Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Jebakan Lembah Jati


__ADS_3

Di satu-satunya jalan yang menghubungkan antara Kerajaan Paku Bumi, Sri Kemuning dan Galuh, tampak ribuan orang sedang berjibaku bergotong royong mengangkat batu besar, mendirikan tempat perlindungan yang disamarkan, mengikat tali-tali besar lalu melontarkannya ke seberang dinding tebing satunya lagi di mana, di bawahnya terdapat satu-satunya jalan pintas menuju ke kerajaan Galuh.


Jika di lihat, jalan ini tidak seperti jalan biasa. Ini karena, selain jalan tersebut diapit oleh dua tebing yang tinggi di sisi kiri dan kanannya, jalan ini juga sangat rawan perampok. Namun, ketika satuan prajurit dengan jumlah yang besar, siapa yang berani merampok? Setidaknya itu lah yang ada di fikiran orang-orang sombong dari Paku Bumi dan Sri Kemuning.


Saat ini, tampak seorang laki-laki setengah baya memberikan arahan kepada bawahannya untuk mengatur posisi masing-masing.


Dia teringat pertemuannya dengan Permaisuri Galuh Cendana di pemukiman tadi bahwa, mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya termasuk senjata, jebakan, dan juga sumber daya yang mereka miliki untuk membuat sejenis pertahanan sekaligus mampu memberikan serangan balik andai jalur ini ditempuh oleh para prajurit dari Paku Bumi yang akan menyerang kerajaan Galuh melalui jalur ini.


Kekompakan antara mantan prajurit yang sangat setia bersama dengan penduduk kampung yang lari dari kadipaten Gedangan itu memang patut untuk diacungi jempol.

__ADS_1


Baik itu laki-laki, wanita, orang tua, bahkan anak-anak sekalipun ikut mengambil bagian dalam kerja-kerja mereka kali ini.


"Bagaimana Kakang Senopati? Apakah menurutmu mereka akan melewati jalur ini menuju ke kerajaan Galuh?" Tanya Panglima Rangga kepada Arya Prana.


"Ini adalah jalan satu-satunya yang terdekat menuju Kerajaan Galuh andai Gusti Prabu Rakai Galuh berhasil mendirikan benteng di kadipaten Karang Kencana. Selain itu, kita juga harus memasang jebakan di kawasan hutan lembah jati. Ketika mereka mencoba untuk membuat jalan baru merentas hutan jati, di sanalah kita persiapkan kuburan untuk mereka. Andai kita kalah, setidaknya sepuluh ribu pasukan Prajurit Jaya Pradana terkubur di sana menemani kematian kita," kata Senopati Arya Prana.


Pilihan memang serba sulit. Namun jika tidak berbuat sama sekali, apa bedanya dengan bunuh diri.


"Dinda Rangga. Menurut mu, sebagai seorang yang pernah memimpin pasukan besar, apakah Dinda mempunyai pandangan atau usulan lain terkait tentang sebuah pertahanan?" Tanya Senopati Arya Prana. Dalam ketentaraan, sudah pasti masing-masing dari setiap pemimpin memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Jika perbedaan ini mampu menjadi penyempurna dalam mengambil serta melengkapi sebuah keputusan, apa salahnya bertukar pandang serta pendapat.

__ADS_1


Ketika keadaan darurat, maka cara terbaik adalah menyatukan semua pendapat lalu mengambil kesimpulan setidaknya jalan tengah untuk mencapai kesepakatan dalam sebuah tindakan. Ini lah yang coba untuk dipelajari oleh Senopati Arya Prana.


"Menurut ku, jika memang harus bertahan, maka hal yang paling dasar yang harus kita persiapkan adalah persediaan makanan yang mencukupi. Kita tentu banyak mendengar sebuah kerajaan yang terkepung menyerah sebelum berperang karena tiadanya ketersediaan bahan pangan. Maka dari itu, selain perlengkapan ketentaraan, bahan pangan juga sangat dibutuhkan dalam sebuah taktik pertahanan," kata Panglima Rangga memberikan pendapat serta pandangan nya.


"Hmmm. Benar katamu Dinda. Jika begitu, mari kita ke ruangan penyimpanan. Lalu, kita kirim orang-orang kita untuk membeli jumlah bahan pangan sebanyak yang kita bisa. Setidaknya, cukup untuk beberapa bulan. Gerakkan juga orang-orang dari perkampungan yang kita bawa ke lembah jati untuk menggarap lahan pertanian mereka. Dengan demikian, kita akan memiliki cadangan bahan pangan yang cukup,"


"Mari kakang! Kita tidak memiliki banyak waktu. Sebaiknya, semakin cepat kita bergerak, maka, semakin banyak hal yang bisa kita fikirkan. Itu lebih baik daripada mengambil keputusan dengan cara terburu-buru," kata Panglima Rangga menyetujui.


Setelah semuanya selesai, kini masing-masing dari mereka menempati pos-pos tersembunyi untuk menunggu kalau-kalau benar pasukan dari Paku Bumi akan melewati kawasan yang telah mereka pasang jebakan itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2