Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pecahnya peperangan


__ADS_3

Kreeeeet!


Terdengar suara pintu gerbang benteng yang terbuat dari belahan kayu tebal itu berderek ketika di buka. Dan kini dari dalam tampak berkeluaran para prajurit penunggang kuda, prajurit pejalan kaki dan prajurit pemanah.


Ketika semuanya tiba di luar benteng, mereka mulai mengikuti aba-aba yang diberikan oleh panglima Pratisara.


"Pemanah siap?!"


"Siaaaap!" Jawab para prajurit.


"Lepaskaaaan!"


Begitu suara perintah itu bergema, tampak ribuan anak panah meluncur deras bagai hujan mengarah ke arah pasukan Paku Bumi.


Di kubu pihak musuh pula, begitu hujan panah itu di pertengahan jalan, mereka lalu memayungi diri mereka dengan perisai dalam posisi setengah berlutut sehingga anak panah itu luruh ke bawah tanpa seorangpun yang terluka.


"Panglima! Taktik ini tidak benar. Jika kita menghambur-hamburkan anak panah, maka kita akan kehabisan persediaan. Sementara kita tidak tau kapan perang ini akan berakhir!" Tegur salah seorang perwira.


"Apakah aku atau kau yang memimpin pasukan ini? Jika kau membangkang, akan ku pancung batang leher mu sekarang juga!" Bentak panglima Pratisara tak mengindahkan peringatan dari perwira tadi.


"Celaka jika sudah begini. Bagaimana mungkin seorang Panglima perang bisa melakukan semua ini tanpa perhitungan?" Kata salah seorang lagi perwira menengah.

__ADS_1


"Entahlah. Kita sudah kadung berada di medan perang. Tidak mungkin mundur. Atau kita akan di bokong dari belakang oleh pihak musuh ketika kita membelakangi mereka,"


"Heh! Apa yang kalian bisikkan? Segera komandoi pasukan berkuda lalu lakukan serangan!" Kata panglima Pratisara menegur.


"Panglima! Saat ini mereka hanya menunggu saja. Kita tidak bisa mengorbankan nyawa prajurit berkuda kita dengan menabrak pagar perisai mereka. Mengapa kita tidak menggunakan balistik saja?" Bantah sang perwira.


"Sialan kau! Balistik ada di dalam benteng. Siapa yang akan membawanya keluar?" Maki Panglima Pratisara dengan kemarahan yang memuncak.


"Jika begitu, biarkan mereka yang menyerang kita terlebih dahulu!" Kata sang perwira lagi.


Tak mau berdebat terlalu panjang lebar, panglima Pratisara langsung merampas sebuah busur dan anak panah dari prajurit pemanah lalu mengacungkan senjata itu ke arah perwira yang membangkang tadi.


"Apa maksud dari semua ini, Panglima?" Tanya Perwira tadi tidak mengerti.


Wuzzzz!


Ting!


Tampak anak panah yang dilepaskan oleh Panglima Pratisara luruh ke tanah ketika prajurit itu menangkis lesatan anak panah yang mengarah ke tubuhnya dengan pedang.


"Kurang ajar! Ku bunuh kau!" Kata panglima Pratisara sambil mencabut pedangnya lalu segera menggebah punggung kudanya mengejar perwira tadi.

__ADS_1


Beberapa prajurit tampak berusaha melerai perkelahian sesama antara mereka agar tidak dimanfaatkan oleh pihak musuh.


Benar saja. Ketika perhatian mereka sedang tidak fokus, lesatan anak panah dari pihak Paku Bumi pun menghujani mereka dan hampir setengah dari anak panah itu menemukan sasarannya.


Banyak prajurit yang terluka akibat terkena anak panah yang dilepaskan oleh pihak musuh.


Kini bagai air bah, pasukan dari Paku Bumi yang dipimpin oleh Raka Pati menggempur mereka habis-habisan.


Peperangan pun meletus juga di siang menjelang sore itu dengan ratusan prajurit di kedua belah pihak mulai berguguran. Namun yang lebih mengalami kerugian tentunya dari pihak kerajaan Galuh.


Walaupun dari pihak kerajaan Galuh mengalami banyak kerugian, anehnya malah prajurit dari Paku Bumi yang lari lintang-pukang membuat para prajurit dari kerajaan Galuh merasa heran.


"Mereka telah kalah!"


"Ayo kejaaaar!" Teriak Panglima Pratisara memerintahkan prajuritnya untuk melakukan pengejaran.


Sebagian prajurit yang bersemangat melihat musuh lari pontang-panting mulai akan menggebah kuda mereka untuk melakukan pengejaran. Namun belum lagi mereka terlalu jauh, tiba-tiba dari arah samping muncul lima orang penunggang kuda sambil berteriak.


"Berhenti!"


"Jangan di kejar. Itu adalah jebakan!"

__ADS_1


Para prajurit yang tadi sudah bersiap sedia untuk melakukan pengejaran mulai berhenti dan saling menatap dengan heran antara kelima penunggang kuda yang baru tiba itu dan Panglima Pratisara.


Bersambung...


__ADS_2