Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kobaran api di lembah jati


__ADS_3

Gema nyanyian para prajurit Paku Bumi terdengar memantul di dinding tebing di jalan lorong lembah jati menuju ke kerajaan Galuh ini.


Mereka tampak sangat bersemangat ketika melakukan perjalanan.


Setelah lebih dari satu pekan melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya mereka tiba juga di lebah jati. Dan begitu mereka berhasil melewati lembah ini, maka mereka sudah tiba di wilayah kekuasaan kerajaan Galuh. Maka, semakin dekat lah mereka untuk menguasai kerajaan Galuh yang mana prajurit kerajaan Galuh ini sedang berkumpul di kadipaten Gedangan.


Mereka mengira bahwa saat ini, hanya dalam sekali serang saja, kota raja kerajaan itu pasti sudah berhasil mereka tawan. Dan ketika para prajurit yang berada di kadipaten Gedangan menyadari, maka semuanya sudah akan sangat terlambat bagi mereka.


Benteng setinggi dan sekuat apapun, akan menjadi percuma jika kota raja sudah di tawan. Hal ini lah yang membuat mereka sangat bergembira.


Setelah melewati lembah jati ini, diperkirakan dalam satu pekan lagi, mereka pasti akan tiba di ibu kota kerajaan Galuh itu.


Andai dalam waktu lima hari perjalanan, para prajurit yang berada di kadipaten Gedangan tidak mengetahui kedatangan mereka, maka sudah pasti para prajurit yang berada di benteng itu tidak akan mampu lagi mengejar untuk menyelamatkan kota raja. Ini karena, dari kadipaten Gedangan menuju ke kota raja membutuhkan waktu paling tidak tiga hari perjalanan dengan menunggangi kuda yang kuat.


Inilah mengapa mereka benar-benar merasakan bahwa siasat yang telah mereka terapkan berhasil. Padahal yang tidak mereka ketahui adalah,. Bahwa para prajurit yang berada di lembah jati pimpinan dari Senopati Arya Prana dan Panglima Rangga memang sengaja membiarkan para perintis jalan dan tilik sandi mereka untuk bebas lalu lalang melaporkan bahwa para prajurit dari Kadipaten Gedangan seolah-olah tidak menyadari akan siasat bokong yang mereka lakukan.


Semuanya sebenarnya saling berhubungan antara satu dan yang lainnya.


Di mulai dari para prajurit yang mengepung lebah jati ketika itu, yang memaksa Pangeran Indra Mahesa harus membuat jalan baru, akhirnya jalan tersebut sangat berguna untuk menghindari dari mata-mata yang diutus terlebih dahulu oleh Jaya Pradana.


Sementara itu, di atas tebing, tampak Pangeran Indra Mahesa menghunus pedangnya lalu menebaskan ke arah bawah.


Begitu Andini melihat ini, gadis itu segera menyulut ujung panahnya kemudian segera melepaskan anak panah tersebut hingga melesat menimbulkan asap hitam yang langsung di sambut oleh para prajurit sebagai tanda bahwa dimulainya serangan.


Tepat ketika pasukan dari Paku Bumi berada tepat ditengah-tengah lorong jalan tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan hujan batu yang berjatuhan dari atas tebing membuat para prajurit yang tidak menyangka bahwa mereka akan diserang dalam keadaan tidak siap menjadi kocar-kacir.


"Awas serangan mendadak!" Teriak Gagak Ireng yang tadinya sedang bersenda gurau dengan Raka Pati. Dia juga tidak menyangka bahwa ketenangan yang tadi itu bagaikan menanti sesuatu yang siap menerkam.


Bugh!


"Aaaa..." Jeritan mulai memenuhi lorong itu.


Suara nyanyian para prajurit yang tadi menggema di sekitar lembah jati ini berubah menjadi teriakan serta jeritan kematian.


Sementara itu, di bagian atas tebing, tampak para wanita dan anak-anak saling bergotong royong mengangkat bongkahan batu besar lalu membuang batu tersebut ke arah bawah.


Bugh!

__ADS_1


"Aduuuuh!"


Tampak beberapa prajurit langsung tergeletak dengan kepala rengkah akibat timpukan batu yang terus saja menggelinding bagaikan tiada habisnya.


"Lindungi Gusti Prabu!" Teriak Raka Pati sambil menghindar dari hujan batu itu.


"Sekarang, giliran minyak!" Teriak Pangeran Indra Mahesa kepada para prajurit dan penduduk yang sama-sama berjuang dengannya.


Setelah gema teriakan dari sang pangeran hilang di telah teriakan kesakitan dari bagian bawah di mana para prajurit dari Paku Bumi banyak yang meregang nyawa, kini ribuan kendi berisi minyak mulai berjatuhan di atas para prajurit itu.


"Hati-hati! Cepat mundur!"


"Ayo mundur!"


"Gusti Prabu, mari mita mundur! Jika tidak, kita semua akan terkubur di lembah jati ini!" Kata Raka Pati sambil mendekati kereta kencana yang telah basah oleh siraman minyak dari atas tebing.


Kata-kata dari Raka Pati ini segera terputus begitu dari atas tebing, melesat ribuan panah-panah berapi yang langsung membakar apa saja yang dihinggapi oleh panah tersebut.


"Arrrrrgh....!!!" Tampak ribuan prajurit berlarian dengan keadaan tubuh dijilati oleh api.


"Mundur semuanya!"


Kini tampak bagian gerobak kereta kencana itu musnah di lahap oleh api.


Bau daging panggang yang berasal dari tubuh manusia yang terbakar itu kini menutupi bau anyir darah yang tadi sangat membuat mual perut.


Sementara itu, melihat para prajurit yang masih hidup mencoba melarikan diri, para prajurit kerajaan Galuh yang telah mengikat tubuh mereka dengan tali langsung melompat menuruni bukit dengan senjata terhunus.


Hampir lima ribu prajurit bagaikan terbang menebas apa saja yang berada di hadapan mereka.


Kepala-kepala prajurit dari Paku Bumi kini menggelinding bagaikan buah semangka tergeletak di tanah setelah berpisah dari tubuh.


"Seraaaaang!"


"Hidup Sri Kemuning!"


"Ayo bebaskan negri ini dari penjajahan!"

__ADS_1


Bermacam-macam teriakan pembangkit semangat melaung bertalu-talu membangkitkan kobaran api semangat bagi mereka yang selama ini merasa di jajah.


"Kita bertemu lagi Raka Pati?!" Tegur seorang lelaki setengah baya memakai pakaian serba hitam. Dia tampak berdiri berkacak pinggang didepan seorang lelaki yang sudah tampak sangat acak-acakan seperti diamuk seratus banteng.


"Puiiih! Anjing Jaya Wardana. Ternyata kau dalang dari semua ini?" Bentak Raka Pati sambil menyemburkan ludah bercampur darah.


"Hahaha. Apa kau kira dengan mengatakan bahwa aku adalah anjingnya Jaya Wardana, maka kau merasa lebih mulia dari aku? Kau itu adalah anjingnya Jaya Pradana! Pengkhianat yang rela menggigit tangan Tuan nya sendiri. Anjing seperti dirimu tidak pantas bermimpi terlalu tinggi untuk menghancurkan kerajaan Galuh!" Senopati Arya Prana tampak tersenyum penuh ejekan sambil terus mencerca Raka Pati.


"Kurang ajar. Aku akan membunuh mu!" Bentak Raka Pati.


"Majulah Anjing Paku Bumi! Apa kau mengira bahwa aku mudah untuk kau bunuh? Majulah! Akan aku tunjukkan jalan ke neraka bagi seekor anjing pengkhianat seperti mu!"


"Hiaaat!!!"


Tampak Raka Pati kini telah kehabisan kesabarannya. Dia langsung menghunus keris di pinggangnya lalu segera menyerang bagian dada Senopati Arya Prana.


Ting! Ting! Ting!


"Uts..," kata Senopati Arya Prana sambil menghindar lalu enak saja kaki kanannya menyamplok pantat Raka Pati sehingga serangan yang tidak menemukan sasaran dari Raka Pati tadi begitu kuat yang sangat berdampak terhadap luncuran tubuhnya ke arah depan sehingga tertelungkup mencium tanah.


"Bangun kau Anjing Paku Bumi!" Kata Senopati Arya Prana sambil menendang betis lelaki yang sebaya dengannya itu.


"Cih! Jangan berbangga hati dulu kau setan!" Kata Raka Pati seraya mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki sehingga tubuhnya bagaikan terbuat dari karet yang bisa membal.


Raka Pati kini tampak telah berdiri sambil masang kuda-kuda baru dan siap untuk kembali melakukan serangan.


"Bersiaplah wahai Arya Prana!" Kata Raka Pati.


"Lihat serangan!" Bentaknya.


Perkelahian antara dua jago istana itu kembali terjadi. Jual beli pukulan kembali terjadi.


Kini tampak kedua lelaki itu saling melancarkan serangan.


Menyerang dan bertahan tampak sungguh mengagumkan bagi mereka yang melihat pertarungan yang menggunakan ilmu oleh Kanuragan tingkat tinggi ini.


Andai ini adalah sebuah sayembara, maka pertarungan ini sangat layak untuk di tonton. Namun sayangnya, ini adalah pertarungan hidup dan mati dalam suasana peperangan. Maka, tidak ada yang Sudi ambil perduli. Bagi mereka, tidak ada waktu untuk memikirkan orang lain. Para prajurit terlalu sibuk mencari tempat selamat dari kobaran api yang sudah menenggelamkan lebih dari separuh dari keseluruhan pasukan dari Paku Bumi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2