri lah dari gangguan lelaki hidung belang," jawab Gayatri dengan tingkah malu-malu.
"Bagaimana dengan mu, Kakang?" Kata gadis itu balik bertanya.
"Aku ini murid bebal. Sedikitpun tidak patuh terhadap perintah guru," jawab Pangeran Indra merendah. Dia tidak suka mengatakan bahwa seluruh ilmu kedua tokoh papan atas yaitu Eyang Santalaya dan Bidadari kipas perak telah semuanya dia kuasai. Bahkan untuk tenaga dalam, dia berada dua tingkat di atas kedua gurunya itu. Ini karena ketika masih bayi, dia pernah mendapat pemindahan tenaga dalam dari seorang Mahapatih di kerajaan Sri Kemuning yang terluka parah akibat peperangan.
"Tidak apa-apa, kakang. Bukankah kita berempat. Jika kita saling bekerja sama, pasti akan terasa lebih mudah," kata gadis itu berusaha membesarkan hati Pangeran Indra.
Mereka berdua lalu melangkah ke tempat yang lebih tinggi di puncak bukit yang tidak terlalu tinggi itu saling beriringan.
Jika diperhatikan dari bawah, tampak seorang pemuda berpakaian serba putih dan seorang gadis muda berpakaian warna merah jambu sedang berdiri dibawah curahan sinar rembulan yang terus mengambang tanpa lelah itu.
Tampak ujung baju sepasang pemuda dan gadis itu berterbangan senada dengan hembusan angin yang bertiup.
Bersambung...
__ADS_1