Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pasukan bantuan kembali tiba


__ADS_3

Malam ini, kembali tampak sekitar delapan ribu pasukan bergerak dari hutan bambu menuruni bukit mendatangi benteng tepat yang menjadi benteng pertahanan di kadipaten Gedangan dengan obor menyala sehingga jelas tampak dari kejauhan rombongan itu seperti tidak putus-putusnya.


Di luar benteng, tepatnya dalam jarak yang tidak dapat dijangkau oleh anak panah andai di lepaskan dari dalam benteng, tampak sekitar seratus orang prajurit penunggang kuda dengan dipimpin oleh Raja Jaya Pradana, Raka Pati dan Gagak Ireng memperhatikan saja keadaan itu.


Bagi mereka kini sudah sangat jelas bahwa saat ini setidaknya para prajurit yang berusaha mempertahankan benteng tersebut berjumlah tidak kurang dari dua puluh empat ribu pasukan, atau setara dengan setengah dari pasukan yang mereka miliki. Hal ini semakin menguatkan lagi perkiraan mereka tak kala melihat menjamurnya kemah-kemah serta dari tumpukan unggun-unggun api yang menyala memenuhi kawasan tempat perkemahan para prajurit yang berada di dalam benteng tersebut.


"Ampun Gusti Prabu.., sepertinya pasukan tambahan kembali tiba di kadipaten Gedangan ini," kata Raka Pati.


"Biarkan mereka menumpuk seluruh kekuatan mereka di kadipaten Gedangan ini. Ini akan memudahkan bagi kita untuk menaklukkan kota raja kerajaan Galuh yang saat ini mungkin sudah kosong. Andai kerajaan Galuh ini menumpuk kekuatan mereka demi mempertahankan kadipaten Gedangan ini, ini bisa jadi pertanda baik untuk kita membokong mereka serta memenangkan peperangan ini tanpa timbul banyak korban," kata Raja Jaya Pradana pula sambil terus memperhatikan pasukan yang tiba ini kini benar-benar menghilang di balik benteng.


"Lalu, Gusti Prabu.., apakah kita akan bergerak sekarang untuk menikung dari lembah jati?" Tanya Gagak Ireng pula.


"Tidak sekarang. Kita masih harus berada di sini setidaknya dua hari lagi. Ini semua guna memastikan apakah akan ada lagi pasukan tambahan yang akan datang atau hanya yang ada ini saja," jawab sang Raja.

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Prabu!"


"Sekarang, mari kita kembali ke perkemahan. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Eyang Guru terhadap Pratisara,"


"Gusti Prabu. Menurut hamba, tidak mungkin Pratisara dapat disembuhkan. Kiprahnya di dunia persilatan sudah tamat," kata Raka Pati mengemukakan keyakinannya terhadap keadaan Pratisara saat ini.


"Aku hanya memakai orang-orang yang berada dalam keadaan siap sedia. Jika orang itu tidak berguna dan hanya menambah beban dalam pasukan, sebaiknya usir saja dan biarkan dia mencari kehidupannya sendiri. Kalian tentu juga tidak ingin direpotkan oleh Pratisara ini, bukan?" Tanya Raja Jaya Pradana.


Mendengar perkataan yang sangat tidak mengenang jasa dari Raja Jaya Pradana ini, membuat Raka Pati dan Gagak Ireng saling pandang.


Di sisi lain, mereka juga tidak berani membantah apa yang dikatakan oleh Raja Jaya Pradana ini. Bagaimanapun juga, Jaya Pradana ini adalah lelaki berhati iblis yang sangat Zalim. Jangankan mereka, kakak kandungnya sendiri pun sanggup diaa gulingkan demi tahta kerajaan Sri Kemuning walaupun sampai saat ini dia masih belum diakui oleh rakyat.


"Hamba juga tidak ingin di bebankan oleh Pratisara ini, Gusti Prabu!" Kata Raka Pati dan Gagak Ireng. Saat ini mereka begitu terpaksa mengatakan hal yang bertentangan dengan isi hati mereka. Ini Karena, demi menyenangkan hati sang Raja.

__ADS_1


"Mari kita kembali ke perkemahan!" Ajak Raja Jaya Pradana.


Mereka kini mulai memutar arah untuk kembali ke perkemahan. Tapi belum lagi mereka jauh meninggalkan tempat pengintaian mereka tadi, dari arah kadipaten Gedangan tepatnya di atas bukit, kembali terlihat ribuan obor beserta nyanyian para prajurit memantulkan gema ke dinding benteng sehingga gema dari suara nyanyian dari ribuan prajurit itu seperti hendak menyampaikan pertanda kepada pasukan musuh bahwa mereka telah siap menghadapi peperangan.


Raja Jaya Pradana hanya dapat mengepalkan tangannya dengan geram.


Tadinya dia sempat berfikir, setelah kerajaan Setra kencana yang lebih kuat dapat dia runtuhkan, maka kerajaan Galuh hanyalah serpihan rimah yang dengan mudah dapat dia singkirkan. Namun, yang membuatnya tidak menyangka adalah, saat ini bahkan prajurit di kerajaan Galuh ini telah mencapai setidaknya tiga puluh ribu pasukan tentara.


Walaupun pasukan yang dimiliki oleh Paku Bumi berjumlah lebih dari lima puluh ribu, namun itu bukanlah sebuah jaminan untuk menang dengan mudah. Ini karena, untuk melakukan penyerangan secara total, mereka harus menerobos benteng yang didirikan oleh mereka sebagai tameng pertahanan.


Menurut mereka, itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Andai kata mereka berhasil menerobos benteng tersebut, maka dapat dipastikan bahwa pasukan prajurit yang menjaga benteng pertahanan itu bisa saja menghujani mereka dengan anak panah yang resikonya bisa membunuh ribuan prajurit.


Hal ini tentu memaksa Jaya Pradana, Raka Pati, Gagak Ireng beserta puluhan punggawa kerajaan lainnya untuk memutar otak bagaimana caranya supaya mereka bisa memenangkan peperangan ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2