
Wuzzz...
Terdengar suara angin bersiur dari senjata kipas berwarna keperakan itu yang mengincar batang leher Datuk Hitam.
Dengan sedikit memiringkan kepalanya, senjata itu luput mengenai sasarannya. Tepat ketika senjata kipas itu lewat di depan hidungnya, Datuk Hitam segera menyentil pergelangan tangan milik Bidadari kipas perak.
Tess..!
"Aw..,"
Bidadari Kipas Perak melompat mundur beberapa tombak sambil melihat ke arah pergelangan tangannya yang kini berubah warna kebiruan akibat sentilan dari jari tangan milik Datuk Hitam.
"Mengapa kalian tidak maju saja berdua sekalian? Itu akan menghemat waktu ku untuk membunuh kalian semua yang berada di tempat ini,"
Perkataan dari Datuk Hitam ini sangat meremehkan sekali. Hal ini yang membuat panas darah muda yang dimiliki oleh Pangeran Indra Mahesa.
Dia langsung melesat menerkam tubuh Datuk Hitam kemudian memeluk tubuh lelaki tua itu erat-erat.
"Eyang Putri! Serang, Eyang!" Teriak Pangeran Indra begitu dia memeluk tubuh Datuk Hitam.
Tampak lelaki tua itu berusaha untuk melepaskan pelukan pemuda itu. Namun, balum lagi dia berhasil..,
Bugh!
Bugh!
Plak!
Suara pukulan dan tendangan bertalu-talu terdengar dari tubuh Datuk Hitam yang saat ini sedang menerima serangan dari Bidadari kipas perak.
"Kurang ajar. Ku bunuh kalian!" Teriak Datuk Hitam sambil mengempos seluruh tenaga dalamnya untuk melepaskan diri dari pelukan Pangeran Indra Mahesa.
"Hiaaaaaah!"
"Argh..,"
Tubuh pangeran Indra Mahesa terbanting ke tanah sambil menggeliat ketika Datuk Hitam berhasil memelintir sebelah tangan milik Pangeran Indra Mahesa lalu mengangkat nya dan membanting tubuh pemuda itu ke tanah.
Tanah bekas jatuhan tubuh pemuda itu terlihat melesak sedalam satu jengkal.
Pangeran Indra Mahesa menyemburkan darah segar dari mulutnya. Terasa dunia bagaikan berputar.
Pangeran Indra berusaha menjaga kesadarannya agar tidak pingsan. Karena, apabila dia pingsan, maka selesailah sudah.
Datuk Hitam kembali melepaskan pukulan jarak jauh ketika bayangan Bidadari kipas perak bergerak hendak menyerangnya.
__ADS_1
Segumpalan angin menderu melanda tubuh kurus wanita tua itu.
Bidadari Kipas Perak kini menghentakkan kakinya ke tanah hingga amblas sebatas betis untuk menahan gempuran deru angin yang dilepaskan oleh Datuk Hitam.
"Lepas!" Bentak Datuk Hitam sambil memperkuat serangannya.
"Aaaaa..," tubuh Bidadari kipas perak terbanting ke tanah dan langsung memuntahkan darah kental dari mulutnya.
"Aku akan mengakhiri hidup kalian semua yang berada di tempat ini," kata Datuk Hitam sambil berjalan dengan maksud menghampiri kedua guru dan murid yang tergeletak di tanah sambil mengerang kesakitan.
Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba dari arah belakang melesat sosok kumal dan langsung memeluk kaki lelaki tua itu.
"Kunti! Cepat bawa Indra pergi dari tempat ini!" Teriak orang yang memeluk kaki Datuk Hitam.
"Belum mati juga kau heh?" Kata Datuk Hitam sambil menendang kakinya ke belakang membuat orang tua yang memeluk kakinya tadi langsung mencelat.
"Guruuuu!" Teriak Pangeran Indra melihat lelaki kurus kering itu terpental.
"Hahaha. Kalian semua akan binasa malam ini juga!" Kata Datuk Hitam lalu menadahkan tangannya.
Ajaib, keris hitam yang terselip di pinggang mayat Jaya Pradana melesat ke arahnya.
"Hahaha. Kelabang Ireng. Kau kembali kepada tuan asal mu,"
Datuk Hitam kini mencabut keris hitam itu lalu meletakkan bilah keris berluk tujuh itu di depan keningnya, lalu turun ke bawah dan mencium nya.
"Bersiaplah kalian menemui malaikat maut!" Kata Datuk Hitam. Tampak matanya berwarna kemerahan penuh aura membunuh.
"Wahai alam, ku seru engkau. Bersatulah dalam jasad ku. Jauh air mengalir, ke muara jua pusatnya. Berasal dari tanah jua tubuh manusia. Kemana jasat tanpa ruh kembali, ke tanah jua kubur nya,"
"Tiada laut hendak ku ukur luasnya, tapi aku mampu merenangi samudra. Jika Angkara murka tidak di tumpas, maka bumi ini akan menjadi neraka bagi orang-orang yang lemah,"
"Ku seru engkau wahai naga yang bersemayam di dalam bilah keris tumbal kemuning. Ku seru engkau. Menyatu 'lah ke dalam jasad ku!"
Malam yang gelap itu kini berubah menjadi terang dari pancaran cahaya kekuning-kuningan dari pamor keris tumbal kemuning yang kini telah terhunus dalam genggaman tangan Pangeran Indra Mahesa.
Ajaib, kini pangeran Indra Mahesa seperti tidak mengalami luka sedikitpun.
Dia kini tampak segar bugar dan dengan kembali memasang kuda-kuda, pemuda itu menanti datangnya serangan yang akan dilakukan oleh Datuk Hitam.
"Hahahaha. Aku menginginkan keris tumbal kemuning itu," kata Datuk Hitam.
"Kau terlalu kotor untuk memiliki, bahkan di dalam mimpi pun kau tidak layak," kata Pangeran Indra Mahesa.
"Kurang ajar. Sudah mau mati tapi masih besar mulut,"
__ADS_1
"Hahaha. Majulah, Datuk Hitam! Akan aku jadikan kau semakin hitam," ejek Pangeran Indra Mahesa memancing kemarahan lawan nya.
"Bersiaplah, Kunyuk!"
Wuzzz!!!
Ting! Ting! Ting!
Kedua senjata sakti tampak berada dengan percikan bunga api dan letupan kecil meningkahi setiap senjata itu beradu.
Baru beberapa kali senjata sakti di tangan dua orang yang sakti itu berbenturan, kini Datuk Hitam langsung melompat ke belakang sambil mengibaskan tangannya yang tiba-tiba mati rasa.
Dia melihat kini senjata miliknya telah gompal di beberapa bagian.
Grauuung!
Terdengar suara meraung panjang ketika sosok bayangan seekor naga keluar dari keris yang berada di tangan Pangeran Indra Mahesa.
Bayangan sosok naga itu melesat ke angkasa, meliuk-liuk sebentar lalu menukik tajam ke arah tubuh pangeran Indra Mahesa dan amblas tanpa bekas.
Pancaran cahaya kuning keluar dari tubuh pemuda itu. Lalu, dengan begitu gagahnya, dia langsung mencecar serangannya ke arah Datuk Hitam yang terus menghindar.
Datuk Hitam jelas tidak ingin mengadu senjata lagi. Ini karena, setiap senjata mereka beradu, Datuk Hitam pasti akan merasakan tangannya yang menggenggam keris kelabang Ireng mati rasa.
Sekuat tenaga Datuk Hitam menghindar sambil mencari celah agar bisa melakukan serangan balasan. Namun, sepertinya dia sama sekali tidak memiliki kesempatan.
Tiba pada suatu saat, ujung keris milik Pangeran Indra berhasil merobek bagian wajah Datuk Hitam dari kening sampai ke dagu.
Lelaki tua dedengkotnya golongan hitam itu menjerit berteriak-teriak sambil menutupi bagian wajahnya yang terkena sabetan keris tumbal kemuning.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, Pangeran Indra langsung meluruk ke arah Datuk Hitam yang sudah tidak memiliki pertahan lagi dan menusukkan bilah keris tersebut dari tonggorokan hingga tembus ke tengkuk.
"Hoek!"
"Argh..,"
Tampak tubuh Datuk Hitam menggelepar seperti ayam yang disembelih. Kelojotan lalu diam tak berkutik lagi, alias mati.
Pangeran Indra Mahesa langsung terduduk lemas setelah pertarungan itu selesai.
Kini, orang-orang tampak mendatangi Pangeran Indra Mahesa untuk memberikan bantuan. Terutama, Gayatri. Dia tampak begitu cemas dan langsung menuju ke arah pangeran Indra.
Pangeran Indra mendongakkan kepalanya melihat ke arah orang-orang yang menghampirinya.
Di lihatnya Eyang Santalaya mendekat sambil dipapah oleh Bidadari kipas perak.
__ADS_1
"Sudah selesai. Mari kita pulang!" Ajak Pangeran Indra Mahesa.
Bersambung