
Berita tentang hancurnya kadipaten Pitulung di tangan empat pendekar muda yang dibantu oleh para pejuang lembah jati cukup menyita perhatian baik itu dari rimba persilatan, maupun dari para pembesar istana.
Di keraton Sri Kemuning saat ini adalah pihak yang merasa dirugikan atas hancurnya kadipaten tersebut. Kadipaten yang tadinya memang sudah tinggal oleh ribuan warganya entah kemana kini semakin hancur bahkan sama rata dengan tanah.
Pastinya Jaya Pradana yang merasa paling di rugikan atas kejadian ini.
Braaakk!
Terdengar suara sesuatu di banting ke lantai disertai sumpah serapah yang keluar berhamburan dari mulut Raja Jaya Pradana.
Jika hanya kadipaten saja yang hancur, kemungkinan masih bisa di bangun kembali. Namun, kali ini yang membuatnya begitu murka adalah dengan berita kematian Adipati Aria Seta, Senopati Suta Wijaya, Pembesar Wikalpa. Dan yang paling mengejutkan adalah, bahkan Datuk Marah Lelang pun yang konon terkenal sakti mandraguna juga ikut terbunuh di tangan pendekar muda ini.
"Apa lagi yang kau ketahui Raka Pati?" Bentak Jaya Pradana sambil turun dari kursi kebesarannya dan berjalan di tengah-tengah barisan para punggawa kerajaan yang sedang tertunduk itu.
"Ampun Gusti Prabu. Berita yang hamba dapat dari tilik sandi iyalah, katanya salah seorang dari pemuda yang membunuh Datuk Marah Lelang, menggunakan senjata maha sakti berupa sebilah keris yang pamornya mampu membentuk bayangan seekor naga berwarna kuning keemasan," jawab Raka Pati dengan nada ketakutan.
__ADS_1
"Apa? Apa kau tidak salah dengar atau tilik sandi itu yang salah melihat?" Tanya Jaya Pradana meminta kepastian.
"Ampun Gusti Prabu. Tilik sandi kerajaan semuanya sudah terlatih. Menurut hamba, tidak mungkin mereka salah dalam melihat kemudian mengabarkan berita,"
"Hahahahaha. Huuuahahahaha,"
Entah apa yang dipikirkan oleh Jaya Pradana saat ini, tiba-tiba saja dia tertawa.
Tawa yang menggelegar mengandung pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi itu mampu membuat beberapa guci antik yang ada di ruangan Paseban itu retak lalu terbelah.
"Tumbal kemuning. Hahahaha. Tumbal kemuning..! Setelah tujuh belas tahun tidak terdengar kabar beritanya, akhirnya kau muncul juga. Sudah kehendak Tuhan bahwa aku akan menjadi Raja yang sah di Sri Kemuning ini. Hahaha. Aku lah Tuan mu. Sang penguasa Empat kerajaan sekaligus. Aku lah Raja di Raja mayapada ini!"
"Ampun Gusti Prabu. Memang menurut hamba, senjata yang digunakan oleh pendekar muda itu adalah Keris tumbal kemuning adanya. Ini karena, hamba melihat tanda-tanda bahwa di langit yang begitu terik tiba-tiba meredup dengan sambaran kilat berwarna kuning. Di angkasa juga terlihat bayangan seekor naga meliuk-liuk lalu menukik ke bawah. Menurut perkiraan hamba, itu adalah Kadipaten Pitulung," kata Raka Pati menyampaikan apa yang menjadi firasatnya.
"Lalu, apakah tilik sandi yang kau kirim itu mengetahui kemana perginya pendekar muda itu?" Tanya Jaya Pradana.
__ADS_1
"Hamba Gusti Prabu. Menurut laporan dari tilik sandi, keempat pendekar muda itu menggabungkan diri bersama para perampok dari lembah jati. Hamba menduga bahwa saat ini lembah jati akan menjadi hutan yang sangat berbahaya. Menurut hamba, bisa jadi para perampok ini adalah bekas prajurit yang masih setia kepada mendiang Gusti Prabu Jaya Wardana,"
"Hmmm... Aku memang memiliki kecurigaan yang sama. Rakai Galuh sengaja ingin mempermainkan ku. Dia berdalih bahwa Yunda Permaisuri Galuh Cendana tidak berada dikerajaan Galuh. Tapi dia sengaja mengirim mereka ke lembah jati. Bodohnya aku yang baru menyadari semua ini," kata Jaya Pradana sambil membanting tinjunya.
"Ampun Gusti Prabu. Menurut hamba, kita memang telah menyadari semua itu. Namun, waktu dan fikiran kita memang terpusat terhadap penaklukan kerajaan Setra kencana. Oleh karena itu lah mengapa kita, khususnya hamba, lalai dalam memperhatikan keadaan lembah jati ini," kata Raka Pati.
"Raka Pati. Keadaan ini tidak boleh di biarkan begitu saja. Kau harus segera menuntaskan masalah di lembah jati ini. Bila perlu, gulung seluruh hutan itu dan benamkan ke dasar Bumi!" Perintah Jaya Pradana dengan sangat angkuh.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu. Hamba akan mengirimkan pasukan untuk membatasi serta mengepung lembah jati ini. Biarkan penghuninya mati kelaparan di tengah-tengah hutan belantara itu," kata Raka Pati pula.
Ini lah kekeliruan besar yang dilakukan oleh Raka Pati. Dia ingin mengepung lembah jati dengan tujuan memutuskan para penunggu lembah tersebut dengan dunia luar. Padahal yang tidak dia ketahui adalah, Lembah Jati kini telah berubah menjadi sebuah perkampungan besar layaknya sebuah kadipaten dengan bekal dan persediaan tidak akan habis dalam dua tahun ke depan. Dengan demikian, kepungan selama dua tahun pun tidak akan berpengaruh terhadap para penghuni lembah itu. Justru, mereka terpaksa membagi perhatian sehingga kerajaan Galuh untuk sementara tetap aman sampai mereka berhasil membentuk kekuatan untuk balik melawan jika serangan dari Paku Bumi dan Sri Kemuning menyerang mereka.
"Hmmm... Bagus. Aku akan berangkat menemui guru ku Datuk Hitam di bukit Menjangan. Kau bisa memangku tugas ku sebagai pemimpin selama aku tidak berada di tempat. Mengerti?"
"Hamba mengerti Gusti Prabu!" Jawab Raka Pati sambil mengatupkan kedua tangannya di depan kening.
__ADS_1
Bersambung....